
"merasa hebat kamu setelah membuat wajahmu sendiri hancur begitu!" ucap wily setelah mengobati wajah intan yang dibawanya kekantornya
"maaf mas membuatmu repot" ucap intan sambil menunduk dan menahan tangisnya
tapi tak terasa air matanya menetes juga, ia malu dan juga takut
"kenapa menangis? jika sudah merasa hebat harusnya jangan cengeng! masih babak belur tapi segala berantem dikampus pula! bagaimana kalau mama dan papa tahu " ucap wily membuat suara tangisan intan makin keras
"huaaaa jangan kasih tau kak indra, mama dan papa mas, aku mohon" intan ,meraih tangan wily dan mmemohon agar tak mengatakan apapun pada orang tuanya
"mau saya ambilkan microvon biar semua pegawai mendengar tangisnmu, sekalian biar polisi datang dikira saya sedang kdrt" ucap wily seketika intan memelankan suaranya
"coba jelaskan kenapa bisa sampai kamu membuat masalah di kampus?" tanya wily
"aku kesal dia bilang suami aku om-om gendut perut buncit yang menikahi sugar babynya, aku suruh dia diam tapi mulutnya nyerocos kayak petasan kawinan. ya udah aku tarik aja rambutnya yang kayak sapu ijuk itu
lalu dia tak terima dan menamparku, mau mengelak tapi aku ngga bisa jadi beginilah wajahku" tutur intan jujur menjelaskan kronologi pertikaiannya dengan adik mantan pacar suaminya
namun intan tak mengetahui jika bisa sangat kebetulan seperti itu
"maaf ya mas, aku ngga tahu dia adik kak karin! pasti kak karin akan marah sama mas wily nanti" ucap intan tak memikirkan dirinya sendiri
"apa hubungannya dengan karin?" tanya wily merasa aneh dengan pernyataan intan
"kan kak karin pacarnya mas wily, kita kan menikah karena kak karin belum mau menikahi mas kan? nanti kalau kalian akan menikah kita akan segera bercerai begitu kan mas" tanya intan dengan lancarnya mengatkan kata perceraian
"tadi kau begitu membelaku seolah saya ini suamimu, lalu sekarang dengan mudahnya kau akan menyerahkan suamimu pada wanita lain" ucap wily tak habis pikir intan bukanlah wanita yang sangat polos hingga tak mengerti arti pernikahan
selama ini wily bersabar karena berharap intan akan merubah sikap dan cintanya
"ya kan emang mas sekarang suamiku, ya aku ngga terima mas dikatain begitu kalau nanti ya urusan kalian berdua saja" ucap intan
"oke baiklah! sekarang pulang dan istirahatlah dirumah. pak jaja menunggu diparkiran bawah" ucap wily pada intan
"ya sudah, aku pulang dulu ya mas ingat ini rahasia berdua!" ucap intan sebelum meninggalkan ruangan wily untuk pulang
__ADS_1
.
.
.
.
"disini saja pak, nanti saya yang hubungi mas wily kalau mampir kerumah kakak saya" ucap intan yang tak langsung pulang
ia mampir ke rumah kakaknya karena tak mau banyak pertanyaan dari mama mertuanya yang takutnya akan khawatir
"haii juna" sapa intan yang masuk kerumah kakaknya setelah dibukakan pintu oleh pembantu dirumah kakaknya
"mama ada ante ma, ma liat ante mukanya serem" ucap juna pada mama nya yang memberesi mainan anaknya
"tumben kesini siang-siang, wajahmu kenapa dek? wily yang melakukaknnya kakak laporkan pada bang indra" ucap zahra
"kak, jangan! ini bukan salah dia kok. aku habis berkelahi dikampus" ucap intan masih kesal dengan sikap suaminya yang lembut pada musuhnya
mungkin karena riana adalah adik dari mantan pacarnya pikir intan
"ohh iya aku lupa, kak punya nomer ponsel mas wily ngga?" tanya intan ragu-ragu
"kamu ngga punya nomer ponsel suamimu? astaga kalian ini menikah apa main-main sih" ucap zahra yang tak habis pikir dengan adik iparnya
"hehe kami belum pernah saling menghubungi lewat ponsel kak, ayo sini mana nomernya" intan lupa meminta pada suaminya
'mas, aku mampir kerumah kak indra, nanti ngga suah jemput' intan mengirim pesan pada suaminya yang sedang sibuk dikantor akibat kesiangan dan juga kunjungan temannya
'pakai nomer siapa?' balas wily bukannya mengiyakan pesan dari intan
'punyaku, disave ya kali aja tar butuh hehehe' balas intan dan tak ada lagi balasan dari wily
ia menyelesaikan pekerjaanya dengan cepat agar dapat menjemput intan, ada rasa bersalah padanya membiarkan istrinya pulang sendirian
tak lupa wily mengirim pesan pada indra akan datang kerumahnya dan meminta alamat kakak iparnya,
__ADS_1
indra yang sedang tugas pagi maka dengan sennag hati menyambut wily datang kerumahnya
.
.
.
"papa sudah pulang, om wily juga ikut yeeee rumah banyak orang" juna lompat kegirangan
intan yang mendengar nama wily disebut iya langsung berlari kekamar tamu milik kakaknya, ia hanya mengenakan hotpens dan juga kaos milik kakaknya karena bajunya kotor pulang dari kampus tadi
"apa kabar wil?" tanya zahra menyambut adik ipar dan juga teman kuliahnya dulu
"baik ra, dimana intan?" tanyanya tak melihat istrinya
" dikamar, masuk saja kalau mau mandi ada baju ganti bang indra" ucap zahra pada wil
"boleh saya masuk?" izin wily sopan
"masuk aja wil, saya ganti baju dulu ya " ucap indra yang juga akan membersihkan badannya dulu
wily masuk kekamar yang didalamnya ada intan tanpa mengetuk pintu dulu
"kamu marah sama mas hemmm?" tanya wily mendekati intan yang duduk disamping ranjang
"siapa juga yang marah, dan kenapa harus marah" ucap intan membalikan badannya
ia menutupi kakinya sepinggang tak mau wily melihatnya
"kenapa kamu lari dan bersembunyi disini kalau tidak marah" tanya wily sembari duduk disamping intan
"aku,,,, ngga apa-apa mas, kita mau pulang sekarang? aku pakai celana dulu" ucap intan keceplosan
"aahhh maksudnya ganti" ralat intan agar suaminya tak traveling kemana-mana
"ya sudah mas tunggu diluar jangan lama-lama" wily tau intan sedang malu dan istrinya tak marah padanya lalu wily memutuskan untuk keluar dari kamar
__ADS_1
karena sudah cukup malam, wily dan intan berpamitan namun juna tak mau ditinggal oleh intan
juna memaksa ikut dan wily mengiyakan atas izin orang tuanya