Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Terlanjur Sakit


__ADS_3

Anin menjalankan mobil nya sangat cepat, bahkan tangisnya tak dapat ia dihentikan. Hatinya terlalu sakit, bahkan lukanya terlalu dalam.


"Kenapa? Kenapa Lo nyembunyiin semua ini dari gue Cha? Hiks!" Air mata nya kembali luruh.


Anin menambah kecepatan mobilnya lagi, di tengah perjalanan yang cukup sepi sebuah kucing berlari di tengah jalan. Anin terkejut, ia mengijak rem mobil nya secara mendadak.


'Ckiitt.... Tiiinn' suara ban mobil dengan klason mobil Anin mengeluarkan bunyi cukup keras, karna benturan kepala Anin.


Perlahan Anin mengangkat kepalanya, ia meringis, merasakan pusing di kepala nya. Namun, rasa sakit itu tak mampu mengalihkan rasa sakit di hatinya.


Tangisan Anin pecah begitu saja, ia meratapi yang tengah terjadi padanya. Kemudian, Anin mengedar pandangan nya melihat kucing yang hampir ia tabrak tadi, ternyata sudah lari menjauh.


Anin bernafas lega karna ia tidak sampai menabrak dan membuat kucing itu terluka. Ia memegang pelipisnya yang terasa perih, kemudian menyandarkan punggung nya. Anin menutup wajah dengan kedua tangan nya, memikirkan setiap kejadian yang kini mulai terbuka secara perlahan.


Anin melihat ka arah samping, terdapat sebuah danau disana. Kemudian, Anin memarkirkan mobilnya, di tempat yang menurutnya aman.


Anin berjalan gontai, ia melihat pohon yang sangat rimbun didekat danau. Anin mendekat dan duduk dengan beralaskan tanah tepat dibawah pohon itu, pandangan nya lurus ke depan menatap air yang sangat tenang di depan nya, sangat beda jauh dengan hatinya saat ini.


Matanya kembali berembun, kata-kata Bastian waktu itu kembali terngiang. "Aku mengkhianati kamu Nin”. Anin menggeleng kepalanya cepat, menutup kedua telinganya.


"Kamu benar, kamu memang mengkhianati ku Bas. Tapi, kenapa harus Vina? Kenapa harus dengan sahabat ku...?" Anin tidak bisa menahan air matanya lagi, buliran bening itu kembali membasahi pipinya.


"Aku harus apa sekarang? Pada siapa aku harus bersandar, siapa yang bisa ku jadikan sebagai teman untuk mencurahkan isi hati ku. Semuanya mengkhianati ku, semuanya palsu! AKHHh..." Anin berteriak dengan sangat keras meluapkan semua emosi yang menghimpit dadanya.


Anin teringat seseorang, ia segera merogoh ponsel yang di berikan Bastian padanya. Ia tersenyum miris saat melihat ponsel nya, tanpa pikir panjang Anin segera menekan nomor seseorang.


Dalam satu panggilan, orang disebrang sana mengangkat telpon nya.


"Aku ingin bertemu dengan mu, sekarang juga kamu datang ke lokasi yang aku kirim! Tut" Ucap Anin, belum sempat orang itu menjawab Anin sudah menutup panggilan nya.


Ia mengotak-atik ponselnya, Anin mengirim lokasinya saat ini. Ia menghembuskan nafasnya, meletakkan ponselnya dengan kasar ditanah tepat di sampingnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ocha pergi dari apartemen secara diam-diam, toh dirinya datang pun Vina tidak mengetahuinya. Kini Ocha sudah berada didalam mobilnya, sudah cukup. Rasanya Ocha tidak sanggup mendengar kebenaran nya.


Apalagi, Vina selalu menjelek-jelekan Anin. Ocha tidak menyangka Vina bisa berubah seperti itu, dulu Vina sangat menyayangi Anin seperti saudarinya sendiri. Tapi sekarang hanya karna Bastian, Vina melupakan semua jasa Anin untuknya, ia melupakan siapa yang selalu merangkulnya disaat dirinya bersedih dulu.


Ocha kembali ke rumah, ia sudah memutuskan akan menemui Anin dan mengatakan segalanya. Namun, ia harus membawa bukti foto itu. Ocha masuk dengan sedikit berlari, ia menuju ke kamarnya. Ocha mendekati buku diary, lalu membukanya. Tampak foto Vina dan Bastian ada rasa kesal di hatinya saat melihat foto itu, dengan cepat Ocha mengambil dan memasukan kedalam tas nya.


Ocha hendak pergi. Namun, tiba-tiba langkah nya terhenti saat tak sengaja ekor matanya melihat sesuatu di meja. Ocha berbalik, ia melihat gelas dengan sisa minuman setengah di meja. Ocha menyerngit, ia yakin jika itu bukan bekas minum nya. Lalu bekas minum siapa?

__ADS_1


Ocha berjalan cepat keluar kamar, "Bi... Bibi..." Panggil Ocha berteriak.


Bi Asih keluar dari dapur, "Ada apa Non?" Sahut Bi Asih khawatir.


"Bi, apa tadi ada yang datang?" Tanya Ocha serius.


Bi Asih tersentak kaget, "Ee... Itu anu Non..." Jawab Bi Asih tergagap.


"Anu, anu apa Bi? Kenapa di kamar ku ada bekas minuman, itu bekas minuman siapa?" Desak Ocha.


Bi Asih diam tak menjawab, ia bingung harus bicara apa. Sedangkan dirinya sudah berjanji pada Anin bahwa dirinya tak akan memberi tahu Ocha.


"Jawab Bi! Bibi nyembunyiin sesuatu dari Ocha? Tolong jawab jujur Bi! Siapa yang masuk ke kamar Ocha?" Pinta Ocha dengan suara halus.


"Non Anin..." Ujar Bi Asih pasrah. Ia menundukan kepalanya, "Maafin Bibi Non Anin" batin Bi Asih merasa bersalah.


"A--Anin?" Ulang Ocha sangat terkejut.


"Iya, tadi Non Anin dateng. Katanya mau ketemu sama Non Ocha, karna Non Ocha pergi akhirnya Non Anin nunggu di kamar" jelas Bi Asih.


"Terus Anin kemana sekarang?" Timpal Ocha.


"Non Anin udah pergi. Tapi tadi Bibi sempat liat Non Anin sepertinya menangis, tapi Bibi gak tau Non. Bibi takut cuma salah liat" jawab Bi Asih jujur.


"Makasih ya Bi, Ocha pergi dulu..." ucap Ocha melesat pergi.


"Loh, Non Ocha mau kemana?" Ucap Bi Asih sedikit berteriak. Namun, di abaikan Ocha yang sudah berlari keluar rumah.


......................


"Anin!" Ucap seseorang, membuyarkan lamunan Anin.


Anin melihat ke arah sumber suara, ia tau pemilik suara berat itu. Siapa lagi jika bukan Derald, Ya. yang Anin telpon tadi adalah Derald.


Derald melihat tatapan nanar Anin, tatapan yang tak seperti biasanya. Seperti menyimpan luka didalam nya.


"Duduklah!" Ujar Anin.


Derald mengikuti apa yang Anin pinta, ia duduk tepat disamping Anin. Ia melihat ponsel yang tergeletak ditanah, namun tak ia hiraukan pandangan nya tertuju pada Anin yang tengah menatap lurus ke depan.


Derald tau terjadi sesuatu pada Anin, ia juga tau saat ini Anin sedang tidak baik-baik.

__ADS_1


"Ada apa? Kenapa kamu mengajak ku bertemu disini?" Tanya Derald memecah keheningan.


Terdengar helaan nafas Anin, tatapan Anin beralih pada Derald. Netra mereka beradu, Derald melihat ada genangan air di mata Anin. Entah kenapa, melihat itu hatinya terasa tersayat.


"Aku ingin membicarakan sesuatu sama kamu" ucap Anin lirih namun penuh penekanan.


"Apa?" Balas Derald lembut, tatapan nya tak berpaling sedikitpun dari Anin.


"Apa yang sedang kamu sembunyikan dari ku?" Tanya Anin to the point.


"Maksud kamu?" Derald menyerngit bingung.


"Aku mau... Kamu kasih tau aku sekarang, apa yang kamu ketahui tentang Bastian,Derald?" Ucap Anin menatap Derald intens.


Derald menatap Anin terkejut, Apa Anin mengetahui sesuatu? pikir Derald.


Derald memutus tatapan lebih dulu ia menatap ke danau di depan nya.


"Katakan Derald apa kamu mengetahui sesuatu?" Derald bergeming.


Sebenarnya ia ingin sekali mengatakan semuanya pada Anin. Namun, ia takut jika itu malah menyakiti hati Anin. Derald merelakan Anin, karna ia pikir Anin sangat bahagia dengan laki-laki pilihan nya. Derald pikir pernikahan ini adalah kebahagian bagi Anin, itu sebab nya Derald selalu berusaha menutupi semuanya. Biar waktu yang memberi tahu Anin, karna sepintar-pintar nya bangkai di tutupi, pasti akan tercium juga.


Tapi, kali ini melihat Anin seperti ini rasanya ia tidak sanggup jika harus berbohong. Anin berhak tau semuanya toh ini hidupnya, ini berkaitan dengan masa depan nya. Mana sanggup ia melihat masa depan Anin hancur oleh laki-laki pengecut seperti Bastian.


"Apa ini waktu yang tepat?" Batin Derald.


"Kamu tau? Ucapan kamu waktu itu selalu muncul di kepalaku, aku ingin tau sebenarnya apa yang ingin kamu katakan pada ku waktu itu?" Anin menatap Derald dalam.


"Aku minta katakan sekarang, kalau pun itu menyakitkan bagi ku. Tidak masalah, aku bisa menerimanya" jika yang dikatakan Derald menyakitkan, tidak masalah bagi Anin karna Anin sudah terlanjur sakit.


Derald diam tak menjawab, ia masih memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.


Derald akan senang jika ia harus mengatakan semuanya, namun yang ia pikirkan adalah perasaan Anin.


"Tidak papa, jika kamu tidak bisa mengatakan nya" Anin beranjak dari duduk nya.


"Berarti ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Maaf sudah sering merepotkan mu dan membawa mu dalam permasalahan ku. Terimakasih atas semua bantuan mu untuk ku, kita kembali ke awal dimana kita hanyalah partner kerja saja. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal!" Ucap Anin tersenyum perih, entah kenapa hati Anin terasa sakit saat mengatakan nya.


Tanpa menunggu jawaban Derald. Anin berbalik membelakangi Derald, ia menghapus air matanya yang kembali luruh di pipinya. Kaki Anin hendak melangkah. Namun dengan cepat Derald menangkap tangan Anin mencekal nya kuat.


...****************...

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian ... Like, Komen and Vote ya🤗 Oya, follow akun Author juga dong😁


BSC❤️


__ADS_2