
"Oke, kalau itu yang membuat kamu bahagia. Kamu ingin aku mati? Baiklah, aku bakalan turuti keinginanmu detik ini juga."
Beberapa puluh menit berlalu, suasana menjadi sangat hening setelah ucapan terakhir Rangga tadi. Cinta yang berdiri di balik pintu kamarnya mulai merasa khawatir. Khawatir jika Rangga membuktikan ucapannya. Ya Tuhan, demi apa? Kenapa Cinta masih saja mengkhawatirkan pria yang sudah menyakitinya?
Cinta bergegas membuka pintu, menuruni tangga untuk menuju ruang tengah tetapi, tidak menemukan Rangga di sana. Kemudian, dia memutuskan menuju teras, berharap pria itu belum meninggalkan rumah untuk melakukan tindakan konyol. Namun, lagi-lagi dia tidak menemukan Rangga. Hanya dua penjaga yang berdiri di sana yang menatapnya dengan heran.
"Ada apa, Nona? Sepertinya Nona sedang mencari seseorang," tanya salah seorang dari mereka.
"Ah iya, apa kalian melihat kak Rangga? Di mana dia? Apa dia sudah pergi? Cepat katakan padaku!" Dengan wajah panik Cinta mencerca kedua penjaga itu yang membuat kedua penjaga saling pandang lalu menatap Cinta dengan menautkan kedua alisnya.
"Maaf Nona, kami belum melihat Tuan Muda keluar dari tadi."
Mata Cinta membola setelah mendengar jawaban mereka, "Benarkah?"
"Iya Nona, kami hanya melihat Tuan bersama Nyonya Diana saja tadi."
"Lalu, di mana dia?" gumam Cinta.
"Kamu mencariku, Sweetheart?"
Entah dari mana datangnya, tanpa Cinta sadari Rangga sudah berdiri di depan pintu dan tersenyum manis pada Cinta.
"Gak usah ge-er!" Cinta mendorong bahu Rangga dan melengos masuk kembali ke dalam rumah. Dia merasa malu karena tertangkap basah masih mengkhawatirkan pria itu.
Bodoh! Harusnya aku tidak usah keluar dan mencarinya tadi. Harusnya aku sadar, itu hanya taktiknya untuk membuatku iba dan luluh untuk mau memaafkannya. Cinta terus menggerutu dalam hatinya sembari melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamarnya.
"Cinta tunggu, kita harus bicara." Dengan cepat Rangga menghalau pintu begitu Cinta hendak menutupnya.
"Gak ada yang perlu dibicarakan lagi. Minggir! Aku mau istirahat," tegas Cinta sembari ingin menutup pintu kembali.
__ADS_1
Namun, lagi-lagi Rangga menghalaunya. "Tidak, kita harus bicara."
Cinta memutar bola mata malas. "Hm, cepatlah mau bicara apa? Aku gak punya banyak waktu."
Rangga menghela napas panjang, "Aku tau aku salah ...."
"Baguslah," potong Cinta.
"Aku sudah gak jujur sama kamu ...."
"Pastinya,"
"Tapi aku punya alasan kenapa aku melakukan itu ...."
"Ya, aku tau itu."
"Hm, aku sangat tau pasti alasanmu apa."
"Iyakah? Berarti kamu sudah memaafkanku?" tanya Rangga semangat. Dia sudah yakin Cinta pasti bisa mengerti keadaannya malam itu. Kenapa dia harus berbohong mengenai lemburnya dan pergi bersama Agnes. Cinta adalah wanita yang bijaksana, dia pasti bisa memahami kondisi yang dihadapi Rangga malam itu.
"Tidak! Tidak sama sekali." Cinta menatap Rangga jengah membuat senyuman di bibir pria itu seketika mengendur.
"Kenapa?" lirihnya. Dipegangnya kedua lengan Cinta dan ditatapnya lamat-lamat wajah istrinya itu.
"Aku pikir, aku tidak perlu mengatakannya lagi karena aku yakin sebenarnya kamu sudah tau pasti jawabannya." Cinta menepis kedua tangan Rangga demi membebaskan kedua lengannya dari sentuhan pria itu.
"Tidak Sayang, kamu hanya salah paham. Aku ...."
__ADS_1
"Stop! Aku gak mau dengar apa-apa lagi. Aku lelah. Sangat lelah karena selalu, selalu, dan selalu mendengar kata maaf darimu. Kamu tidak mau konsisten dengan ucapanmu sendiri. Aku hanya seorang wanita, seorang manusia biasa. Aku punya kesabaran dan kesabaranku ada batasnya. Kini, aku sampai di batas kesabaranku itu."
"Aku mohon Sayang, kasih aku kesempatan satu kali lagi," pinta Rangga dengan menunjukkan wajah seriusnya yang dijawab gelengan kepala oleh Cinta.
"Tidak Kak, ini sudah cukup buatku. Aku tidak ingin terluka lagi setelah ini."
"Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?"
"Buat apa cinta kalau pada kenyataannya hanya mendatangkan luka. Aku sudah mengambil keputusan, kita pisah!" ucap Cinta tegas dan jelas. Membuat Rangga seketika itu juga terasa mati di tempat. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Dadanya sesak hingga dia kesulitan bernapas saat itu juga.
"Pisah?" Rangga meraih bahu Cinta agar mereka bisa bicara dengan menatap mata satu sama lain.
"Hm,"
"Apa kamu yakin? Ini cuma salah paham. Aku dan Agnes tidak mempunyai hubungan apa pun."
"Sekarang mungkin tidak tapi, siapa yang bisa menjamin kedepannya? Kalian berada di tempat yang sama sepanjang waktu, menghabiskan waktu bersama. Apa kamu yakin bisa selamanya menjaga hatimu? Apa kamu yakin lama-lama tidak akan punya perasaan lebih untuknya? Tidak, 'kan? Sekarang saja kamu sudah tidak bisa jujur apalagi nanti. Jadi, aku hanya ingin mengantisipasi semua itu dari sekarang."
"Sayang, kamu tidak percaya dengan cinta yang kupunya untukmu?" Semua ucapan Cinta memang ada benarnya tetapi, kalau Cinta tidak memberinya kesempatan bagaimana dia bisa membuktikan semuanya pada Cinta.
"Bagaimana aku bisa percaya jika sekarang kamu terus membohongiku. Seorang yang mencintai adalah dia yang tercipta untuk memberi kedamaian pada yang dicintai, setiap dekapannya menjanjikan kenyamanan, tuturnya adalah untaian cinta yang penuh kelembutan, dan semua tentangnya adalah lukisan indah penuh kebahagiaan, bukan kesedihan, kekecewaan, dan air mata."
"Aku sadar aku sudah sangat menyakitimu kali ini tapi, aku mohon Sayang, kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku sangat mencintaimu Cinta. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu." Rangga berniat merapatkan tubuhnya ke tubuh Cinta tetapi, Cinta mendorongnya.
Cinta menggeleng, dia memasang wajah tegasnya, mencoba sekuat tenaga menahan air mata yang sedari tadi sudah mendesaknya untuk minta dikeluarkan dari benteng yang membendungnya. Tidak. Dia tidak boleh menangis di depan Rangga. Dia tidak ingin pria itu tahu betapa berat baginya saat memutuskan untuk berpisah dari Rangga.
Cinta akui, Cinta sadar, dia sangat mencintai Rangga tetapi hidup tidak sekedar soal cinta. Buat apa cinta kalau harus terluka, harus hidup jauh dari kedamaian karena selalu dihantui rasa takut akan dibohongi dan ditinggalkan.
Sebagai seorang wanita yang Cinta butuhkan bukan pria yang hanya mencintainya tetapi, pria yang juga menghargainya, menganggapnya selalu ada, juga mampu memberinya kenyamanan dan kedamaian.
__ADS_1
Sayangnya Rangga sudah melupakan semua itu.
...****************...