
"Tuan Ben Damian Ezra dengan nona Miracle Shine Wijaya naik pesawat dengan nomor penerbangan XXX tujuan Denpasar-Singapura sudah take off lima belas menit yang lalu, Nyonya."
Ucapan petugas informasi menggema kembali di telinga Cinta. Dadanya bergemuruh, sakit, pedih, kecewa, menyatu menjadi satu.
Cinta menutup mulutnya, tubuhnya gemetar, bahkan kedua kakinya serasa sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Dia ambruk, terduduk lunglai di lantai.
"Nyonya? Maaf, Anda tidak apa-apa?" Seseorang mendekati Cinta dan menyentuh bahunya dengan raut iba.
Namun, Cinta hanya diam seribu bahasa. Lidahnya terasa kelu dan bibirnya terasa kaku untuk digerakkan. Dia menunduk, memejamkan matanya sembari meremas dadanya yang serasa tertusuk. Apa yang Rangga lakukan hari ini berhasil menorehkan luka batin untuk Cinta. Luka yang meski tak berdarah tetapi menyisakan sakit yang teramat dalam. Bahu Cinta berguncang seiring isak tangisnya yang semakin lama semakin tidak mampu dia bendung lagi.
"Nyonya? Apa Anda baik-baik saja?"
Jiwanya yang telah kosong membuat suara orang-orang itu terdengar menggema bagai ilusi. Tanpa menjawab mereka, perlahan Cinta bangkit. Dia berjalan meninggalkan area bandara meski tertatih. Pandangannya kosong, jiwanya terasa mati.
__ADS_1
Sesuatu yang indah telah hilang dari hidupnya. Ya, Sunny sudah tidak bersamanya lagi. Itulah fakta yang harus dia hadapi saat ini. Menjalani hari-harinya tanpa Sunny. Tidak akan ada lagi tawa dan canda Sunny yang biasa mewarnai kesunyian hatinya.
Air mata Cinta mengalir deras kembali membasahi wajahnya. Perpisahan ini teramat menyakitkan untuknya. Ingin rasanya dia berteriak tetapi, tenggorokannya seakan tercekat hingga tidak bisa mengeluarkan suara. Cinta menumpukan kedua tangannya di atas kemudi, lalu membenamkan wajahnya di sana. Entah berapa lama dia menangis hingga tanpa sadar dia tertidur.
Hari hampir gelap saat Cinta terbangun. Cinta mengangkat wajahnya lalu melihat sekelilingnya. Dia masih berada di area parkir bandara dan di luar hujan masih turun dengan derasnya. Entah apa yang ada di pikiran Cinta, hingga dia memutuskan turun dari mobil dan nekat menerobos hujan.
Dia berjalan di tengah derasnya hujan, sampai kakinya membawanya ke sebuah taman. Cahaya lampu taman di bawah pohon rimbun tampak remang-remang. Cinta duduk termangu dengan pandangan menerawang jauh, tidak peduli jika tubuhnya sudah basah diguyur air hujan.
Di mana malam-malam indah penuh gairah yang setiap malam berujung, mereka memulainya kembali dengan malam yang baru, adegan percintaan yang baru tetapi, dengan gelora hasrat yang tetap sama membara. Membuatnya menginginkannya lagi, lagi, dan lagi.
Sampai pada akhirnya bayi dalam rahimnya telah menjelma menjadi bayi mungil yang lucu dan menggemaskan. Tanah basah perlahan mengering. Rumput dan pucuk-pucuk hijau menguning. Pohon-pohon meranggas dan alam mengerang setiap kali musim berganti, hingga tanpa terasa bayi mungilnya kini menjelma menjadi gadis kecil yang cantik dan pintar. Cinta masih bergeming, tetap mematung dalam belenggu atas nama cinta dan kesetiaan.
__ADS_1
Namun, kini apa yang dia dapat dari cinta dan kesetiaan itu? Pria yang menjadi alasan cinta dan kesetiaannya malah dengan sengaja kembali menghancurkan hatinya bahkan dengan cara yang lebih kejam. Membawa pergi putri kecil mereka yang sudah jelas-jelas menjadi tumpuan hidupnya.
Biasanya di jam begini Cinta sudah di rumah bersama Sunny. Mereka bercanda dan tertawa bersama. Namun, sekarang rasanya begitu sunyi. Tidak ada lagi tawa dan canda Sunny yang biasanya mengisi kesunyiannya ini. Air mata kembali meleleh tetapi, dengan segera air hujan menghapusnya lagi.
Dinginnya angin malam semakin menusuk kulit ditambah hujan yang masih turun dengan deras. Namun, Cinta enggan beranjak dari tempatnya kini berada. Meski tubuhnya sudah menggigil kedinginan karena basah kuyup dengan wajahnya yang sudah pucat karena belum memakan apa pun sedari pagi. Cinta tetap bergeming di tempatnya, dia enggan memilih pulang. Rumah hanya akan mengingatkannya kembali pada Sunny.
Entah sudah berapa lama Cinta terduduk di bawah guyuran hujan Kepalanya kini terasa berat, dunia seakan berputar dan pandangannya mulai buram seiring matanya yang semakin sayu.
Cinta sudah hampir tidak mampu lagi membuka matanya saat dia melihat sebuah mobil berhenti tidak jauh dari tempatnya berada. Samar-samar dia melihat seseorang keluar dari mobil itu. Dia masih bisa mendengar langkah kaki orang itu semakin mendekatinya. Dia mengangkat wajahnya ingin mengetahui siapa orang itu. Namun, sayang, matanya sudah tidak sanggup terbuka lagi. Segalanya menjadi terlihat semakin gelap. Cinta ambruk dan akhirnya tidak sadarkan diri.
__ADS_1
...****************...
Eitss, jangan beranjak dulu ya guys, bab berikutnya otw menyusul. Jangan lupa jempolnya dobel juga ya🤭🤭🤭