Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Honeymoon


__ADS_3

"Kami berangkat dulu ya, Sayang. Selamat menikmati bulan madu kalian." Diana memeluk Rangga dan Cinta bergantian saat sudah tiba di bandara.


"Bulan madu?" Cinta menatap Diana dengan menekuk kedua alisnya.


Diana terkekeh pelan. "Iya Sayang, ayahmu sudah memesan paket bulan madu ke pulau Nusa Penida untuk kalian berdua." Diana tersenyum lebar yang disambut dengan mata berbinar oleh Cinta dan Rangga.


"Nusa Penida, Yah?" tanya Rangga antusias. Dia dan Cinta saling melempar senyum bahagia. Tentu saja Rangga dan Cinta bahagia dan sangat bersemangat. Nusa Penida memang salah satu pulau di Bali yang dijuluki sebagai surga dunia karena terkenal dengan keindahan alamnya. Terutama pantai.



"Kalian beruntung bisa ke sana, kalau dulu ayah dan ibumu cuma bulan madu ke Tanah Lot." Reyhan berbicara dengan pandangan menerawang, mengingat kenangannya bersama Diana.


"Kamu masih mengingatnya, Sayang?" goda Diana dengan tersenyum haru.


"Tentu saja, itu adalah kenangan terindah dalam hidupku." Reyhan menatap Diana dengan tatapan penuh cinta, begitu juga dengan Diana. "Seandainya waktu itu Nusa Penida sudah seperti sekarang, mungkin aku akan mengajakmu ke sana dan bulan madu kita pasti lebih berkesan."


"Bagaimana kalau kita berangkat ke Nusa Penida bersama-sama? Anggap aja liburan keluarga ya 'kan, Oma? " usul Cinta sembari melirik Soraya.



"Haish, kamu lupa ya kalau orang seumuran ayahmu dan ibumu, juga oma, dianjurkan untuk tidak berlibur ke sana."


"Kenapa begitu, Oma?" tanya Rangga.


"Ah iya Oma benar, aku udah lupa akan hal itu." Ada nada kecewa dalam ucapannya. "Sayang, di sana akses jalannya landai dan curam, gak semulus di sini. Jadi, tidak baik untuk kesehatan para orang tua, takut kelelahan." Menjelaskan pada Rangga yang sedang kebingungan.


"Karena itu, ayah kalian cuma memesankan tiket untuk kalian berdua saja."


"Lalu, Sunny?"


"Sunny ikut ayah. Bukankah dari dulu ayah sudah bilang kalau anak pertama kalian adalah milik ayah." Reyhan mencium pipi Sunny yang dalam gendongannya dengan gemas. "Ya, 'kan? Sunny 'kan mau ikut opa, tinggal di rumah opa sama oma." Lagi-lagi mencium pipi Sunny dengan gemas, hingga Sunny terkekeh geli.


"Tapi Yah, Cinta 'kan ...."


"Itu sudah perjanjian ayah sama Rangga dari dulu." Dengan cepat Reyhan memotong ucapan Cinta. "Apa kau ingin melanggar perjanjian itu sekarang?" Melayangkan sorot mata elangnya ke arah Rangga yang sedari tadi hanya bisa mematung.

__ADS_1


"Ti-tidak Ayah, mana berani aku melakukan itu." Rangga menggaruk kepalanya yang tidak gatal sembari melirik ke arah Cinta yang tampak kaget dengan ucapan Reyhan.


"Baguslah, jika tidak, aku akan mengambil Cinta lagi sebagai gantinya." Kembali ke sifat arogan dengan menyunggingkan sudut bibirnya. Reyhan menyeringai yang membuat Rangga bergidik ngeri detik itu juga. Dia baru bertemu Sunny dan masih merindukannya tapi, sudah harus berpisah lagi. Namun, kalau dia menolak dia harus siap kehilangan Cinta lagi. Mertuanya itu memang otoriter.


"Kalian masih produktif, bisa nambah yang seperti Sunny lagi." Diana ikut menggoda Sunny dengan uyel-uyel pipi gembul itu. "Bikin yang banyak, biar suasana rumah jadi rame. Ayah dan Ibu tidak harus kesepian lagi."


"Tapi, Bu ...."


"Kasihkan saja, Cinta. Dengan Sunny ikut kami pulang, tandanya kalian bisa lebih fokus dengan bulan madu kalian. Termasuk bisa fokus dengan tujuan kalian untuk bikin adik buat Sunny." Soraya ikut-ikutan tertawa mengejek.


Tapi akunya yang belum siap, batin Cinta.


"Boleh, 'kan Bunda, Sunny ikut opa sama oma?" tanya gadis kecil itu dengan lugunya.


Rangga dan Cinta saling pandang. Kemudian, terdengar helaan napas panjang dari bibir Cinta. "Iya boleh Sayang," jawabnya lesu. Dia hafal bagaimana watak ayahnya yang bak diktator. Dia tidak akan bisa menang melawan Reyhan, sekuat apa pun dia berusaha mempertahankan Sunny.


"Baiklah, kami harus segera masuk, sepertinya pesawat akan segera take off." Soraya menyadarkan mereka setelah mendengar suara operator yang melakukan panggilan terakhir. Kemudian, mereka melakukan acara cipika-cipiki diantara semuanya.


"Kami tinggal ya," ucap Diana sebelum bersiap menarik kopernya.


"Sunny berangkat ya, Ayah sama Bunda?"


"Iya Sayang, nanti jangan nakal ya di umah opa. Harus nurut apa kata oma sama opa, ok!" Cinta menyatukan jari telunjuk dan ibu jarinya membentuk huruf O. Dia berusaha tetap tersenyum meski hatinya kini sedang mencelos. Membayangkan dia harus berpisah dengan Sunny.


"Ok, Bunda." Lagi-lagi Cinta mencium putrinya sebelum Reyhan membawa Sunny memasuki terminal keberangkatan.


"Dahhh, enjoy your honeymoon." Diana dan Soraya mengerling ke arah Rangga dan Cinta.


Rangga merangkul bahu Cinta, memandangi kepergian orang tua dan putri mereka dengan perasaan campur aduk.


...****************...


"Kamu kapan bikin perjanjian seperti itu sama ayah?" tanya Cinta saat mereka sudah di dalam mobil dalam perjalanan kembali ke hotel.


"Em, waktu ayah memanggilku ke ruangan kerjanya sebelum kita pindah ke apartemen."

__ADS_1


Cinta menerawang, mencoba mengingat kejadian itu.


"Hm, jadi waktu itu," ucapnya lemah.


Rangga mengusap kepala Cinta. "Aku juga sedih tapi, Sunny 'kan tinggal sama kakek dan neneknya, Sayang. Lebih baik sekarang kita fokus untuk bulan madu dan adik buat Sunny."


"Dari kemarin aku udah mikir itu terus, kamu gak pakek pengaman padahal aku juga belum KB." Cinta memijit keningnya, lalu bersandar pada jok mobil. Kepalanya tiba-tiba saja terasa berdenyut.


"Terus, masalah gitu?" Rangga melirik Cinta sekilas.


"Hm, kalo jadi gimana?" Kali ini sudah memejamkan mata. Rasa kantuk dan lelah bercampur jadi satu.


"Ya bagus dong, artinya Sunny punya adik, seperti yang kita semua inginkan." Rangga tersenyum lebar sembari kembali mengusap kepala Cinta.


"Tapi aku belum siap," gumamnya pelan, "aku masih kebayang sama caesar yang kemarin."


Rangga segera menepikan mobilnya.


"Kenapa berhenti?" Cinta membuka matanya kembali lalu melihat sekelilingnya. "Kita 'kan belum sampai hotel."


Rangga melepas seatbelt lalu mengecup kening Cinta dengan lembut.


"Maafkan aku karena tidak ada di sisimu waktu itu." Wajahnya terlihat sendu. Dia mengusap perut Cinta. "Apa ini sangat menyakitkan?"


Cinta tersenyum tipis. "Tidak Kak, aku tidak merasa sakit. Waktu itu 'kan dibius. Aku cuma merasa belum siap aja. Aku takut jika aku hamil lagi waktuku untuk Sunny akan terbagi."


"Tapi sekarang Sunny sudah sama ayah dan ibu."


"Ha iya, kamu benar, Kak. Sudahlah, lebih baik sekarang kamu jalankan lagi mobilnya biar bisa segera sampai di hotel. Aku ingin segera beristirahat. Lagipula kita harus menyiapkan keperluan kita untuk berangkat ke Nusa Penida besok pagi."


Rangga tersenyum dan mengacak-acak rambut Cinta, lalu mengecup pipinya sebelum melajukan mobilnya kembali. Mereka harus beristirahat untuk menyimpan tenaga karena untuk mengeksplore Nusa Penida dibutuhkan stamina yang kuat.


...****************...


Next chapter jangan sampai kelewat ya guys, othor mau ajak kalian traveling nih🤭

__ADS_1


__ADS_2