
"Kamu?" tunjuk putra Davin pada Cinta. Dia tampak mengingat-ngingat.
"Apa kalian sudah saling kenal?" tanya Davin yang memandang mereka bergantian.
"Iya, apa kamu mengenalnya, Sayang?" tanya gadis yang bergelayut manja di lengan putra Davin. Gadis itu menumpukan dagunya di bahu putra Davin.
"No, Dad! Aku hanya melihatnya tadi sore di hotel kita yang di Nusa Dua. Benar, 'kan? Kamu gadis yang tadi cincinnya terlepas, bukan? Yang ditolong Ben?"
"Ben?" Cinta tampak berpikir sebentar, "ah iya, benar." Dia lalu tersenyum sumringah.
"Owh, begitu."
"Iya, Sayang. Tadi waktu aku jemput Ben, aku ketemu mereka. Jadi, Nona ini yang Ayah bilang putri tunggal om Reyhan?"
"Iya, namanya Cinta." Davin merangkul bahu Cinta."
" Oya, salam kenal Nona Cinta, aku Mario." Mario mengulurkan tangannya yang dibalas oleh Cinta.
"Sama-sama, Tuan Mario."
"Kenalkan ini tunanganku, Chelsy." Chelsy tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya.
"Cinta," balas Cinta tak kalah ramah.
"Sebenarnya ini pesta untuk merayakan kelulusan putraku. Mario baru menyelesaikan pendidikan S2-nya di Singapura."
Cinta mengangguk, dia baru paham sekarang kenapa Davin membuat pesta seperti ini termasuk tamu undangannya.
"Kamu di sini dulu ya, om mau temani tamu yang lain," ucap Davin pada Cinta, "Mario, temani Cinta," perintah Davin pada putranya.
"Tentu saja, Dad." Davin meninggalkan mereka. Tinggallah Cinta bersama Chelsy, mereka memilih duduk di sofa panjang di dekat Mario yang sedang asik tertawa dengan teman-temannya.
"Minum?" tawar Chelsy pada Cinta.
__ADS_1
Cinta melirik gelas berisi wine yang disodorkan Chelsy padanya. Sebenarnya dia ingin menolak tetapi, urung karena tidak ingin membuat Chelsy kecewa. Terlebih ini adalah pertemuan pertama mereka.
"Terima kasih." Dengan terpaksa Cinta menerima lalu meneguk wine itu. Dia merasakan sensasi aneh setelah menelan minuman itu.
"Kamu merasa aneh?" tanya Chelsy.
"Sedikit," jawab Cinta dengan wajah kecut.
"Haha, kamu hanya belum terbiasa. Lagi?" Chelsy kembali menuang wine ke gelas Cinta dan Cinta terpaksa kembali meneguknya. Benar yang dikatakan Chelsy, awalnya memang terasa aneh tetapi, lama-lama Cinta mulai menyukainya.
"Ben!" Mario melambaikan tangan ke arah Ben yang berdiri di dekat DJ. Kemudian, dia memberi kode kepada Ben untuk mendekat ke arahnya.
"Sorry bro, gue telat."
"Elo emang selalu telat dalam hal apa pun. Apalagi soal wanita." Mario mencibir dengan candaan.
"Elo ngatain gue." Ben menunjuk dirinya sendiri.
"Kan emang bener, buktinya loe kehilangan wanita yang loe cintai karena loe telat jujur sama dia."
"Loe bikin dia mabuk?" ucap Ben dengan wajah kesal pada Mario.
Mario yang tidak paham dengan maksud Ben melihat ke arah Cinta. Dia terkejut dan terlihat sama kesalnya dengan Ben. Bergegas mereka mendekati Cinta dan Chelsy.
"Sayang, kamu bikin Cinta mabuk?" tanya Mario pada Chelsy.
"Aku hanya memberinya beberapa gelas saja," jawab Chelsy tanpa rasa bersalah.
"Ck! Dia tidak pernah minum sebelumnya." Ben terlihat semakin emosi yang membuat Chelsy kebingungan.
"Hei, ada apa? Kenapa kalian ribut?" Cinta bicara dengan suara parau lalu bangkit dari sofa. Dengan langkah gontai layaknya orang mabuk, dia mendekat ke arah Ben dan menarik kerah jas yang dikenakan Ben. Ditatapnya Ben dengan matanya yang sudah sayu. Jarak yang hanya beberapa senti membuat mereka bisa saling merasakan hembusan napas yang saling menerpa wajah keduanya.
"Hei Tuan Ben, kenapa Anda harus muncul di hadapanku? Aku tidak menyukaimu. Wajahmu sangat mirip dengannya. Kamu sudah mengingatkanku padanya." Cinta menepuk pipi Ben. Ben hanya terdiam menerima perlakuan dan kata-kata dari Cinta. Begitu juga dengan Mario dan Chelsy yang sama-sama kebingungan karena sikap otodidak Cinta.
"Aku membencinya!" Cinta setengah berteriak. Alkohol sudah benar-benar meracuni otaknya. Dia benar-benar sudah tidak sadar akan dirinya dan tempatnya berada kini. Beruntung suara musik DJ masih berdentum keras, jika tidak semua orang yang berada di ruangan itu pasti bisa mendengar teriakannya.
__ADS_1
"Anda mabuk, Nona." Ben memicingkan matanya.
"Aku membencinya. Aku sangat membencinya," ucap Cinta lirih, mengabaikan ucapan Ben. Dia mengendurkan cengkraman tangannya pada jas Ben, lalu menundukkan wajahnya dan mulai sesegukan.
Mario dan Chelsy hanya bisa terdiam memandang Cinta dan Ben yang tampak terenyuh dengan ucapan Cinta barusan.
Wajah Ben berubah sendu, melihat Cinta menangis dan memaki tidak jelas. Dia memejamkan matanya lalu menghela napas dalam.
"Sorry Mario, katakan pada ayahmu, aku sudah tidak bisa melanjutkan rencana ini. Aku tidak bisa menahannya lagi."
Ben mengangkat tubuh Cinta lalu membopong Cinta layaknya karung beras dan bergegas keluar dari ballroom. Dia tidak peduli meski Cinta berontak dengan memukul punggungnya beberapa kali, juga para tamu yang menatap mereka.
"Lepaskan aku!" teriak Cinta. Namun, Ben tidak peduli. Dia mendudukkan tubuh Cinta dengan paksa di dalam mobilnya. Kemudian, dia bergegas mengitari mobilnya dan duduk di kursi kemudi.
"Kamu menculikku," umpat Cinta saat Ben sudah duduk di kursi kemudi dan bersiap menyalakan mesin.
"Anggaplah begitu, Nona." Ben mengerlingkan sebelah matanya ke arah Cinta.
...****************...
Sorry ya guys aku telat up hari ini😔 ada kesibukan di dunia nyata yang tidak bisa aku tinggal 🤭
Dan mungkin selama 30hari ke depan juga aku bakalan telat up (bodo amat) 😂 ceritanya lagi ngarep kalian bakal bilang rindu🤭
Selama 30 hari nanti aku sibuk dengan buku aku yang bakal dicetak, yeeyyy👏👏👏 gak ada yang ngasih selamat nih? Hm, sedihnya aku😭
Tapi nanti kalau ada waktu pasti aku usahain up, hehehe senyum dong😁
Yang jelas selama kalian tetap kasih dukungan positif, vote like comen yang positif bukan yang bikin down mental aku ya heheheee😄
Ok guys udh 2 bab ya, besok kita sambung lagi, 🤗
Thanks all n see you next chapter😘😘😘
__ADS_1