
Berjalan beriringan dengan posisi Citra masih bergelayut manja ditangan nya, Derald membuka perlahan pintu kamar. Tampaklah ruangan luas yang didominasi warna putih abu, terlihat bersih dan rapi tak banyak barang di dalam.
Ranjang berukuran queen size, satu sofa panjang dan meja yang mengarah langsung pada tv besar didepan nya. Di samping tempat tidur juga ada sebuah meja dengan laptop serta beberapa tumpuk buku dan berkas diatasnya, terdapat sebuah bingkai foto Derald bersama adik kecil nya terpajang disana. Terdapat balkon yang menghadap ke kolam renang di belakang rumah.
Sebuah lemari dengan banyak buku yang tersusun rapi, dan sebuah ruangan berpintu kaca tempat ia menyimpan baju, sepatu dan keperluan lain nya.
"Akhh... Enak nya" Citra menghempaskan tubuhnya di kasur Derald yang empuk.
"Kamu ngapain sih Cit, udah sana Kakak mau mandi terus istirahat" usirnya Derald.
"Yaudah kalau Kakak mau mandi tinggal mandi aja. Aku cuma mau tiduran bentar kok disini" balas Citra.
"Enggak! Kamu itu udah besar, gak malu apa? Udah sana keluar, bukan nya belajar juga!" Menarik-narik tangan Citra.
"Ahh.. gak mau!" Tolak Citra menahan dirinya sekuat tenaga.
Namun apalah kekuatan nya tak sebanding dengan Kakak nya, akhirnya Derald berhasil membuat Citra beranjak dari tempat tidurnya. Derald mendorong pelan punggung adik nya itu sampai ke depan pintu kamar nya.
"Kak DERALD!!" Teriak Citra, setelah Derald berhasil menutup pintunya kembali.
"Huhf"
Setelah berhasil mengusir adik satu-satunya itu dari kamarnya, Derald bergegas ke kamar mandi. Rasanya ingin sekali segera membersihkan tubuhnya dan menjernihkan segala beban yang mengganggu pikiran nya.
Derald sudah selesai mandi kini ia sudah lebih segar dengan rambut yang masih sedikit basah. Derald menatap dirinya didepan cermin, memperhatikan penampilan nya. Karna ini sudah malam Derald memakai pakaian santai saja.
"Kenapa aku terus memikirkan nya? Kenapa rasanya sulit sekali melepas nya?" Gumam Derald bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Mencintai wanita yang tidak bisa menjadi miliknya ternyata itu sangat menyakitkan, bahkan Derald sendiri belum sempat mengatakan perasaan nya, jelas Derald sendiri tau jika wanita yang ia cintai itu mencintai pria yang berstatus tunangan nya. Namun, ia berusaha menerima jika wanita yang ia cintai akan menjadi pria lain seutuhnya.
Ada rasa sesal, mengapa ia harus muncul disaat yang tidak tepat. Mengapa Derald terlambat mengenal Anin? Andai pertemuan nya dengan Anin itu sebelum Anin bertemu tunangan nya, mungkin saat ini Derald lah pemilik hati Anin.
Itulah keyakinan seorang Derald, padahal dirinya sama sekali tidak tau bagaimana perasaan Anin pada nya.
"Kak Derald... Di tunggu Mommy dimeja makan!!" Teriakan Citra membuyarkan lamunannya.
"Kak buruan..." Teriaknya lagi di depan kamar Derald.
"Berisik banget sih kamu!" Ketus Derald, setelah membuka pintu kamarnya.
"Abis nya lama, aku udah laper tau" balas Citra tak kalah ketus.
"Lagian siapa suruh kamu nunggu Kakak, kalo udah laper yaudah sana makan..."
"Iya mau nya gitu. Tapi Mommy mau makan bareng Kakak" gerutunya merengut sebal.
Karna gemas Derald pun, mencapit kepala Citra dan menyembunyikan di ketek nya.
"Kakak ihh bau tau... Lepas!!" Ucap Citra dibalik ketiak Derald. Namun, Derald tak menghiraukan ucapan Citra, mana ada bau orang dirinya baru saja mandi. Pikir Derald tersenyum jahil.
Kakak beradik yang terpaut 8 tahun itu saling mengejek bahkan sesekali Derald mengacak-acak rambut adiknya.
__ADS_1
"Mommy... Liat Kak Derald gangguin Citra mulu" adunya merengut sebal, seraya merapikan rambutnya karna ulah Derald.
"Eh, apa gak kebalik?" Ujar Derald. Namun, Citra hanya mendelik kesal.
"Sudah-sudah. Kalian ini, kalo udah ketemu kaya Tom and Jerry" Ucap Davian.
"Dan kamu Citra, giliran Kakak kamu gak pulang aja ditanyain mulu. Kapan Kakak pulang ke rumah? Huh.. Mommy sampai bosen mendengarnya" balas Tamara.
"Beneran Mom?" Tanya Derald antusias.
"Hem" dengan anggukan kecil.
"Mommy..."
"Uhh,, manis sekali adik ku ini" goda Derald, mencubit pipi Citra.
"Akhh... Sakit!" Mengusap-usap pipinya yang terasa panas.
Davian dan Tamara hanya menggeleng seraya terkekeh pelan. Kini mereka mulai menikmati makan malam nya.
"Daddy, tadi siang Mommy ketemu seseorang loh" ucap Citra di sela makan nya.
Seketika Davian menghentikan makannya, menatap tajam ke arah Tamara.
"Siapa?" Tanya nya dingin bukan pada Citra melainkan kepada istrinya.
Tamara hampir tersedak melihat tatapan dari suaminya yang seakan menusuk sampai ke jantung nya. Citra yang melihatnya tertawa geli, sedangkan Derald hanya tersenyum tipis kemudian melanjutkan makanan nya kembali.
"Itu... Kamu jangan salah paham, aku hanya bertemu teman lama ku" jawab nya seraya melirik Citra, namun Citra malah mengalihkan pandangan nya seraya menggulum bibirnya menahan tawa.
"Dasar anak durhakim!" Batin Tamara, mendelik tajam.
"Laki-laki?" Menyelidik dengan nada dingin.
"Bukan! Teman ku perempuan" jawab Tamara cepat.
"Kamu gak bohong kan?" tanya nya lagi menatap tajam.
"Kamu gak percaya sama aku?" Menatap teduh suaminya. Davian menatap mata istrinya mencari kebohongan disana, namun nihil.
Davian menatap Citra tajam, sepertinya putrinya itu tengah mengerjainya. Namun, yang ditatap malah tertawa puas.
"Iya Daddy, temen Mommy itu perempuan" ucap nya tertawa.
"Anak nakal!" Celetuk Derald.
"Wlee.." Citra menjulurkan lidahnya meledek.
"Tadi aku ketemu Alin teman sma ku. Aku sama sama Citra mau makan di restoran dekat sekolahnya Citra, eh gak sengaja ketemu dia jadi kami makan bersama" dan hanya di jawab gumaman Davian.
"Kamu tau dia punya putri yang sangat cantik" sambung nya.
__ADS_1
"Lalu?" Ucap Davian singkat.
"Mommy ingin menjodohkan nya sama Kak Derald" bukan Tamara melainkan Citra yang menjawab.
'Uhukk' Derald sampai tersedak.
"Apa Mommy?" Tunjuknya Tamara pada dirinya sendiri, "Kamu yang melamar nya!" jelasnya.
"Hehe.." Citra hanya menyengir kuda.
"Maksud Mommy?" Tanya Derald serius.
"Iya tadi Citra minta langsung ke anak temen Mommy buat jadi Kakak iparnya. Dasar gadis konyol!" Ujar Tamara, menggeleng kepalanya.
Derald menatap Citra tajam, "Viss" Citra mengacungkan kedua jarinya berbentuk huruf V.
"Kak Derald gak usah marah gitu. Lagian Kakak cantik itu menolaknya" sambung Citra dengan wajah tiba-tiba berubah menunjukan kekecewaan, seakan dirinya yang tengah ditolak cinta.
"Benarkah, gadis itu menolak seorang Derald?" Kali ini Davian yang bicara.
"Iya Mas, karna dia akan segera menikah" jawab Tamara santai.
"Bagus deh" ucap Derald singkat.
"Secantik apa dia? Sampai menolak anak ku yang jelas-jelas menjadi incaran para wanita" ucap nya bangga, Derald yang mendengar nya hanya tersenyum kecil.
"Cantik banget Deddy, udah gitu baik, ramah dan sukses lagi iya kan Mom? Dan apa tadi Kakak bilang bagus? Aku jamin setelah Kak Derald ketemu sama dia, Kak Derald bakalan nyesel" cerocos Citra kesal.
"Secantik apapun dia, menurut Daddy tetep cantikan Mommy" menatap wajah istrinya penuh cinta.
Derald berdecak "udah tua, bucin, posesif lagi" Derald menggerutu.
Itulah kenapa Citra suka sekali menggoda Daddy nya, karna Davian sangat posesif sama Mommy nya.
"Apa kamu bilang? Daddy sumpahin, kamu bucin dan posesif akut nanti sama istri kamu" ucap Davian tegas.
"Daddy.. Kak Derald itu jangan kan punya istri, pacar aja gak punya" ledek Citra, "Citra heran deh, padahal banyak banget cewek yang ngejar-ngejar Kakak tapi kenapa gak ada satu pun yang jadi pacar Kaka?" Lanjutnya.
"Itu karna mereka gak menarik!" Jawab Derald cepat.
"Meraka yang gak menarik atau jangan-jangan kamu nya yang gak normal?" Menyelidik putra nya, karna benar yang Citra katakan Derald tidak pernah sekali pun membawa seorang gadis kerumah.
"Mas..." Mendelik tajam suaminya.
"Gak sayang Mas cuma becanda" menyengir kuda.
"Liat aja suatu saat Derald bakal bawa cewek yang sangat cantik ke rumah ini dan aku sendiri yang bakal ngenalin langsung sama kalian" ucap Derald kemudian beranjak pergi.
"Kak Derald jangan ngambek dong, kan kita cuma becanda doang!" Teriak Citra melihat punggung Kakak nya yang semakin menjauh.
...****************...
__ADS_1
Next episode... jangan lupa like, komen, vote tabur mawarnya juga ya😊biar Author tambah semangat nulisnya, terimakasih🤗