Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Panik


__ADS_3

Anin menggeleng pelan, namun detik kemudian Anin kehilangan kesadaran sepenuhnya.


"A--Anin... Gak, Anin bangun! Hey, aku mohon buka mata mu!" Ucap Derald panik, ia menepuk pipi Anin lembut.


Nichol yang tengah mengemudi pun ikut panik, ia menambah kecepatan mobilnya.


"Nic, lebih cepat! Kita harus cepat bawa dia kerumah sakit..." Pekik Derald panik.


Derald memegang tangan Anin, terasa sangat dingin ia mengecek denyut nadi Anin yang semakin melemah.


"Nic, cepat Nic!!" Derald semakin panik. Ia berusaha memberi kehangatan dengan menggosok-gosok tangan Anin bergantian.


'Tes' tanpa Derald sadari air matanya kini luruh membasahi pipinya.


Nichol yang melihat itu semakin yakin, jika sahabat sekaligus bos nya itu benar-benar melabuhkan hatinya pada Anindira, Derald tulus mencintai Anin hingga ia begitu takut kehilangan gadis dalam pangkuan nya itu.


Jika, Derald harus memilih ia lebih rela Anin pergi menjadi pendamping pria lain dari pada Anin harus pergi selamanya dan tak akan pernah kembali.


Kini mereka sudah sampai dirumah sakit, Derald membawa Anin masuk dengan menggendong nya. Beberapa perawat menawarkan blangkar, namun Derald tidak mendengar mereka semua. Derald sedikit berlari namun ia juga sangat berhati-hati.


Beberapa kali Nichol meminta Derald menurunkan Anin di blangkar. Namun, seperti Derald tidak ingin jauh dari Anin, ia terus menggendong Anin memeluknya erat. Sesekali ia melihat wajah cantik Anin yang semakin memucat.


"Kamu akan baik-baik saja! Tolong bertahan lah!" Ucap Derald sangat pelan.


Nafas Derald tak beraturan, namun ia tak memedulikan nya. Yang Derald pikirkan hanya menyelamatkan Anin, ia tidak peduli pada dirinya sendiri. Sesampai nya di UGD, Derald menidurkan Anin di blangkar dengan hati-hati.


"Cepat panggilkan Mommy!" Pinta Derald pada perawat laki-laki yang mengikutinya untuk memanggil Tamara.


"Ta-tapi... Tuan" perawat itu hendak menjawab, namun Derald tak membiarkan perawat itu bicara.


"CEPAT PANGGIL DOKTER TAMARA, APA KAU TIDAK DENGAR!!" Suara Derald menggema di ruangan itu.


Semua orang di ruangan itu terkejut dengan teriakan Derald, terutama perawat itu. Namun, Derald tidak peduli, kemarahan Derald membuat lutut perawat itu terasa bergetar. Ia tidak bisa bicara lagi, Derald kembali menatap ke arah nya dengan tatapan mematikan. Dengan gerakan cepat ia melesat ke luar ruangan, sedangkan Derald kembali menggosok-gosok telapak tangan Anin. Dan diikuti beberapa perawat perempuan yang menggosok sebelah tangan Anin ada juga yang menggosok telapak kaki Anin.


Saat membuka pintu ia melihat Dokter Tamara berjalan ke arahnya bersama pria yang tadi bersama pria yang ada di dalam.


Dokter Tamara melewatinya begitu saja, lututnya benar-benar terasa lemas hingga ia jatuh di lantai. Perawat itu tidak peduli jika semua orang memperhatikan nya, salah satu teman nya mendekat.


Teman nya itu menepuk pundak nya,"Apa Lo gak tau siapa cowok yang gendong cewek tadi?" Ucap temanya, pria itu menggeleng cepat.


"Dia adalah Aderaldvin Dharmendra cucu dari pemilik rumah sakit ini, dan Dokter Tamara itu--"


"Ibunya?" Selanya cepat seraya menatap wajah teman nya.


Teman nya tersenyum, "Smart.." menepuk-nepuk pundak pria itu, kemudian berdiri kembali melakukan pekerjaan nya.

__ADS_1


Sedangkan perawat itu menganga tak percaya, bagaimana hal sepenting ini ia tidak tahu. Dirinya memang baru satu bulan bekerja disini, ia tahu jika Tamara adalah putri dari pemilik rumah sakit, tapi ia lupa mencari tau tentang anak-anak nya Tamara.


"Sial, kenapa gue gak tau soal itu? Akh bodoh banget sih gue!" Rutuk nya pada dirinya sendiri.


Tamara masuk, ia melihat Derald tengah meminta perawat disana untuk menyiapkan ruang VVIP untuk Anin dengan raut wajah panik.


"Derald?" Seru Tamara, mengalihkan perhatian Derald.


"Mom, tolongin temen Derald Mom!" Mata Derald memerah menahan tangis. Ia melihat Anin yang sudah seperti mayat, tubuhnya yang putih membuat Anin semakin terlihat pucat.


"Iya, kamu tenang. Lebih baik kamu tunggu diluar, ya" titah Tamara.


"Enggak Mom, aku mau disini!" Jawab Derald tegas tak terima dengan perintah Mommy nya.


Tamara melihat sebenarnya siapa pasien yang membuat putra nya begitu khawatir, karna sejak tadi ia tidak bisa melihat Anin karna terhalang tubuh Derald.


Mata Tamara membulat, "Astaga.. Anin?!" Tamara menggeser tubuh Derald sedikit kasar.


Kini giliran Tamara yang panik, bagaimana bisa Anin seperti ini. Mereka baru saja bertemu dan Anin baik-baik saja tadi.


"Derald, apa yang sebenarnya terjadi sama Anin?" Tanya Tamara panik, ia mulai mengcek keadaan Anin.


Derald tidak menjawab, ia bingung bagaimana Mommy bisa mengenal Anin? Pikir Derald.


"Derald, Mommy tanya kamu? Jawab!" Menaikan nada suara nya.


"Terus kenapa baju kalian semua basah?" Ucapnya seraya melakukan pekerjaan nya, dengan cekatan.


"Kita semua kehujanan diluar, dan mungkin Anin seperti ini karna hujan jadi Anin kedinginan.. Akh Derald tidak tau Mom!" Jawab Derald klise, karna dia juga tidak tau kenapa Anin bisa seperti ini.


"Suhu tubuhnya sangat rendah Dok! Denyut nadi nya juga mulai melemah..." Ucap salah satu perawat wanita terlihat khawatir.


"Apa?!" Pekik Tamara, Ia memeriksa keadaan Anin yang semakin mengkhawatirkan. Ya, suhu tubuh Anin sangat rendah,


"Kalian terus gosok telapak tangan dan kakinya, berikan kehangatan!" Titah Tamara.


"Baik Dok," jawab mereka serempak, seraya terus melakukan pekerjaan nya masing-masing.


"Cepat ganti pakaian nya! Pakaian basah akan semakin membuat nya menggigil, " Ucap Tamara pada para perawat wanita di depan nya. Namun, mereka malah melihat ke arah Derald.


Mungkin maksud mereka ingin meminta Derald keluar, tapi mereka takut dan tidak berani. Mengingat salah satu teman nya tadi terkena amukan Derald.


Tamara yang melihat itu mengerti, "Derald kamu keluar lah!"


"Tapi, Mom.." Derald hendak protes, namun Tamara menyela ucapan nya.

__ADS_1


"Derald Mommy mohon! Mommy harus mengganti baju Anin!" Ucap ya tegas.


Derald pun pergi dengan berat hati. Ia berdiri tepat di depan pintu, entah apa yang ia pikirkan. Derald benar-benar melupakan keadaan nya sendiri, ia sama sekali tidak peduli dengan penampilan nya yang berantakan.


"Rald ngapain sih Lo berdiri disitu? Duduk! Apa gak pegel tuh kaki, nih gue udah bawa teh hangat buat Lo" Ujar Nichol yang muncul dengan membawa dua gelas teh yang masih mengepulkan asap di kedua tangan nya.


Walaupun Nichol terkenal dingin dan datar, namun terhadap Derald ia sangat pengertian dan perhatian.


"Ini, gue juga udah beli baju buat Lo. Cepetan ganti!" Memberikan paper bag kepada Derald, Derald pun menerimanya.


Derald melihat penampilan Nichol yang kini sudah rapi kembali dengan pakaian baru.


"Thanks!" Ucap Derald.


Derald menghampiri Nichol yang kini duduk di kursi tunggu, ia hendak duduk untuk sekedar minum teh hangat yang dibawa Nichol sebelum berganti pakaian. Belum juga ia mendaratkan bokong nya di kursi, Derald melihat perawat laki-laki hendak masuk ke ruang UGD.


Dengan cepat Derald menghadang berdiri di depan pintu memasang wajah datar dan sorot mata tajam terarah pada perawat pria itu. Nichol sampai melongo melihat tingkah Derald yang tiba-tiba berlari menghalangi jalan perawat itu.


"Mau kemana Lo?" Tanya Derald dingin.


"Saya mau mengantar ini kedalam Tuan" jawab perawat pria itu.


Derald melihat apa yang dibawa perawat itu adalah sebuah infusan dan beberapa obat-obatan.


"Apa ini untuk Anin?" Tanya Derald lagi.


"Bukan, ini untuk pasien yang lain Tuan" jawab nya tenang, walau hatinya ketar-ketir saat ini.


"Oh yasudah, Lo tunggu dulu disini sebentar, ada pasien yang sedang ganti baju di dalam" ujar Derald dengan ekspresi datar.


"Tapi, Tuan didalam itu ada gorden jadi pasti di tutup jika pasien tengah berganti pakaian" jelas nya dengan tenang, tidak mungkin ia menunggu sedangkan memberi Obat itu harus tepat waktu.


Derald tampak berpikir sejenak, "Kenapa gue lupa soal itu? Tapi kenapa Mommy minta gue keluar kalau gitu?" Batin nya.


"Tolong, permisi Tuan saya harus memberikan obat ini tepat waktu" ucap perawat itu memohon.


"Baiklah..." Derald menggeser posisi nya dengan wajah tanpa dosa.


Sedang Nichol terkekeh pelan melihat Derald yang mulai posesif pada wanita yang jelas-jelas bukan siapa-siapa nya.


"Kenapa Lo, ngetawain gue?" Celetuk Derald.


Derald melengos pergi begitu saja, meninggalkan teh hangat yang dibawa Nichol. Ia hendak mengganti bajunya yang basah.


...****************...

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian dengan Like Vote dan Komen, terimakasih🤗


__ADS_2