Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Hai Cantik


__ADS_3

Pesta anniversary Gilang dan Cika. Di dalam ballroom, pandangan Rangga menyapu semua hal yang dilihatnya di dalam pesta. Jamuan mewah di meja makan. Dekorasi indah di setiap sudut ruangan. Musik romantis yang mengalun merdu, beradu dengan tawa bahagia dari pasangan yang merayakan anniversary, keluarga, dan para tamu undangan.



Pesta ini mengingatkan Rangga pada kenangan hari bahagianya bersama Cinta dulu. Bibirnya mengukir senyum saat mengingat pesta pengantin mereka, juga hari-hari bahagia yang dia dan Cinta jalani sebelum datangnya malam kelam itu. Cinta meninggalkannya. Mereka berpisah bahkan belum genap setahun menjalani biduk rumah tangga.


Ya, Rangga sadar semua itu terjadi karena kesalahannya sendiri. Cinta pantas marah. Cinta pantas membencinya tapi, harusnya Cinta juga bisa bersikap dewasa saat itu. Memberinya kesempatan untuk menjelaskan semuanya, bukannya lari dari masalah dan meninggalkan dirinya begitu saja. Bahkan saat dirinya koma pun, Cinta tidak menemuinya. Padahal saat itu jiwanya sangat membutuhkan dukungan Cinta.


"Kamu sudah datang?" Suara lembut yang sangat dikenal Rangga, menyadarkannya dari lamunan.


"Ah, Ibu dan Ayah kapan datang?" Mencium punggung tangan Diana dan Reyhan bergantian.


"Baru saja," jawab Reyhan yang kemudian mengangkat Sunny dalam gendongannya.


"Hai cantik, kita ketemu lagi." Rangga tersenyum dan mengelus pipi Sunny.


"Hai juga Paman," sahut Sunny dengan tersenyum manis.


"Ayah, bolehkah aku menggendong putriku?" harap Rangga pada Reyhan.


"Aku baru saja bertemu cucuku. Aku masih merindukannya," ujar Reyhan tidak mau kalah. "Lagipula nanti kalau Cinta melihat bagaimana?" Reyhan menyapukan pandangannya ke seluruh tamu undangan, cemas jika Cinta tiba-tiba muncul di antara mereka.


"Cinta sedang membantu Cika menyiapkan diri, biarlah Rangga menggendong Sunny sebentar." Diana mengusap pipi Sunny. "Sunny, kamu gendong sama ayahmu, mau?"


"Ayah?" tanya Sunny polos. Mata jernih itu menatap Diana dengan penuh tanya.


"Iya, ayah. Paman ini ayahnya, Sunny." Diana mengusap lengan Rangga. Membuat mata jernih itu mengerjap menatap Rangga.


"Paman, Ayahku? Kata bunda, ayahku tinggalnya jauh, Oma." Sunny melirik Diana, dia benar-benar lugu dan polos.


"Iya, ayah kemarin memang tinggal jauh tapi, sekarang ayah sudah di sini. Ayah kangen sekali sama Sunny." Kedua tangan Rangga sudah menangkup kedua pipi Sunny. Bibirnya tetap tersenyum walaupun hatinya terasa pedih.

__ADS_1


"Sunny juga kangen sama, Ayah."


"Gendong sama ayah, mau?" Sunny mengangguk.


"Ya, sudah jangan lama-lama." Reyhan terlihat tidak rela menyerahkan Sunny pada Rangga.



Rangga segera mendekap Sunny, mengusap kepala dan menciumi seluruh wajah putrinya.


"Ayah rindu sekali sama Sunny," ucapnya pilu sembari mengecup kepala Sunny berkali-kali. Rasa sakit dan sesak di dada rasanya menguap begitu saja. Berganti dengan rasa bahagia yang tiada tara. Selama lima tahun dia bersabar untuk momen ini. Kata apa pun rasanya tidak akan cukup untuk mengungkapkan rasa bahagianya saat ini, bahkan air matanya hampir meleleh. Air mata bahagia tentunya.


"Sunny juga rindu sama, Ayah." Gadis kecil itu memeluk leher Rangga dan mengecup pipi Rangga bergiliran. Sementara Reyhan dan Diana hanya tersenyum haru menatap mereka berdua yang saling melepas rindu.


"Sekarang kau tau rasanya, bagaimana berpisah dari orang-orang yang kau cintai, istri dan anak? Menyakitkan, bukan?" Reyhan mendengus, "itulah yang aku rasakan dulu selama puluhan tahun. Maka dari itu aku selalu peringatkan kau untuk menjaga sikap."


Reyhan sebenarnya sangat marah dengan sikap Rangga yang tidak tegas sebagai laki-laki tapi, di sisi lain dia juga tidak bisa membenarkan sikap Cinta yang dinilainya kekanakan dengan mengambil keputusan meninggalkan suami tanpa mendengar penjelasan lebih dulu.


"Kau beruntung karena kau pernah menjadi putraku dan aku masih sangat menyayangimu, jika tidak, aku sudah mengirim Cinta ke tempat yang tidak akan pernah bisa terjangkau olehmu." Reyhan meraih gelas wine dari nampan pelayan yang kebetulan lewat di depannya.


"Sudahlah, semua sudah berlalu, yang terpenting sekarang jangan mengulanginya lagi." Diana mengusap kepala Rangga.



"Bagaimana kabar perusahaan yang kau bangun itu?" ucap Reyhan sebelum menyesap wine miliknya. Tangan kanannya memegang gelas berisi wine sedangkan tangan kirinya sudah masuk ke dalam saku celananya. Kebiasaan yang tidak pernah berubah dari dulu.


"Baik Ayah, semuanya berjalan lancar." Rangga menjawab sembari membetulkan posisi Sunny yang sempat melorot dari gendongannya. "Putri ayah ternyata berat juga, ya?" candanya pada Sunny.


"Iya dong Yah, Sunny 'kan udah gede, udah sekolah," celoteh Sunny dengan muka imutnya.


"Oh ya? Sunny belajar apa saja di sekolah?" Tangannya masih terus mengusap rambut putri kecilnya itu.

__ADS_1


"Banyak. Belajar nyanyi, belajar nulis, pokoknya Sunny suka tapi ...."


"Tapi, kenapa, Sayang?" tanya Diana yang cemas karena Sunny menggantung ucapannya. Begitu juga dengan Reyhan dan Rangga. Mereka menatap Sunny dengan menekuk kedua alisnya.


"Tapi, Sunny sedih karena teman-teman di sekolah semua dijemput sama ayahnya. Tapi, Sunny enggak," ucapnya sendu, lalu melirik Rangga, "besok Ayah jemput Sunny, ya?" Menatap Rangga dengan mata berbinar.


"Tentu saja Sayang, tapi tidak di sekolah Sunny yang biasa itu."


"Lalu, di mana?"


"Ayah akan bawa Sunny ke sekolah baru, yang dekat dengan rumah ayah, mau?"


"Mau Ayah," jawab Sunny cepat yang langsung memeluk leher Rangga.


"Apa setelah ini kau akan membawa Cinta dan Sunny ke sana?" Reyhan mulai gusar.


"Ayah, aku ...."


Ucapan Rangga terputus karena MC acara sudah berdiri di atas panggung, mengarahkan Gilang dan Cika, serta kedua orang tua dari keduanya untuk naik ke atas panggung. Suasana menjadi hening. Musik pun dihentikan sementara, semuanya kini fokus menatap ke atas panggung.


Acara dimulai dengan sambutan-sambutan, lalu dilanjutkan dengan pemotongan kue. Para undangan bertepuk tangan dengan riuh setelahnya.


Rangga mengedarkan pandangannya mencari sosok Cinta, sampai akhirnya matanya terhenti pada sosok wanita yang sangat dikenalnya. Wanita itu sedang berjalan menuju ke arahnya dengan tersenyum manis. Dia terlihat sangat cantik dengan mengenakan longdress tanpa lengan dan rambut gelombang alami yang digerai indah.


Cinta.



...****************...


Next ya👉 mau cepet? Jangan lupa besok ritual hari senin ya😁 bagi VOTE untuk Cinta sama Rangga. Kalau mau kasih 🌹atau ☕ juga boleh banget malah🤭🤭🤭

__ADS_1


Oke guys, aku tunggu dukungan dari kalian, semakin banyak dukungan dari kalian semakin semangat aku up, mau gak kalau aku kasih dobel? 🤗😘



__ADS_2