
"Kak, kapan kita akan berangkat ke rumah ayah, juga ke Singapura?"
"Kenapa? Apa kamu sudah bosan berkeliling Bali? Bukannya bulan madu itu sebulan, berarti tinggal seminggu lagi dong," sahut Rangga santai sembari merapatkan tubuhnya ke tubuh Cinta, mengecup lembut punggung polos istrinya itu.
Cinta membalikkan tubuhnya menghadap Rangga, mereka masih bergumul di bawah selimut setelah semalaman ber*cinta.
"Bukan, aku sudah sangat merindukan Sunny. Lagipula kita sudah terlalu lama di sini, kamu sudah terlalu lama juga meninggalkan pekerjaanmu."
Rangga tampak berpikir sebentar, sudah tiga minggu mereka tinggal di villa Davin yang ada di Ubud, Bali. Artinya sudah sebulan lebih dia meninggalkan pekerjaannya di Singapura. Cinta benar, sudah waktunya dia kembali untuk bekerja.
"Baiklah, besok kita berangkat ke rumah ayah, terus minggu depannya berangkat ke Singapura, bagaimana? Biar aku bisa menghabiskan waktu bersama Sunny dulu sebelum kembali."
"Yup, aku setuju."
"Baiklah, baiklah, dengan satu syarat."
"Apa itu?"
"Perutku lapar, masaklah untukku," pinta Rangga yang membuat Cinta tersenyum lebar.
"Itu bukan masalah untukku," ucapnya dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
Rangga melepaskan pelukannya, menyibak selimut, lalu bangkit dari ranjang. "Aku yakin itu tidak akan mudah untukmu," cibirnya sambil menyambar boxer dan handuk kimono.
"Kamu meremehkanku, Kak?" tukas Cinta tidak fokus. Matanya dibuat takjub oleh tubuh Rangga yang sedang berdiri membelakanginya. Dia terus memperhatikan gerakan pria yang sedang sibuk mengenakan boxernya itu.
Rangga berbalik dengan senyum jahilnya. "Kalau begitu cepatlah pergi, kalau tidak aku akan membuka kembali boxerku," ucapnya menggoda.
Saat itu juga Cinta menyibak selimutnya, menggoda balik Rangga dengan tatapan menantang dan tubuh polosnya.
Mereka berdua saling bertatapan intens dan tersenyum penuh arti yang hanya bisa dimengerti oleh pasangan yang sedang dimabuk cinta itu.
Rangga melipat kedua lengannya di depan dada, memperhatikan gerakan seksi Cinta yang mengambil br*a dan celana da*lamnya, juga kemeja putih kebesaran milik Rangga dari dalam lemari. Kemudian, mengenakannya perlahan dengan gerakan erotis tanpa mengalihkan pandangannya dari Rangga. Tak lupa Cinta menggulung rambutnya asal dengan menyisakan helaian-helaian nakal yang membuat tengkuk dan lehernya terlihat jauh lebih menggoda.
Sial! Rangga hampir saja tergoda jika saja, perutnya tidak sedang lapar sekarang.
"Baiklah, Tuan Rangga yang terhormat," balas Cinta yang kagum dengan pertahanan diri Rangga yang tumben-tumbenan tidak tergoda dengan pancingannya barusan.
...****************...
Di dapur, Cinta bertemu Bu Kadek yang sedang sibuk memasak. Bu Kadek adalah istri dari Pak Putu, penjaga villa milik Davin yang dia tempati selama liburan di Ubud.
"Pagi Bu Kadek," sapa Cinta sembari mengambil alih pisau dan wortel yang sedang dipegang Bu Kadek.
__ADS_1
"Eh, Nona Cinta sudah bangun?" Bu Kadek tampak terheran-heran sembari melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul enam pagi. Setahunya, Cinta biasanya akan turun jam delapan setelah sarapan siap.
"Bu Kadek, apa aku boleh minta tolong?" Merangkul bahu Bu Kadek dengan manja.
"Apa itu, Nona?"
"Pergilah bersenang-senang dengan Pak Putu seharian ini, ke mana pun yang kalian mau. Kalian berjalan-jalan dan berbelanjalah sepuas kalian." Cinta menyerahkan kartu berwarna hitam berlogo Mastercard kepada Bu Kadek.
Bu Kadek mengernyitkan dahi." Maksud, Nona?"
Cinta mengulum senyum lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Bu Kadek untuk membisikkan sesuatu. "Kalian pergilah, aku ingin berduaan saja dengan Kak Rangga seharian ini." Cinta mengerling nakal ke arah Bu Kadek yang membuat wanita paruh baya itu segera mengerti maksudnya.
"Oh, begitu rupanya. Terima kasih ya, Non." Bu Kadek ikut tersenyum jahil sembari mengambil kartu itu dari tangan Cinta.
Mungkin hari ini mereka berdua akan menghasilkan bayi. Bu Kadek meninggalkan Cinta sembari tersenyum geli dengan pikirannya sendiri.
...****************...
Next gak nih🤭🤭🤭
__ADS_1