
Mata Anin mengedar melihat sekeliling, tempat yang sangat romantis. Lampu kecil kerlap-kerlip menggantung yang menerangi setiap jalan yang Anin dan Bastian lewati, pohon-pohon rindang disekeliling membuat suasana terasa sejuk.
Mungkin ini seperti bukit, jika kita melihat kebawah hamparan lampu kota yang begitu indah dapat kita lihat dari atas saat malam hari.
"Suka! Tapi kamu tau tempat ini dari mana?" Menatap Bastian penasaran.
"Itu gak penting. Yang penting sekarang kamu suka tempatnya dan kita berdua menikmati nya" balasnya tersenyum tampan.
Bastian menggenggam tangan Anin, menuntun nya kesebuah kursi panjang yang menghadap langsung pada pemandangan di bawah nya.
"Wah... Ini indah sekali" ucap Anin menatap takjub.
"Duduk?" Anin mengangguk, lalu mendaratkan bokong nya di kursi sebelah Bastian.
Udara disini sangat sejuk di tambah dengan semilir angin hingga menembus ke kulit. Anin yang memakai turtleneck dengan celana jeans panjang saja masih terasa dingin kepermukaan kulit, untung ia tidak memakai dress jika tidak bisa di pastikan pulang dari sini ia akan masuk angin.
"Aku seneng kalo kamu suka tempat ini. Maafin aku ya, karna kesibukan aku jadi jarang ngajak kamu jalan!" Kata Bastian penuh penyesalan.
"Gak perlu minta maaf. Lagi pula kita bentar lagi nikah, jadi kita bakal sering jalan berdua bahkan ketemu tiap hari" balas Anin tersenyum tulus.
"Makasih ya Nin. Aku beruntung banget punya kamu, kamu selalu pengertian sama aku" menggenggam kedua tangan Anin lembut.
Anin tersenyum mengangguk, sedetik kemudian ekspresi wajah Anin berubah serius. Anin menatap Bastian dalam, "Bas?"
"Hm" kini netra mereka saling beradu.
"Seperti yang kamu tau, pernikahan kita tinggal menghitung hari. Tapi--" Anin menghentikan ucapan nya.
__ADS_1
.
"Kenapa? Kamu menghawatirkan sesuatu?" Tanya Bastian mengeratkan genggaman di tangan Anin.
Anin memberanikan menatap Bastian lekat untuk mengatakan apa yang selama ini ingin ia katakan. Mungkin ini waktu yang tepat menurut Anin. Sebelum memulai kehidupan baru Anin tidak ingin ada kebohongan diantara mereka, Anin juga tidak ingin kecurigaan nya pada Bastian semakin besar.
"Entahlah Bas, aku sendiri bingung mau mulai bicara darimana?" Anin mulai membuka suara, menarik tangan nya dari genggaman Bastian.
"Katakan apa yang kamu pikirkan?" Menatap Anin teduh.
..
Anin menatap lurus, melihat keindahan di depan nya kemudian ia tersenyum tipis.
"Kamu tau? Dulu saat kamu pergi ke Australi, aku merasa separuh dunia ku ikut pergi bersama mu. Aku tidak pernah merasakan hal itu sebelum nya, ada rasa takut yang menyeruak di hati ku. Namun, aku selalu berusaha untuk percaya sama cinta kita. Aku selalu yakin, cinta mu pada ku sangat besar dan itu akan bisa menjaga hati mu, seperti halnya aku yang selalu menjaga hati ini untuk mu" Anin menjeda ucapan nya, kembali menatap ke arah pria disampingnya.
Bastian diam menatap Anin dengan tatapan yang sulit Anin mengerti.
"Saat kamu kembali hingga saat ini entah kenapa aku selalu merasa ada yang ganjal, bahkan saat kita ketemu seperti sekarang ini. Aku merasa ada beban berat disini..." Menunjuk dadanya sendiri, "Seakan itu menghimpit, membuatku sesak. Aku gak tau, kenapa aku merasakan itu saat aku bersamamu?" Luruh sudah air mata nya tanpa bisa ia tahan. Namun, Anin berusaha menenangkan dirinya dan menghapus cepat air mata yang luruh di pipinya.
Bastian masih bergeming, ia terus berperang dengan perasaan nya. Melihat Anin yang tengah menahan tangis nya, ada rasa bersalah yang teramat. Tak tega rasanya melihat Anin yang ternyata menyimpan rasa kecewa terhadap nya. Bastian sadar apa yang di lakukan nya sangat menyakiti Anin, namun ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya pada Anin karna itu akan membuat rasa sakit Anin semakin besar.
.
Bahkan rasanya ia sangat membenci dirinya sendiri, kenapa dulu ia melakukan itu tanpa berpikir perasaan Anin. Wanita yang selalu setia dan percaya padanya, bahkan hati Anin begitu tulus mencintainya ia rela menunggunya walau dirinya tidak pernah memberi kabar pada Anin.
Bastian sudah berjanji saat kembali ia akan memberi kebahagian untuk Anin dan menebus semua kesalahan nya. Tapi, untuk memberitahu Anin yang sebenarnya adalah hal yang paling dihindari nya.
__ADS_1
"Bas aku ingin kamu jujur sekarang, katakan apa yang sebenarnya terjadi sampai kamu tak memberiku kabar sama sekali waktu itu," suara Anin tercekat, dadanya terasa sesak.
"Aku ingin kamu mengatakan yang sebenarnya sebelum pernikahan kita, aku gak mau ada rahasia di antara kita. Aku gak mau kebenaran terungkap setelah kita menikah, aku akan menerima semua yang kamu katakan asal itu jujur tanpa kebohongan sedikitpun" suara Anin bergetar berusaha menahan tangisnya. Namun, tanpa persetujuan nya air matanya luruh kembali di pipinya.
Segera Anin menghapus air matanya kasar, Anin menunduk. Rasanya ia tak mampu lagi melihat ke arah Bastian yang sejak tadi terus menatap nya tanpa bicara sedikitpun. Anin tidak ingin Bastian berpikir jika dirinya lemah, itulah kenapa Anin sekuat tenaga menahan air matanya.
Namun, tanpa diduga air mata nya tak dapat ia bendung lagi, rasa sesak dan kecewa yang sebelum nya bersarang di lubuk hatinya yang paling dalam, seakan kembali kepermukaan seolah meminta penjelasan dari orang yang sudah memberikan rasa itu padanya. Kini terdengar isakan tangis Anin walau kecil, namun bagi Bastian isakan kecil itu sangat menyayat hati nya.
Bastian mengubah posisinya ia berjongkok di hadapan Anin dengan sebelah kakinya ia gunakan untuk menahan tubuhnya. Tangan Bastian terulur menyatukan tangan Anin dan tangan nya.
Kini, Bastian menatap wajah Anin yang tertunduk dengan jelas. Perlahan Bastian menyentuh dagu Anin, mengarahkan pandangan Anin untuk menatapnya.
"Kamu percayakan sama aku?" Ujar Bastian, Anin mengangguk pelan.
Bastian menghapus air mata Anin, mengusap lembut pipi Anin dengan sayang, "Kamu mau tau yang sebenarnya?" Kembali diangguki Anin dengan yakin.
Bastian diam sesaat ia menundukan seraya menutup matanya sejenak. Bastian menghela nafas nya, "aku mengkhianati kamu Nin" ucapnya berat.
'Deg' waktu seakan berhenti berputar, bahkan tubuh Anin menegang seketika. Air matanya meluncur dengan cepat. Angin yang berhembus dengan kuat seolah memberi ketenangan pada Anin, tak membuat amarah yang bergemuruh di hatinya redup.
Bastian melirik Anin yang tengah menatap lurus dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya. Bastian merasakan tubuh Anin bergetar, entah itu karna udara yang dingin atau karna hal lain bahkan nafas Anin terasa berhembus dengan cepat terlihat dari dadanya naik turun.
Anin sadar jika Bastian tengah memperhatikan nya segera menarik tangan nya kasar lantas berdiri. Bastian yang terkejut dengan reaksi Anin pun ikut berdiri, ada rasa takut yang Bastian rasakan saat ini.
...****************...
Sebelum nya author mau minta maaf baru bisa up lagi, semoga kedepannya lancar dan bisa up tiap hari, dukung terus cerita author yang gak ada apa-panya ini ya😊
__ADS_1
Next episode... jangan lupa tinggalkan jejak kalian🤗