
Byuuuurrrrrr ....
"Ups, sorry gue kepleset." Gilang mengangkat kaki kanannya dan menggoyang-goyangkannya. Memberi kode pada Cinta dan juga Rangga kalau dirinya tidak sengaja menyenggol Rangga hingga Cinta dan Rangga nyebur ke kolam.
Gilang menunjukkan cengiran bodohnya, sedangkan yang lainnya mengulum senyum. Melihat Cinta yang jatuh ke kolam dalam pelukan Rangga. Benar-benar modus!
"Ish, Kak Gilang nih, hati-hati makanya," sungut Cinta sembari mengusap wajah dan rambutnya yang basah.
"Maaf deh maaf, aku 'kan gak sengaja, Cin." Gilang mencoba membela diri. "Maaf juga ya Tuan Ben," ucap Gilang sembari mengulurkan tangannya untuk membantu Rangga naik ke atas kolam.
"Hm, tidak masalah." Rangga melepaskan pelukannya pada Cinta dan itu membuat Cinta sedikit kecewa. Pria itu meraih tangan Gilang untuk naik ke atas kolam.
"Aduh, Anda jadi basah kuyup begini." Gilang menunjukkan raut wajah bersalahnya.
"Tidak masalah, aku ...."
"Bunda." Suara mungil Sunny menghentikan ucapan Rangga. Pria itu segera menengok ke arah Sunny yang sudah memeluk pinggang Cinta. "Bunda, gak apa-apa?" Bocah perempuan itu terlihat khawatir.
"Iya Sayang, Bunda baik-baik aja." Cinta tersenyum dan mengusap rambut putrinya.
Sementara Rangga yang menyaksikan itu hanya bisa menghela napas berat lalu memejamkan mata, meredam keinginannya untuk turun dan memeluk kedua wanita yang sangat dia cintai dan rindukan itu.
Gilang menepuk-nepuk pundak Rangga.
"Sepertinya aku harus kembali ke hotel untuk mengganti pakaianku. Apa tidak apa-apa jika Tuan Gilang menunggu lama?" Rangga mengedipkan sebelah matanya pada Gilang yang tentu saja Gilang sangat paham artinya.
"Memangnya Tuan Ben menginap di hotel mana?" Gilang memulai sandiwara mereka.
"Di Nusa Dua, akan butuh waktu lama, bagaimana? Apa Tuan cukup berdiskusi dengan Mario saja?"
__ADS_1
"Em, apa Tuan Ben bersedia memakai pakaian suamiku?" Cika mendekat ke arah mereka. "Ganti pakai baju kak Gilang aja, kayaknya ukurannya sama. Kalau harus ke Nusa Dua dulu keburu masuk angin."
Demi apa? Lihatlah betapa pandainya suami istri itu bersandiwara. Bukan hanya Cika dan Gilang saja tetapi, semua orang yang ada di sana dengan lihai berakting di hadapan Cinta.
"Baiklah." Rangga manggut-manggut, mengiyakan ucapan Cika.
"Kalau begitu Sunny biar sama aku, Kak Cinta tolong antar Tuan Ben ke kamarku, ya?" Bola mata Cinta seketika membola mendengar ucapan Cika.
"Kenapa aku?" protes Cinta.
"Lalu, siapa lagi? Masak aku?" Cika balik protes. "Tuan Ben itu 'kan kak Rangga, suamimu," bisik Cika di telinga Cinta.
Cinta tampak berpikir sebentar, dia melirik Rangga dan Gilang yang menatapnya, menunggu jawaban darinya. Akhirnya mau tidak mau, Cinta mengangguk dengan pasrah. Memang benar kata Cika, selain dirinya siapa lagi yang lebih pantas menemani Rangga berganti pakaian.
"Sunny, bunda tinggal sebentar, ya. Kamu sama tante Cika dulu, gak apa-apa, 'kan?" Sunny hanya mengangguk. Cinta lalu tersenyum dan mengusap kepala putrinya, membuat Rangga yang menyaksikan hal itu semakin terenyuh. Rangga mengepalkan tangannya. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi tetapi, demi tujuannya memberi Cinta pelajaran, Rangga tetap berusaha untuk menahan keinginannya.
...****************...
"Dia juga putrimu," jawab Cinta pelan sebelum menutup pintu.
"Putriku?" tanya Rangga masih dengan kepura-puraannya.
"Hm," jawab Cinta sembari berlalu ke kamar utama. Dia membuka lemari pakaian dan memilihkan kemeja juga celana milik Gilang untuk Rangga. Sementara Rangga hanya memperhatikan Cinta dari belakang. Pakaian basah yang melekat di tubuh Cinta sukses mencetak setiap lekuk tubuh gadis itu.
Gila! Hanya dengan melihat Cinta dari belakang saja sudah mampu menggugah naluri kelelakiannya.
Tahan, belum saatnya. Batin Rangga saat miliknya yang di bawah sudah meronta-ronta ingin menengok rumahnya.
"Ambilah, sepertinya ini pas untukmu." Cinta menyerahkan kemeja dan celana yang dipilihnya tadi untuk Rangga.
__ADS_1
"Kamu tidak ingin menceritakan padaku tentang putri yang kamu bilang adalah putriku juga? Hm?" pancing Rangga sembari menerima pakaian ganti dari Cinta.
"Untuk apa? Toh kamu tidak akan percaya. Yang ada kamu malah sakit kepala lagi nantinya," cibir Cinta, "lebih baik cepat ganti pakaianmu, kita giliran." Cinta mendudukkan dirinya dengan malas di kursi meja rias. Kemudian, mengambil paperbag yang dibawanya tadi yang berisi baju ganti untuk dirinya.
"Kenapa giliran? Bukankah katamu, aku suamimu, kenapa tidak barengan saja?" Rangga mendekati Cinta, mengurung tubuh Cinta di antara kedua tangannya yang bertumpu pada meja rias.
Cinta menelan ludahnya, tengkuknya seketika meremang saat Rangga menyunggingkan senyum yang Cinta sangat hafal artinya. Dadanya bergemuruh tidak karuan saat Rangga menurunkan wajahnya.
"Kak," panggil Cinta pelan. Wajah Rangga semakin dekat. Bahkan Cinta bisa merasakan napas hangat Rangga menyapu wajahnya. Cinta meremas jarinya. Sungguh, berada dalam jarak sedekat ini dengan Rangga membuat jantung Cinta serasa ingin meledak saat ini juga. Sorot matanya, senyumnya, dan aroma maskulin tubuhnya, masih tetap sama seperti dulu. Berkali-kali Cinta harus membuang napas untuk menetralkan degup jantungnya.
Sumpah demi apa pun Cinta sangat gugup sekarang. Kalau dipikir-pikir, kenapa Cinta harus merasa gugup? Bukankah Rangga adalah suaminya? Bukankah dulunya mereka sudah terbiasa berdekatan seperti ini? Kenapa sekarang Cinta malah bertingkah menggelikan seperti ini?
"Seberapa besar kamu mencintaiku?" tanya Rangga pada Cinta.
"Hah?" Cinta melongo polos.
"Kamu bilang kita adalah suami-istri."
"I-iya," jawab Cinta gugup, "aku sangat mencintaimu, Kak."
"Lalu, kenapa kita bisa berpisah? Kenapa aku tidak melihatmu saat aku terbangun dari koma?"
Cinta menggigit bibir bawahnya, butiran bening sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Maafkan aku," isaknya.
"Untuk?"
"Untuk kesalahanku karena meninggalkanmu."
__ADS_1
"Kenapa kamu meninggalkanku?"