
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, Cinta memutuskan untuk pulang lebih awal karena dia harus menyiapkan keperluannya untuk ke pesta Davin nanti malam. Dia merapikan file-file yang berserakan di atas meja kerjanya, menyusunnya rapi, lalu meraih mantel dan tas ranselnya dan bersiap melangkah keluar ruangannya.
Cinta tersenyum ramah pada beberapa bawahan yang menyapanya saat mereka berpapasan sepanjang lorong menuju lift.
Ting!
Cinta masuk ke dalam lift dan menekan nomor lantai dasar. Oleh karena belum jam pulang kantor, Cinta hanya sendirian berada di dalam lift. Cinta melirik cincin pernikahan yang masih melingkar di jari manisnya. Kemudian, tanpa sadar dia memainkan cincinnya itu.
"Aku harap kamu bisa bertemu jodohmu."
"Mereka sangat cocok untuk jadi ayah buat Sunny."
Ucapan Davin terngiang kembali di telinganya.
"Iyakah? Apakah aku harus mulai memikirkan jodohku sekarang dan ayah buat Sunny?" Cinta berbicara pada dirinya sendiri.
Orang-orang di sekelilingnya memang sering menyarankannya untuk mulai memikirkan kehidupan masa depannya. Umurnya masih muda masih pantas untuk memulai kehidupan yang baru lagi. Sunny juga semakin besar, dia sudah mulai bertanya soal ayahnya pada Cinta.
"Bunda, ayah aku mana? Temen-temen sekolahku punya ayah sama bunda. Kenapa aku tidak punya ayah? Kenapa aku hanya punya Bunda?"
Cinta teringat pertanyaan yang Sunny lontarkan padanya. Pertanyaan yang sama seperti dirinya sewaktu kecil yang sering menanyakan ayahnya pada Diana.
Cinta tampak menimang-nimang. "Mungkin sudah saatnya aku melepasmu," ucap Cinta yang saat itu juga langsung berusaha melepas cincinnya bersamaan dengan pintu lift yang terbuka. Sayangnya, begitu berhasil terlepas dari jarinya, cincinnya malah jatuh dan menggelinding tepat menabrak kaki seseorang yang berdiri di depan lift. Cinta terpaku, matanya melebar saat mengetahui siapa orang itu. Ini sungguh di luar dugaannya.
Dia?
Ben membungkuk untuk memungut cincin Cinta.
"Apa ini cincinmu, Nona?" tanya Ben. Ben mengerutkan dahinya karena Cinta hanya terdiam memandangnya.
"Nona? Apa ini benar milikmu?" tanya Ben lagi sembari menyodorkan cincin itu ke wajah Cinta.
"Nona? Nona?" Ben melambaikan tangannya di depan wajah Cinta, hingga Cinta kembali pada kesadarannya dan keluar dari lift.
__ADS_1
"Apa ini benar milikmu?"
"Ah iya Tuan," jawab Cinta gugup. Dengan canggung dia mengulurkan tangannya untuk meminta cincinnya.
"Owh, ini." Dengan tersenyum ramah Ben mengembalikan cincin Cinta.
"Terima kasih," ucap Cinta kaku. Entah kenapa dia merasa gugup saat berhadapan dengan Ben, padahal Ben bersikap ramah padanya.
"Sama-sama," balas Ben sebelum mengangkat panggilan telepon di ponselnya.
"Ya, halo."
"...."
"Gue sudah di lobby," ucap Ben sembari menjauh dari Cinta untuk menuju pintu keluar dimana sebuah mobil telah menunggunya dan seorang pria keluar dari mobil itu. Mereka saling rangkul dan menyatukan tinju mereka.
"Hm, lumayan," jawab Ben.
"Sorry, jalanan macet." Pria itu tertawa pelan. "Eh Ben, loe kenal cewek itu?" Menunjuk Cinta yang mematung memperhatikan mereka melalui sorot matanya.
"Tidak, tadi hanya kebetulan cincinnya jatuh di kaki gue terus gue ambilin."
"Tapi dari tatapannya kayak dia udah kenal lama sama loe."
"Ah loe terlalu mendramatisir. Udah kita berangkat. Gue harus menyiapkan banyak hal untuk pesta nanti malam."
Mereka lalu masuk ke dalam mobil, mengabaikan Cinta yang masih mematung di tempatnya.
__ADS_1
Mungkin hanya mirip....
...****************...
Malam yang ditunggu akhirnya tiba.
"Kamu sudah datang, Cinta?" sapa Davin.
"Iya Om, maaf aku terlambat."
"Never mind, ayo kita masuk! Seseorang sudah menunggumu di dalam." Davin tersenyum penuh makna. Namun, tidak dengan Cinta. Dia merasa ada sesuatu yang aneh dari ucapan Davin barusan.
Seseorang? Menungguku? Siapa?
Davin menuntun Cinta memasuki ballroom tempatnya mengadakan pesta. Di sana suara musik terdengar lebih menggema dengan gemerlap lampu dan dua orang DJ yang sibuk memainkan alat-alat musik mereka di tengah kerumunan tamu-tamu yang menggoyangkan tubuhnya tidak karuan. Davin menyulap ballroom hotel miliknya menjadi kelab malam. Cinta yakin sebagian besar dari tamu-tamu itu sudah tidak sadarkan diri. Jujur, Cinta mulai merasa risih.
Dalam benaknya dia berpikir kenapa Davin membuat pesta seperti ini? Bukankah hal semacam itu sudah tidak pantas di usianya yang sekarang. Bukan hanya itu, tamu-tamu yang hadir di sana juga rata-rata berusia di bawah tiga puluhan. Sangat jauh dengan usia Davin.
Davin menepuk bahu salah seorang pemuda yang tangan kirinya tengah merangkul pinggang seorang gadis sedangkan tangan kanannya memegang gelas berisi *wine.
"Daddy*!" panggil pemuda itu setelah dia memutar tubuhnya ke arah Davin.
"Apa kau terlalu menikmati pestamu sampai tidak menyadari kedatanganku?" cibir Davin pada pemuda itu yang ternyata adalah putranya.
"Ah maaf, Daddy. Aku hanya sedang menyapa teman-temanku," jawab pemuda itu sembari melirik Cinta. Dia menatap Cinta dengan menautkan kedua alisnya. Begitu juga dengan Cinta yang tampak sama kagetnya saat bertemu pandang dengan putra Davin.
"Kamu?"
...****************...
Kalau readers yang mengikuti kisah Diana pasti sudah tau dong Davin itu siapa yağŸ¤
Ok next
__ADS_1