
Anin menghentikan aktifitas nya ia melihat jam diponsel nya, ternyata sudah pukul 11:29.
"Eughh..." Anin meregangkan otot-otot tangan nya.
"Kemana tu anak biasanya jam segini udah nongol sambil teriak-teriak ngajak makan?" Melirik ke arah pintu berharap Ocha datang.
Anin beranjak hendak keluar, namun Dilla masuk dengan membawa beberapa berkas ditangan nya.
"Bu Anin?" Dengan raut wajah terkejut.
"Kenapa?" Menatap Dilla heran.
"Maaf Bu, saya kira ibu gak ada di ruangan makanya saya masuk gak ketuk pintu!" Menundukan kepalanya, merutuki kesalahan nya.
"Kenapa kamu mikir saya gak ada di ruangan?" menaikan sebelah alisnya menatap Dilla serius.
"Karna tadi saya liat Bu Ocha pergi, saya kira Bu Anin pergi bareng Bu Ocha" jawab Della gugup.
Anin memang seperti macan betina jika dikantor. Ia sangat tegas dan disiplin, untuk pekerjaan Anin memang selalu serius kecuali saat bersama Ocha.
"Ocha pergi, kok gak ngajak gue?" Batin Anin, "yaudah gak papa. Ada perlu apa kamu ke ruangan saya?" Tanya Anin.
"Maaf Bu bukan saya lancang. Saya cuma mau nyimpen berkas ini aja, biar nanti pas Ibu balik udah ada di meja Ibu" jawab Dilla sopan.
"Loh emang kamu mau kemana?" Tanya Anin mengerutkan kening nya.
"Berhubung Bu Anin masih ada disini saya minta izin secara langsung saja" Anin mengangguk pelan seraya menatap Della serius.
"Adik saya sakit. Jadi saya mau izin jengukin adik saya di rumah sakit, dan mungkin saya kembali melebihi jam makan siang, tapi saya janji akan kembali lagi ke kantor" pinta nya penuh harap.
"Ya sudah kamu boleh pergi saya izinin" balas Anin lembut.
Dilla tersenyum senang, "terimakasih atas pengertian nya Bu, Bu Anin memang sangat baik" puji Dilla tulus.
Anin membalas dengan anggukan seraya tersenyum ramah, "Jika adik kamu sakit, masa iya saya larang kamu buat bertemu dengan nya" balas Anin.
"Ya sudah, berikan berkas nya" sambung Anin mengulurkan tangan nya.
"Oh iya ini Bu. Ini beberapa berkas untuk pertemuan kita dengan beberapa klien besok, dan yang lain nya hanya perlu Ibu tanda tangani saja" memberikan beberapa berkas kepada Anin.
"Kamu sudah pindahkan jadwalnya ke besok?" Tanya Anin meyakinkan.
"Iya Bu, saat Ibu minta saya untuk memindahkan jadwal meting nya. Saya langsung menghubungi mereka dan mereka menyetujuinya" jawab nya tersenyum ramah.
__ADS_1
"Baiklah, terimakasih Della. Kamu izin beberapa jam saja tapi kamu mengerjakan semua pekerjaan kamu dengan sempurna" puji Anin.
Ya. Saat Anin tiba di kantor pagi tadi, seperti biasa Dilla akan menemuinya dan memberikan agenda Anin setiap hari nya. Dan, sore ini seharusnya Anin ada meting dengan beberapa klien nya, namun Anin meminta Dilla untuk memindahkan jadwalnya karna ia ingin bertemu dengan Bastian sore ini.
Dilla tersenyum, " itu sudah tugas saya Bu. Kalo gitu saya pamit dulu, permisi!" Anin menganggukan kepalanya.
Karna malas keluar, akhirnya Anin hanya memesan makan siang nya lewat online. Tanpa terasa waktu sudah sore, Anin bergegas pulang ia sudah janjian dengan Bastian dan akan menjemputnya pukul 5 sore ini dan waktu Anin hanya sejam saja.
Lift terbuka, Anin sudah berada dilantai dasar. Beberapa karyawan menyapa nya ramah beberapa ada yang membungkukan badan nya memberi hormat.
Tepat di pintu masuk yang terbuat dari kaca itu Anin melihat Ocha. Anin bergegas keluar, saat Ocha hendak beranjak pergi Anin lebih dulu mencekal tangan nya. Ocha berbalik melihat siapa yang tengah memegang tangan nya.
Seketika tubuhnya menegang,"Anin?" Ucap Ocha lirih.
"Mau kemana kaya nya buru-buru banget?" Tanya Anin, setelah melepaskan cekalan tangan nya.
"Em,, itu gue ada urusan" jawab Ocha berusaha setenang mungkin. Namun, tidak dengan jantung nya yang berdetak lebih cepat.
"Urusan apa? Bahkan tadi siang Lo pergi tanpa ngajak gue, Lo pergi kemana?" Tanya Anin penasaran.
Ocha tampak berpikir keras, alasan apa yang harus ia katakan pada Anin. Hingga membuat keringat keluar dikening nya,
"Cha? Lo sakit?" Anin memegang kening Ocha mengelap keringat Ocha dengan ibu jarinya, " sampe keringetan gini?"
Ocha mundur beberapa langkah refleks mengusap kening nya cepat, "em,, gak gue baik-baik aja" memperlihatkan senyuman nya dengan terpaksa.
Anin menghela nafas nya kasar, "Ocha kenapa sih aneh banget? Kok gue ngerasa Ocha lagi ngehindarin gue ya?" gumam Anin.
Walaupun banyak pertanyaan di benak nya. Anin pun bejalan menuju mobilnya kemudian pergi.
Di jalan,"sorry Nin... Gue gak bermaksud ngehindarin Lo, gue cuma takut gak bisa nahan mulut gue dan ngasih tau yang sebenarnya sama Lo. Gue hanya bisa nunggu sampai Vina sendiri yang ngasih tau Lo, maafin gue Nin!" Gumam Ocha di dalam mobil nya.
Ocha memang tidak bermaksud menghindari Anin seperti ini, ia hanya berusaha menahan diri untuk tidak banyak bicara ketika bersama Anin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kamar. Anin sudah siap dengan penampilan nya, ia tengah menunggu Bastian menjemputnya. Tak lama terdengar deru mesin mobil, Anin merapikan rambutnya sedikit dan melesat pergi dari kamar nya.
Setelah berpamitan dengan kedua orang tua nya, Anin dan Bastian pergi dengan bergandengan tangan.
"Maaf, nunggu lama ya?" Tanya Bastian yang kini tengah menyetir mobil.
"Enggak kok, cuma setengah jam doang" jawab Anin datar.
__ADS_1
"Ngambek?" Tanya nya lagi.
"Enggak!"
"Maaf ya, soalnya tadi nanggung banget dikit lagi jadi aku selesain dulu kerjaan aku. Supaya aku tenang, karna malam ini kita akan menghabiskan waktu bersama" menggenggam tangan Anin dengan sebelah tangan nya.
Anin tersenyum tipis, kemudiaan ia segera mengalihkan pandangan nya ke samping.
"Kenapa berhenti?" Tanya Anin masih dengan eksfresi datar, saat Bastian menghentikan mobil nya.
"Tunggu sebentar ya!" Menatap Anin teduh. Kemudian Bastian keluar dari mobil nya, berjalan ke arah mini market.
Tak butuh waktu lama, Bastian kembali dengan menjinjing keresek ditangan nya.
"Beli apa dia?" Gumam Anin.
Bastian masuk ke mobil dan Anin kembali mengalihkan pandangan nya. Bastian tersenyum, lalu membuka kantong kereseknya. Mengeluarkan es cream strawberry, dengan jahil nya Bastian mengarahkan es cream itu disamping pipi Anin.
"Sayang..." Panggil Bastian, Anin mengalihkan pandangan nya tanpa diduga pipinya mengenai es cream yang dingin.
"Akh! Bastian?!" Anin mengusap-usap pipinya yang terkena es cream dengan raut wajah kesal.
Bastian terkekeh, melihat wajah Anin yang tampak menggemaskan walau sedang kesal.
"Haha... Maaf-maaf! Abis nya kamu ngediemin aku mulu. Nih es cream strawberry kesukaan kamu, biar kamu gak marah lagi" Anin menerima es cream kesukaan nya.
"Ceritanya ngebujuk nih?" Ujar Anin.
"Bisa dibilang iya..." Jawab Bastian dengan kekehan nya.
"Kita mau kemana sih Bas?" Tanya Anin seraya menikmati es krim ditangan nya.
"Ada deh" jawab Bastian dengan pandangan lurus kearah jalan.
40 menit perjalanan, Bastian menepikan mobil nya. Bastian turun memutari mobilnya hendak membukakan pintu untuk Anin.
"Ayo!" Mengulurkan tangan nya.
Anin menerima uluran tangan Bastian,"ini dimana?" mengedar tatapan nya ke sekitar.
"Gimana kamu suka tempatnya?" Tanya Bastian seraya berjalan beriringan.
...****************...
__ADS_1
Maaf baru bisa up lagi...
Dukungan nya jangan sampe kendor ya viss✌️ like, komen dan vote nya jangan lupa. Terimakasih🤗 Love sekebon for you all🥰