Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Rumah sakit Citra Medika


__ADS_3

"Cha, soal kemarin..."


"Sorry Nin gue buru-buru!"


"Tunggu Cha gue mau--"


"Nin, please... Nanti bakal gue ceritain sama Lo tapi gak sekarang!" Ucap Ocha memotong ucapan Anin dengan tegas.


Belum sempat Anin menjawab Ocha sudah lebih dulu pergi. Anin mematung melihat punggung Ocha yang kian menjauh.


Wajah Ocha berbeda hari ini, lebih serius. Bahkan tatapan matanya menyiratkan jika ia sangat lelah, eksfresi nya pun terlihat datar dan dingin.


"Padahal gue cuma mau tanya soal rekaman cctv kemarin" Anin menghela nafas nya, "Yaudah lah nanti aja, mungkin dia emang lagi ada urusan penting" ucap Anin berpositif thinking.


Siang ini Anin pergi sendiri hendak mengisi perut nya, setengah perjalan Anin urung dengan niat awalnya. Ia memutar setirnya, sepertinya hari ini Anin ingin menemui Bastian dan mengajak nya makan siang bersama.


Sesampainya dikantor Bastian, Anin disambut hangat oleh beberapa karyawan disana. Berhubung mereka juga sudah mengenal siapa Anin, Anin berjalan dengan tenang ia menekan lift. Kini Anin sudah berada di depan ruangan Bastian, Anin masuk tanpa mengetuk pintu.


'Klek'


"Udah gue bilang, gue gak mau di ganggu!!" Bentak Bastian cukup keras.


Hingga membuat Anin terkejut, bahkan senyuman dibibirnya pudar begitu saja. Kenapa Bastian sangat marah, apa ada masalah sama pekerjaan nya? pikir Anin.


"Bas?" Ucap Anin bergetar.


Mendengar suara yang ia kenali, dengan cepat mengalihkan pandangan nya. Bastian melihat Anin nampak mematung di dekat pintu ruangan nya dengan wajah tanpa ekspresi dan Anin terlihat ketakutan.


"Anin?" Bastian beranjak mendekati Anin.


Bastian terkejut dengan kedatangan Anin yang tanpa mengabarinya. Ia pikir Anin adalah Rizal, Bastian juga salah karna marah tanpa melihat ke arah pintu.


"Maaf kaya nya aku datang diwaktu yang tidak tepat. Aku gak tau kalau kamu gak mau di ganggu, kalo gitu aku pergi..." ucap Anin dengan suara tercekat menahan gejolak di hatinya.


"Tu--tunggu!" Seketika seara Bastian menghentikan pergerakan Anin yang hendak berbalik.


Bastian menghampiri Anin, saat jarak Bastian semakin dekat, Anin melangkah mundur.


"Maaf! Aku gak tau kalau itu kamu. Aku gak bermaksud membentak kamu seperti itu!" Jelas Bastian dengan lembut.


Anin tidak menjawab. Terlihat dari raut wajah nya jika Anin ketakutan. Dengan cepat Bastian mendekap tubuh yang terlihat bergetar, "Tenang ya, jangan takut. Maaf! Maafin aku, aku bener-bener gak tau itu kamu. Tolong maafin aku!" Ucap Bastian penuh penyesalan.

__ADS_1


Anin masih mencerna semuanya, baru kali ini Anin melihat Bastian semarah itu. Ini juga pertama kali nya Anin mendengar bentakan kasar Bastian. Saat di puncak itu masih bisa disebut normal, tapi sekarang Bastian membuat Anin ketakutan.


"Kalau aku tau kamu yang datang, mana bisa aku ngebentak kamu kaya tadi"


Anin dan Bastian menyelesaikan semuanya dengan tenang. Bahkan mereka sudah kembali seperti biasa, karna niat Anin ingin makan bersama. Akhirnya Bastian memesan makanan secara online, Anin makan dengan sesekali menyuapi Bastian yang masih bergulat dengan laptopnya.


Namun, karna Bastian masih banyak pekerjaan dan ia juga harus meting. Jadi Anin memutuskan untuk pergi.


"Kalo gitu aku pergi ya" ujar Anin.


"Maaf aku gak bisa nganterin kamu!" Sesal Bastian.


"Gak papa aku kan bawa mobil" tersenyum hangat.


Bastian membalas senyuman Anin, ia memeluk Anin sebentar. Setelah itu Anin pergi keluar dari ruangan Bastian. Tepat didepan ruangan Bastian ekspresi wajah Anin seketika berubah datar, senyuman yang sedari tadi ia perlihatkan didepan Bastian seketika lenyap.


Terlihat Bastian berjalan dengan tergesa, lalu masuk kedalam mobil nya yang terparkir rapi. Namun, tanpa Bastian sadari Anin masih menunggu didalam mobil nya disana.


Flashback On


"Bas aku pinjem toilet kamu ya? Kebelet banget!" Ucap Anin menunjukan deretan giginya yang putih.


Ruang Bastian memang terdapat kamar mandi dan ruangan untuk nya beristirahat.


Setelah Anin menyelesaikan kegiatan nya, ia hendak membuka pintu kamar mandi. Namun, tidak sengaja ia mendengar Bastian tengah berbicara dengan seseorang di telpon. Terlihat Bastian begitu frustasi, disela pembicaraan nya Anin mendengar Bastian mengatakan tentang rumah sakit.


"Oke aku bakal jemput kamu, tapi tunggu sebentar Anin lagi ada di sini!" Ucap Bastian pelan.


"...?"


"Iya di kantor ku. Sudah aku tutup, sepertinya Anin sudah selesai" Ujar Bastian kemudian menutup telfon nya.


Flashback off


Hari ini Anin bertekad untuk mengikuti Bastian, Anin ingin semuanya terungkap, Anin tidak mau terus mencurigai Bastian tanpa alasan. Anin juga mau semua bebab berat yang sedari dulu menghimpitnya hilang bersama kebenaran yang ia ketahui.


Bastian mengendarai mobil nya dengan kecepatan normal, begitupun Anin sangat berhati-hati ia tidak mau Bastian sampai mengetahui jika ia mengikuti nya. Walau pelan tapi Anin tidak pernah mengalihkan penglihatan nya hanya pada mobil Bastian.


Jalanan kota yang cukup ramai, walau tidak macet namun itu bagus bagi Anin jadi Bastian tidak akan tau jika ia diikuti.


Hampir 15 metit perjalanan, Bastian berbelok lalu masuk kegerbang sebuah apartemen. Sedang Anin hanya bisa menunggu diluar, Anin sangat hati-hati ia tidak mau ketahuan, jadi Anin lebih memilih menunggu di luar.

__ADS_1


Anin keluar dari mobilnya, "Inikan apartemen Vina. Bastian mau ketemu siapa disini?" Bermonolog sendiri.


Tak lama mobil Bastian keluar, Anin segera mengalihkan wajahnya. Tanpa menunggu lama Anin masuk dan menekal pedal gas mobil nya, ia kembali mengikuti Bastian dengan sedikit lebih cepat karna ia hampir kehilangan jejak.


Anin bernafas lega setelah ia menemukan mobil Bastian tak jauh didepan nya. Kening Anin berkerut saat mobil yang Bastian tumpangi masuk kesebuah rumah sakit.


"Bastian beneran ke rumah sakit. Tapi kenapa?" Gumam Anin semakin penasaran.


Setelah memarkirkan mobilnya, Anin melihat Bastian keluar bersama seorang wanita. Anin tidak bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu karna tertutup oleh punggung Bastian.


"Sial! lagi-lagi gue gak bisa liat wajah tu cewe" gerutu Anin kesal.


Anin semakin menajamkan penglihatan nya, tepat disaat Bastian bergeser 'Deg' dalam seperkian detik tubuh Anin membeku, mata Anin memicing menyakin kan apa yang ia lihat benar.


"Vina?" Ucap Anin tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Vina yang tengah tersenyum ke arah Bastian, tidak bisa membuat Anin berpikir. Rasanya semuanya buntu otak nya berpikir keras namun ia belum bisa menyimpulkan apa yang tengah ia lihat sekarang.


"Mau apa Vina dan Bastian ke rumah sakit? Dan, sejak kapan mereka sedekat itu?" Beragam pertanyaan semakin bertambah di otak nya.


Vina dan Bastian berjalan beriringan masuk kedalam rumah sakit tersebut. Anin segera keluar dari mobil dan mengikuti kemana mereka pergi? Dan apa yang mereka lakukan dirumah sakit?


Anin berhenti sejenak ia melihat plang bertuliskan Rumah sakit Citra Medika. Dengan sedikit berlari Anin masuk kedalam rumah sakit. Anin terkejut melihat rumah sakit yang sangat luas dan besar, pantas dari luar ia melihat rumah sakit ini begitu besar dan memiliki sekitar 10 lantai dengan beberapa jendela berjejer rapi.


Bau obat menyeruak di indra penciuman nya, dan beberapa orang yang berlalu lalang, seketika membuatnya pusing. Anin memijit pelipisnya asal, lalu tatapan nya teralih pada dua pasangan yang Anin yakini itu Bastian dan Vina. Dengan cepat Anin menerobos beberapa orang yang tengah berlalu lalang dan berkerumun, mencari keberadaan Bastian dan Vina.


Anin melihat Vina menggandeng tangan Bastian, memasuki lift. Seketika emosi Anin meluap, detak jantung nya sudah tak beraturan. Antara marah, cemburu, dan bingung menjadi satu. Anin hendak berlari mengejar mereka namun...


'Brukk!'


"Akh!" Anin hampir terjatuh untung ia masih bisa menyeimbangkan tubuh nya.


Terlihat seorang dokter wanita tengah membereskan kertas yang berserakan dilantai. Anin yang sadar sudah menabrak seorang dokter segera berjongkok membantu memunguti kertas yang berserakan. Sesekali Anin melihat lift yang sudah tertutup rapat, ada rasa kecewa dan marah dihatinya kini Anin kehilangan mereka.


Namun, sekarang Anin harus berusaha meredam semuanya ia harus bertanggung jawab atas kesalahan nya.


...****************...


Menurut kalian udah mulai tegang apa masih kurang di part ini...


Jawab dikomen ya. Terimakasih🤗

__ADS_1


O iya, Author juga gak akan pernah bosen buat Like, Vote and tabur mawarnya.. Oke😉


Love sekebon buat para reader tercinta🥰


__ADS_2