
✨happy reading✨
Rangga terbangun saat dirasa tangan seseorang mengusap pipinya. Perlahan dia membuka kelopak matanya dan mengerjap pelan.
Samar-samar dilihatnya seorang gadis tengah duduk di atas kursi yang terletak di sebelah bed tempatnya berbaring, dan gadis itu tengah tersenyum manis menatapnya.
"Kamu sudah bangun?" sapa gadis itu lembut.
"Hm, Nes, kenapa aku bisa di sini?" tanya Rangga bingung saat menyadari dirinya tengah terbaring di bed pasien dengan selang infus menancap di punggung tangan kirinya.
"Dokter bilang kamu kena tifus, badan kamu panas tinggi dan lemah, tadi aku nemuin kamu setengah sadar di ruanganmu." Agnes menjelaskan kepada Rangga tentang kondisinya tadi di kantor.
"Tifus?" kagetnya.
"Kata dokter kamu terlalu kecapean. Aku rasa juga begitu. Terus aku perhatikan juga kamu jarang makan siang akhir-akhir ini."
"Siapa yang membawaku ke sini?"
"Aku sama Pak Gilang."
"Owh, makasi Nes, di mana Gilang sekarang?" Rangga mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sosok Gilang.
"Pak Gilang baru saja keluar untuk menerima telpon."
"Owh, jam berapa sekarang?"
"Jam dua pagi," jawab Agnes setelah melihat alroji di tangannya.
__ADS_1
"Kamu gak pulang? Kasian Angga, dia pasti menunggumu. Aku akan minta Gilang mengantarmu."
"Gak usah Ga, aku tadi udah minta Dinar untuk jaga Angga. Aku udah bilang gak bisa pulang karena harus jagain kamu." Agnes kembali tersenyum manis.
"Di sini ada Gilang yang jagain aku. Lagipula, Gilang pasti sudah nelpon orangtuaku buat nemenin aku di sini. Kamu pulanglah tar sama Gilang," ujar Rangga dengan suara parau.
"Ijinkan aku untuk nungguin kamu di sini, setidaknya sampai orangtuamu datang."
"Tapi, Nes ...."
"Hanya malam ini saja. Ijinkan aku membalas apa yang sudah kamu lakukan untukku dan Angga."
"Aku melakukan itu tulus. Justru apa yang aku lakukan untuk kalian itu karena ingin menebus rasa bersalahku di masa lalu padamu." Rangga tersenyum tulus pada Agnes yang justru menjadi berkaca-kaca setelah mendengar pengakuannya.
"Enggak Ga, kamu gak salah. Sudah takdirku seperti ini." Agnes tersenyum miris. Butiran bening mulai melesak keluar dari kelopak matanya.
"Tidak Ga, kamu tidak perlu melakukan itu. Mas Seno itu orangnya keras kepala. Kamu hanya akan membuang-buang waktumu."
"Seno harus bertanggung jawab. Kamu dan Angga berhak bahagia," tegas Rangga.
"Aku bahagia Ga, aku bahagia bukan karena Seno tapi karena kamu. Aku bahagia walau hanya dengan melihatmu saja," jawab Agnes pilu. Air mata kembali deras mengalir di pipinya.
Rangga tersenyum tipis lalu mengulurkan tangannya mengusap air mata Agnes.
"Jangan berharap padaku, Nes. Seluruh hati dan jiwaku sudah milik istriku."
"Aku tau itu Ga, aku bisa melihat itu dari matamu." Agnes memaksakan senyum di bibirnya. Penolakan Rangga rasanya lebih menyakitkan dibanding saat Seno menolak keberadaan dirinya dan Angga.
__ADS_1
"Maafkan aku," ucap Rangga dengan rasa bersalah. Dia dulu yang mengejar Agnes, memaksa gadis itu untuk menyukai dirinya hingga Agnes menjadi tergila-gila. Kemudian, dia tinggalkan Agnes disaat lagi sayang-sayangnya tanpa pesan apa pun.
"Tidak Ga, aku yang tidak bisa mengontrol perasaanku. Harusnya aku melupakanmu dan belajar membuka hati untuk suamiku. Mas Seno pantas melakukan ini padaku." Agnes menunduk menyusut sudut matanya.
"Harusnya Seno berusaha mendapatkan hatimu bukan menyalahkanmu," hibur Rangga.
Agnes menghela napas dalam. "Sudahlah, kenapa jadi membahas mas Seno." Dia tersenyum tipis. "Kamu mau apa?" tanya Agnes saat dilihat Rangga berusaha bangkit dari tidurnya. Dia langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Rangga duduk dan menaruh bantal di punggung Rangga sebagai sandaran.
"Makasi Nes, aku cuma mau ambil minum." Rangga berusaha meraih gelas di atas nakas yang ada di sebelah bed. Namun, Agnes lebih dulu mengambilkannya.
"Makasi Nes," ucapnya lagi yang dibalas senyum oleh Agnes.
"Sudah?" tanya Agnes saat melihat Rangga berhenti meneguk air dalam gelas di tangannya.
"Sudah," angguk Rangga.
Agnes lalu mengambil kembali gelas di tangan Rangga untuk menaruhnya lagi di atas nakas. Kemudian membantu Rangga untuk berbaring lagi.
"Makasi Nes," ucap Rangga lagi.
"Iya, dari tadi itu terus deh yang kamu bilang." Agnes tersipu malu.
"Iya, 'kan ...."
"Lho, Cinta, kamu kok malah diem di sini, gak masuk?"
__ADS_1