
Hai guys, aku datang lagi. Novel baru aku udah tayang judul "Terjebak Cinta Sang Casanova" mampir yuk, ini cuplikan babnya ya
💞Terjebak Cinta Sang Casanova 💞 Lady RK 💞
Happy reading,
“Thank you.”
Gadis bergincu merah itu mengecup pipi pria yang masih bertelanjang dada di balik selimut. Pria itu tengah terduduk dengan bersandar di kepala tempat tidur, memamerkan badan atletis bagian atasnya.
“Benar apa yang dikatakan Lala, selain sangat tampan, kau juga sangat hebat di ranjang, Langit.”
“Pergilah!” perintah Langit. Tidak menghiraukan ocehan gadis yang baru saja menemaninya one night stand.
“Oke. Jika kau menginginkannya lagi, aku sangat siap Sayang,” ujarnya dengan suara basah. Dia pun mengerling nakal, memainkan rambutnya, menggoda sembari mengigit bibir bawahnya dengan sensual.
Langit mengambil sebatang rokok di atas nakas dan menyalakannya, lalu berkata, “Aku tidak suka memakai orang yang sama untuk permainan berikutnya.”
Gadis itu tampak kecewa, tetapi sesaat kemudian dia tersenyum. “Ini nomorku. Siapa tahu kamu berubah pikiran.” Tangan lentiknya menempelkan kartu nama di dada bidang Langit.
Langit tidak merespon, ia menghisap rokoknya dengan santai.
“Baiklah, aku permisi.” Dia mengecup pipi Langit sekali lagi sebelum benar-benar beranjak dari tempat tidur.
Sepeninggal gadis itu, Langit memutuskan untuk membersihkan diri. Butuh waktu dua puluh menit untuk dia melakukan aktivitasnya itu.
“Oh, God!” Langit terlonjak kaget ketika keluar dari pintu kamar mandi. Tiba-tiba ibunya, Anggun sudah berdiri di hadapannya dengan tampang kesal.
“Mama mengagetkanku saja.”
“Jadi, ini alasanmu tidak ingin tinggal di rumah? Biar kamu bebas bermain-main dengan gadis-gadis?” Kedua tangan Anggun mengangkat sebuah br*a dan underwear berwarna hitam.
“Dari mana Mama mendapatkan ini?”
Langit segera merebut kedua benda privasi itu dari tangan ibunya. Dia segera menuju tempat sampah dan membuangnya di sana.
“Mama tidak sengaja melihat seorang gadis keluar dari apartemen ini, lalu menemukan itu di bawah tempat tidurmu.” Anggun menggeleng, seolah tidak percaya dengan apa yang ditemukan di kamar putranya.
Sementara dalam hati, Langit tengah mengumpat gadis yang baru saja tidur dengannya, gadis itu sudah teledor meninggalkan benda-benda privasi di kamar.
Beruntung ibunya yang menemukan, bagaimana kalau ayahnya? Bisa-bisa nama Langit dicoret dari kartu keluarga.
“Oh, God, Dummy. Bagaimana kalau ayahmu mengetahui kelakuanmu yang ini?” Anggun memijat kening. Tidak tahu harus berkomentar apa mengenai kenakalan putranya. “Kau tahu resiko dari se*ks bebas, ‘kan?”
“Tenang Ma, aku tidak pernah lupa pakai pengaman,” jawab Langit santai sambil meraih gelas air putih di nakas, lalu menenggak habis isinya. “Ngomong-ngomong, ada apa Mama pagi-pagi sudah ke sini?”
“Mama diminta Papa untuk menemanimu belanja keperluan kerja. Besok kau sudah harus ikut mengurus perusahaan.”
__ADS_1
*****
Elvan menghentikan langkahnya, usia yang sudah kepala empat membuat staminanya tidak lagi sekuat dulu. Dia membungkuk sedikit sembari memegang dada, napas terengah diiringi detak jantung yang tidak karuan.
Ke mana dia? Kenapa cepat sekali perginya? Apa aku salah lihat? Atau mungkin halusinasiku saja? Tidak. Aku yakin tadi itu Kanaya.
Pandangannya masih berkeliling, mencari Kanaya di antara banyaknya pengunjung mall yang berlalu-lalang di area lobby.
“Van?” Seseorang menepuk bahunya dari belakang. Sontak Elvan menoleh. Sarah dan Anggun sudah berdiri di belakangnya bersama Lily, putri mereka yang berumur sebelas tahun.
“Kau kenapa seperti orang bingung begitu?” tanya Anggun heran.
“Aku sedang mencari seseorang, tapi entah ke mana.”
“Siapa?” selidik Sarah.
Elvan terhenyak. Tidak mungkin dia mengatakan yang sebenarnya pada Sarah. “Sudahlah, lupakan. Sepertinya aku hanya salah lihat. Kita pulang saja. Sudah selesai semua, ‘kan?” Elvan melirik belanjaan mereka di dalam troli yang di dorong dua petugas mall.
“Iya, sudah. Kau menjemput kami tepat waktu,” kekeh Anggun. “Ayo, ke mobil.” Anggun memberi kode dua petugas mall untuk mengikuti mereka menuju mobil Elvan.
“Langit mana?” tanya Elvan saat membuka bagasi mobil. “Dia tidak ikut pulang bersama kita?”
“Dia bilang pulang sendiri. Tadi buru-buru ngejar temannya di dalam.”
*****
Cahaya baru keluar dari toilet wanita yang ada di sebuah mall. Dia memerhatikan pantulan wajahnya di cermin yang menggantung di atas wastafel sembari mencuci tangan. Besok dia mulai bekerja. Jadi, hari ini dengan diantar ibunya, Cahaya berbelanja untuk keperluan bekerja besok. Setelah selesai mengeringkan tangan, dia berbalik menuju pintu keluar toilet.
“Hai, Sweetheart!”
“Kau!” Manik Cahaya melebar begitu mengetahui siapa pelaku yang sudah memerangkap tubuhnya di dinding.
“Ya, aku. Kita ketemu lagi,” ucap Langit dengan suara serak mendayunya. Dia menyeringai saat maniknya meneliti setiap pahatan yang tercipta di wajah Cahaya.
“Apa yang kau lakukan? Minggir!” peringat Cahaya geram. Dengan cepat dia mendorong dada Langit berencana memperbaiki posisinya. “Ngapain kamu di toilet cewek? Pasti mau mengintip cewek yang di dalam, ‘kan?” tuduhnya.
“Aku senang kita bertemu lagi. “ Langit tersenyum. “Pertemuan kita yang pertama kurang baik, right? I’m sorry for this,” ucapnya tanpa memerdulikan peringatan dari Cahaya. Bahkan dengan lancangnya, dia membelai bibir tipis nan merah muda alami milik gadis itu. “And for this,” lanjutnya.
Cahaya menahan napas, apa yang Langit lakukan secara tidak sengaja membawa ingatannya kembali pada insiden malam itu. Darahnya kembali mendidih.
“Sepertinya tamparanku kemarin kurang keras hingga tidak mampu membuatmu cukup waras.” Cahaya membalas dengan suara ketusnya.
“Maybe—pikiranku selalu tertuju padamu setelah malam itu. Senyum manismu, bibir tipismu, lalu … lesung pipi ini.” Langit mengusap cekungan yang terletak di tengah-tengah pipi Cahaya.
“Berhenti bersikap kurang ajar!” peringat Cahaya lagi.
“Aku—Langit. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat, boleh?” Langit sepertinya tidak peduli dengan peringatan Cahaya. Pria itu semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Cahaya, sampai tidak ada jarak dengan hidung runcing keduanya saling beradu.
__ADS_1
Cahaya tidak menjawab. Detak jantungnya tiba-tiba bertalu tidak seirama. Pria di depannya ini bukanlah pria jelek, hanya saja pertemuan pertama mereka yang berkesan buruk.
Langit memang berpenampilan urakan yang sialnya membuat dia justru terlihat lebih menawan. Rambut gondrong, tindik di telinga, celana jins panjang model robek-robek, dengan kaus putih dilapisi jaket denim. Warna kulit tan menunjukkan kemaskulinan si pemiliknya. Rahang kokoh, hidung mancung, bibir tipis berwarna merah untuk ukuran seorang pria. Jangan lupakan jambang tipis yang tumbuh di sekitar wajah, menambah keseksian pria itu. Belum lagi ketika kedua sudut bibir Langit terangkat, senyumnya terlihat sempurna dengan gigi taring yang unik.
“Apa aku boleh mengenalmu lebih dekat, Cahaya?” ulang Langit bertanya saat Cahaya hanya terdiam, larut akan pikirannya sendiri mengenai pria yang tengah memerangkap rapat tubuhnya di dinding.
“Ehem.”Cahaya berdehem untuk menetralkan suaranya. “Aku tidak suka berkenalan dengan pria sepertimu.” Dia menyunggingkan senyum miring.
Langit tertawa rendah. “Selain ketus, kau sangat mengesalkan rupanya.” Maniknya memerhatikan bibir Cahaya yang mengulum senyum. “Makan malam?” ajaknya tanpa kenal menyerah merayu Cahaya.
“Aku rasa selain brengsek, kau juga tuli. Kau tidak mendengar peringatanku sejak tadi.” Cahaya menatap tajam, lekat ke manik Langit. Kesabarannya terasa sudah habis. Sedari tadi dia berusaha berontak, melepaskan diri dari himpitan tubuh Langit, tetapi pria itu menghimpitnya semakin kuat. Jadinya, dia hanya bisa mendelik marah. “Aku heran, kota ini sangat luas, mall banyak, tapi kenapa kau harus datang ke mall yang sama hingga kita ketemu lagi?”
Langit tersenyum miring seraya menyugar rambutnya. “Kalau keadaan sudah seperti ini haruskah kuberitahu lagi jawabannya.” Kedua alis pria itu terangkat. “Ini tandanya kita berdua berjodoh. Belum ada yang punya, ‘kan?”
Cahaya memutar bola mata malas. “Berjodoh? Sama badboy kayak kamu? Big no!” tolaknya lugas, “never ever!”
Langit terdiam. Bibirnya terkatup rapat.
“Kau sudah paham sekarang?” cibir Cahaya.
“Tidak. Justru aku ingin mengulang malam kemarin,” bisik Langit dengan sedikit memiringkan wajahnya, semakin menipiskan jarak mereka berdua.
Cahaya berubah panik. Pupil matanya melebar ketika bibir Langit semakin dekat. Tinggal beberapa inci lagi bibir mereka akan menyatu.
Namun,
bugh!
“Aw! Masa depanku!" pekik Langit. Dia melepaskan cengkeraman pada kedua tangan Cahaya, lalu membungkuk, memegang aset pribadinya yang ditendang gadis itu.
Tidak sampai di situ, dengan gesit Cahaya memegang kedua bahu Langit, menyapukan kaki kanannya ke belakang kaki kiri Langit, mengunci lekuk lutut bagian belakang, dan ….
Tubuh Langit terkapar di atas dinginnya lantai toilet. Cahaya membantingnya.
“Ini peringatan terakhir dariku. Aku harap kita tidak pernah bertemu lagi setelah ini.” Kedua tangan Cahaya masih mengunci kedua lengan Langit. Senyum sinis tersungging.
Langit hanya menatap Cahaya. Gadis itu berdiri tegak kembali, menyapukan kedua telapak tangan, lalu meninggalkannya yang masih mengerjap tak percaya.
“Wow, nice. We’ll see, Sweetheart. You’re my crush.” Dia meletakkan satu tangan di belakang kepala sebagai bantalan. Lalu tergelak, menertawakan diri sendiri. Tidak pernah terbayangkan, Cahaya menguasai ilmu bela diri. Ini pertama kalinya seorang wanita menolaknya bahkan membantingnya seperti tadi. Luar biasa ajaib! Hanya Cahaya yang bisa seperti itu.
Beberapa wanita yang keluar toilet menatapnya heran, tetapi Langit tidak perduli.
“Kamu nggak kenapa?” Setelah beberapa menit berlalu seorang gadis mengulurkan tangannya, membantu Langit berdiri.
Langit tersentak, tetapi segera menerima batuan gadis itu. “Terima kasih Nona,” ucapnya setelah berdiri tegak kembali.
Gadis itu melempar senyum manis.
__ADS_1
Merasa mendapat sinyal, Langit mengerling, sudut bibirnya terangkat sebelah. “Maukah kau ikut bersamaku? Kita pergi ke tempat yang lebih nyaman.”