
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu?" Reyhan sedang berada di ruang tengah di rumahnya. Dia berdiri dengan kedua tangan yang di masukkan ke dalam saku celananya. Mata elang Reyhan menatap tajam Cinta yang duduk dengan pandangan lurus menatap meja di hadapannya. Sementara Diana duduk di sebelah kanan Cinta dengan merangkul bahu putrinya itu, sedangkan Soraya duduk di sebelah kiri Cinta dengan mengusap punggung tangan Cinta.
"Kamu tau 'kan, apa konsekuensi dari keputusanmu itu? Apa kamu sudah siap untuk itu?" imbuh Reyhan.
"Pikirkan lagi Sayang, tidak baik mengambil keputusan dalam keadaan emosi, kamu bisa menyesal nanti." Diana mencoba menasehati Cinta sembari mengusap lengan putrinya itu.
Reyhan tampak menghela napas panjang lalu duduk di sofa. Dia terdengar berdecak, "Ck! Ibumu benar, kamu harus pikirkan lagi keputusanmu ini. Kalian harus bicara dulu baik-baik baru ambil keputusan. Karena apa? Karena kamu sedang mengandung anak Rangga, tidak baik jika kamu mengambil keputusan secara sepihak. Rangga ayah kandungnya, dia juga punya hak atas anak yang kamu kandung sekarang."
Reyhan mencoba memberi pengertian pada Cinta, sebenarnya dia sangat lelah sepulang dari kantor tetapi, Cinta memintanya untuk berdiskusi mengenai hubungannya dengan Rangga. Bukannya Reyhan dan Diana tidak mau tahu atau tidak peduli dengan masalah yang terjadi antara Cinta dan Rangga tetapi, mereka hanya ingin bersikap bijak sebagai orang tua. Mereka tidak ingin terlalu ikut campur dalam rumah tangga putra dan putrinya.
Cinta adalah putri mereka dan Rangga juga adalah putra mereka. Terlepas dari fakta kalau Reyhan bukan ayah biologis Rangga tetapi, kasih sayang Reyhan tidak berkurang untuk Rangga.
Mengingat kesalahan yang sudah Rangga perbuat, Reyhan dan Diana bisa saja menyetujui keputusan Cinta tetapi, rumah tangga Cinta dan Rangga akan hancur. Hancur karena sebuah kesalahpahaman, seperti kisah mereka dulu.
"Menurut oma, apa yang dikatakan orangtuamu benar Sayang, ini 'kan hanya salah paham aja, kasih Rangga waktu untuk menjelaskan dulu." Soraya ikut membujuk cucunya.
"Kenapa kalian tidak ada yang mengerti aku, sih? Kenapa kalian membela kak Rangga?" protes Cinta, "yang tersakiti itu aku, kenapa kalian malah lebih peduli sama perasaan kak Rangga?"
__ADS_1
Dengan emosi Cinta bangkit dari duduknya dan meninggalkan semua orang. Amarahnya serasa sudah di ubun-ubun. Dia merasa sangat kecewa. Bagaimana bisa keluarganya lebih memikirkan Rangga daripada dirinya.
"Salah paham? Alasan! Kalau ini memang cuma salah paham harusnya dia tidak melakukannya lagi biar tidak terus-terusan menjadi salah paham." Cinta terus mengomel sembari berjalan menuju kamarnya.
Dengan kesal Cinta menutup pintu kamarnya, lalu mendudukkan dirinya di atas ranjang dengan kedua kaki menggantung dan kedua tangan yang bertumpu pada pinggiran ranjang. Pandangannya lurus menatap langit cerah di luar sana yang terlihat dari jendela kamarnya yang terbuka. Dia menghela napas berkali-kali berusaha meredam amarahnya.
"Apa iya, aku harus memberi kak Rangga kesempatan sekali lagi?" tanyanya pada dirinya sendiri. Pikirannya kembali goyah saat amarahnya mereda.
"Ah tidak! Kalau aku memaafkannya dengan mudah lagi, dia pasti dengan mudah juga mengulangi kesalahannya lagi." Cinta kembali menghela napas. Dia benar-benar bingung harus bagaimana.
"Masuk!" perintah Cinta dengan nada malas sembari melihat ke arah pintu kamarnya. Dilihatnya Reyhan muncul dari balik pintu dan tersenyum ke arahnya.
"Ada apa Yah, tumben ayah mau masuk ke kamarku?" tanya Cinta sekaligus mencibir.
"Ayah hanya ingin memastikan keadaanmu." Reyhan duduk di sebelah Cinta lalu mengusap kepala putri satu-satunya itu dengan sayang.
__ADS_1
"Makasih Yah, aku baik-baik saja," sahut Cinta lemah.
Reyhan menghela napas. "Apa kamu serius dengan keputusanmu tadi?" tanya Reyhan to the point, sama seperti biasanya. Apa pun yang ingin dikatakannya selalu langsung pada pokok pembicaraan, tidak ada basa-basi.
"Tentu saja Yah, aku sangat yakin. Aku sudah memikirkan ini matang-matang." Untuk pertama kalinya Cinta bicara serius dan bertatapan sedekat ini dengan Reyhan. Ternyata benar yang dikatakan orang-orang tentang ayahnya. Wajah tegas dengan sorot mata tajam dan mengintimidasi lawan bicara.
Menyadari hal itu, membuat Cinta bergidik ngeri dalam hati karena memikirkan, bagaimana dulunya Rangga yang nakal menghadapi mata tajam dengan wajah sedingin es di kutub utara milik Reyhan.
"Baiklah, ayah akan siapkan semuanya jika itu maumu. Sebagai orang tua, ayah memang harus mendukungmu. Cuma ayah ingin meminta satu hal darimu, boleh?"
"Apa itu, Yah?"
...****************...
yuhuuu udah bab 107 aja ya guys🤠gak nyadar udah nulis sejauh ini🤗
__ADS_1
Makasi ya buat kalian yang udah mau mampir ke karya aku ini dan udah mau ngasih dukungan dengan bagi2 vote, hadiah dan like juga. Apa pun dukungan dari kalian aku makasih banget pokoknya🥳🥳🥳
...Thanks of all see u next chapter yaðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤,...