
Rangga tersenyum lebar begitu melihat Cinta muncul dari balik pintu. Dia senang akhirnya Cinta mau membukakan pintu untuk menemuinya.
Namun, tidak dengan Cinta yang detik itu juga memasang wajah yang tidak bersahabat. Dia yang terbiasa merasa lapar di jam-jam menjelang subuh tadinya terbangun dan bermaksud mengambil makanan di dapur. Namun, dia malah dikejutkan dengan kehadiran Rangga yang berdiri di depan kamarnya. Dia langsung mendengus kesal dan tanpa Rangga duga, secepat kilat Cinta menutup pintu kamarnya kembali.
Melihat itu senyum Rangga seketika lenyap, "Sayang, buka pintunya!" Rangga mengetuk pintu itu lagi tetapi, tidak ada respon dari Cinta.
"Sayang, kumohon buka pintunya. Kita harus bicara." Suaranya terdengar memelas sembari menggedor pintu itu.
"Pergilah! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Aku muak denganmu," teriak Cinta dari dalam kamarnya.
"Cinta Sayang, jangan bicara seperti itu. Aku bisa jelaskan. Kumohon buka pintunya, Sayang. Aku ...."
"Ada apa ini?" Suara bariton Reyhan menginterupsi.
Rangga menghentikan ucapannya dan menoleh ke arah suara. Tanpa dia sadari Reyhan dan Diana sudah berdiri di sebelahnya. Menatapnya tajam dengan sorot mata elang yang mematikan milik Reyhan.
Oh God! Apakah riwayatnya akan tamat saat ini juga?
"Kenapa? Apa sekarang kau sudah lupa ini jam berapa?" Masih dengan nada dingin dan kaku seperti biasanya. Bertambahnya usia ternyata tidak bisa mengubah karakter seorang Reyhan.
__ADS_1
"Maaf Ayah, Ibu, aku sudah mengganggu istirahat kalian." Rangga merasa tenggorokannya tercekat. Bahkan untuk menelan ludahnya sendiri saja, dia merasa susah. Seperti ada bongkahan batu yang mengganjal di kerongkongannya. Ya Tuhan, dia benar-benar gugup. Padahal menghadapi Reyhan yang seperti ini, dulunya adalah makanan sehari-hari baginya. Namun, sekarang kenapa dia menjadi sangat gugup dan takut. Why?
"Aku hanya ingin bicara dengan Cinta, Yah. Ada hal penting yang harus aku jelaskan padanya," jawabnya lesu.
"Tidurlah! Bicarakan besok pagi," titah Reyhan dengan raut wajah datarnya.
"Tapi Yah, pintunya dikunci sama Cinta. Aku tidak bisa tidur di dalam." Rangga memutar knop pintu. Dia ingin menunjukkan pada Reyhan kalau pintu itu memang benar dikunci dari dalam sekaligus berharap Reyhan bersedia membujuk Cinta agar mau membukakan pintu untuknya.
Namun, kenyataan tidak sesuai harapan Rangga. Reyhan tidak memberi respon apa pun, pria itu hanya mendengus lalu kembali menuju kamarnya. Meninggalkan Rangga yang sedang berdiri di sana dengan keputusasaan.
"Sudahlah, tidur di kamar tamu saja dulu. Besok pagi aja dibicarakan lagi masalah kalian, ya?" Diana tersenyum dan mengusap lengan Rangga.
"Bu, Cinta marah sama aku. Bantu aku bujuk dia Bu," pinta Rangga dengan wajah mengiba yang hanya dibalas senyuman oleh Diana.
...****************...
Akan tetapi, tidak sama halnya dengan Cinta. Dia merasa paginya tidak secerah sinar matahari karena kini dia tengah bergulat dengan pikirannya sendiri. Memikirkan bagaimana dia harus bersikap pada Rangga juga hubungan mereka kedepannya.
Semalam penuh dia memikirkannya, mengikat kata dalam mata batinnya, meredam rasa dalam sanubarinya, menelan sakit yang merajai, dan akhirnya dengan tegar dia menyakinkan dirinya kalau dia adalah seorang wanita. Atas dasar apa pun Cinta adalah seorang wanita dan seorang istri.
Cinta adalah seorang wanita yang memiliki hati dan perasaan. Cinta adalah seorang istri yang kebutuhannya bukan hanya sekedar permainan di atas ranjang. Dia tidak butuh materi, kedudukan ataupun gelar dari suaminya. Cinta hanya butuh kejujuran sebagai bukti suaminya menganggapnya berarti, menganggapnya berharga.
Namun, harapan itu seakan pupus tatkala suaminya memasukkan wanita lain ke dalam kehidupan rumah tangga mereka. Dia bukanlah robot yang tidak memiliki hati dan perasaan di saat Rangga mengabaikan dirinya akhir-akhir ini.
__ADS_1
Sebagai seorang istri juga sebagai seorang wanita, melihat perlakuan suaminya yang demikian, membuat dia merasa terhempaskan ke dalam lumpur kepedihan. Sakit. Itu yang Cinta rasakan sekarang. Rasa itu menjalar ke seluruh tubuhnya bahkan sepertinya sudah ingin meledak di ubun-ubun.
Akan tetapi, lagi-lagi dia tidak bisa melakukan apa pun. Dia seakan terpasung pada dinding sepi yang mendingin, gelap bertaut di setiap relung, mengiris dan merambati dinding hati untuk selanjutnya terhempas dalam bimbang dan keputusasaan.
Andai saja, di dalam perutnya saat ini tidak berkembang suatu kehidupan baru, mungkin dia lebih mudah untuk mengambil keputusan dalam masalahnya ini.
Andai saja dia hidup di negeri dongeng, negeri khayal, negeri angan, yang tidak memiliki norma yang mengikat, maka akan lebih mudah dia menentukan keputusan untuk kehidupannya saat ini.
"Tuan menunggu Nona untuk sarapan," ucap pelayan yang disuruh Reyhan untuk memanggil Cinta.
"Apa Kak Rangga juga ada di sana?"
"Iya Nona,"
"Bik, bilang pada ayah, kalau aku akan keluar sarapan jika kak Rangga sudah tidak ada di rumah ini,"
...****************...
Ups sampai sini dulu ya guys, nanti aku sambung lagi. Jangan lupa dukungan kalian lho,🤭
Hari senin waktunya bagi vote buat Cinta sama Rangga dong😁
Aku tunggu ya,❤️
__ADS_1