Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Pertemuan Rahasia part 3


__ADS_3

Tangan Cinta gemetar, dia menggigit bibir bawahnya kelu. Menahan air mata yang sudah sedari tadi berontak ingin melesak keluar dari kubangan yang membelenggunya. Dalam hati dia masih berharap kalau yang dilihatnya sekarang di foto adalah bukan Rangga, suaminya.


"Foto itu diambil oleh orang suruhanku beberapa hari yang lalu. Em, tepatnya saat pertama kali kita bertemu di apartemen." Seno menjelaskan dengan santai.


"Itu cuma sebuah foto Kak, lagipula yang meluk di dalam foto itu Agnes bukan kak Rangga. Saran aku sih sebaiknya kalian bicarakan dulu berdua. Kasih kak Rangga waktu untuk menjelaskan. Mungkin saja ini hanya salah paham." Cika mencoba menghibur Cinta yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Cinta.


Cinta sudah tidak sanggup lagi untuk bersuara. Cika benar, mungkin saja ini hanya salah paham. Namun, rasa kecewa sudah mendominasi. Terlepas dari mereka punya ikatan atau tidak, yang Cinta sesalkan hanya satu, kejujuran. Rangga sudah tidak jujur padanya. Itu sudah termasuk penghianatan bagi Cinta.


"Memang seperti itu sebaiknya. Kalian memang harus bicarakan ini berdua dulu tetapi, apa suamimu bisa menceritakan yang sebenarnya padamu jika kamu menanyakan hal ini padanya?" Seno memberikan pendapatnya untuk Cinta.


"Maksud, Tuan Seno?" Cika yang merasa belum paham maksud perkataan Seno, menautkan kedua alisnya menatap pria itu.


"Begini, aku tidak bermaksud jahat dalam hal ini, atau pun ingin ikut campur dalam rumah tangga kalian. Aku sadar, aku tidak berhak melakukan ini karena aku bukan siapa-siapa kalian. Aku juga bukan pria baik-baik, bahkan jauh dari kata baik tetapi, aku hanya tidak suka melihat kaumku mempermainkan perasaan wanita, terlebih itu adalah istrinya." Seno menjeda ucapannya untuk mengambil napas, sedangkan Cinta dan Cika masih terdiam. Mereka dengan setia menunggu ucapan pria itu selanjutnya.


"Mengenai pertemuan mereka saja suamimu sudah tidak mau menceritakannya padamu, apa masih mungkin dia akan mengatakan tentang hubungan mereka yang sebenarnya padamu? Bisa saja dia memberi alasan untuk menutupi kebohongannya itu."


Ya, Seno benar, jika Cinta menanyakan langsung pada Rangga, bisa saja pria itu akan menjawabnya dengan berbagai alasan untuk melindungi diri mereka.

__ADS_1


"Aku juga berpikir seperti itu Kak, karena itu aku menemuimu dan tidak bicara apa pun padanya." Nada Cinta terdengar getir. Dia menyusut sudut matanya yang masih saja meloloskan air mata meski dia sudah berusaha menahannya.


"Aku tau bagaimana perasaanmu sekarang karena itu juga yang aku rasakan saat bersama Agnes. Agnes sudah banyak membohongiku tentang perasaannya karena itu aku menyerah dengan hubungan kami."


Ucapan Seno kali ini berhasil menjawab kebingungan Cika. Dia baru paham apa yang terjadi di antara mereka. Cinta, Rangga, Agnes, dan Seno, mereka memiliki keterikatan hubungan yang saling membelit satu sama lain.


"Agnes tidak pernah mau mengakui perasaannya yang sebenarnya padaku. Dia masih sangat mencintai suamimu bahkan saat kami masih menjadi suami-istri, dan aku tidak bisa terima itu. Aku seorang pria, aku punya harga diri, aku punya ego yang tinggi, dan dia sudah meruntuhkan itu semua. Dia tidur denganku tetapi, membayangkan aku adalah suamimu. Coba kalian bayangkan bagaimana terhinanya aku? Istriku tidak pernah menganggapku ada, dan yang paling kubenci dia selalu menyangkalnya. Dia tidak pernah mau mengakui kalau dia selalu, selalu, dan selalu memikirkan suamimu. Aku sampai di batas kesabaranku dan memutuskan untuk melakukan hal yang sama padanya. Tidak pernah menganggapnya ada!"


"Jadi, karena itu Kak Seno bersikap tak acuh padanya, bahkan pada anak kalian juga?"


Seno membuang napas kasar, "Itu kesalahanku. Tidak seharusnya waktu itu aku bersikap begitu pada anakku yang tidak mengerti apa-apa." Nada Seno melemah dan terdengar ada penyesalan di dalamnya.


"Tidak sia-sia aku membayar orang untuk mengawasi Agnes. Agnes memang tidak pernah bisa melupakan suamimu. Itu yang bisa aku simpulkan dari foto ini tetapi, mengenai suamimu aku belum berani menyimpulkan apa-apa. Seperti yang Nona Cika katakan, bisa saja ini hanya salah paham karena orang suruhanku juga tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan saat itu."


Hm, Seno dan Cika benar. Cinta tidak bisa langsung mengklaim Rangga berselingkuh dengan Agnes. Mungkin Agnes memang masih mencintai Rangga tetapi, Rangga? Cinta memang harus lebih bersabar lagi. Dia harus mengumpulkan bukti lagi untuk menguatkan kecurigaannya.


Cinta masih bergelut dengan pikirannya sendiri saat ponsel di dalam tasnya bergetar. Pesan dari suaminya.

__ADS_1


"Kamu di mana? Masih sama Cika? Aku lembur hari ini, mungkin pulangnya maleman. Kamu minta Cika temani di apartemen gapapa, 'kan?"


"Dari kak Rangga ya Kak, dia bilang apa?" Cika bertanya demi melihat raut wajah Cinta yang bertambah muram saat menatap layar ponselnya.


"Hm, dia bilang pulang telat malam ini. Kamu diminta menemaniku di apartemen." Cinta menjawab Cika dengan tersenyum miris. Sebenarnya ada rasa ke khawatiran dalam hatinya yang tidak bisa dia jelaskan itu apa.


Kak Rangga lembur. Mungkinkah Agnes juga lembur bersamanya? Lembur tentang pekerjaan atau ....


Pikiran-pikiran kotor itu mulai menggrogoti jiwanya. Cinta mengusap perutnya, berusaha berbagi kekuatan untuk benih yang sedang bersemayam dalam rahimnya.


"Suamimu lembur? Kamu percaya? Atau, kamu ingin membuktikannya?" Ucapan Seno membuat dadanya bergemuruh semakin hebat. Jantungnya juga berdentum menjadi tidak karuan. Membuat debaran-debaran yang menyebabkannya semakin merasa sesak. Dia juga tidak mau berpikir ke arah itu tetapi, segala kondisi mengarahkan otaknya untuk lari menuju ke arah kecurigaannya.


"Kamu ingin aku mengantarmu untuk membuktikan ucapan suamimu?" Seno kembali memberinya penawaran yang membuatnya semakin bingung. Haruskah dia terima penawaran Seno? Namun, jika kecurigaannya terbukti, apa yang harus dia lakukan? Sementara, jika dia menolak, selamanya dia akan diliputi rasa penasaran dan curiga yang tidak jelas terhadap suaminya.


"Semua terserah padamu Kak," Cika memberi jawaban saat Cinta menoleh padanya. Cika mengerti Cinta sedang meminta pendapatnya. Gadis itu memegang kedua bahu Cinta untuk meyakinkannya.


"Saranku hanya satu, apa pun yang nanti Kak Cinta lihat di sana, jangan mengambil keputusan yang nantinya bisa menyakiti nyawa yang sedang tumbuh dalam rahim Kakak."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2