
"Maafin saya ya Dok, saya gak sengaja!" Ucap Anin merasa bersalah.
Mendengar suara yang tak asing baginya, Dokter itu pun mengalihkan pandangan nya melihat gadis dihadapan nya.
"Anin?" Ucapnya begitu lembut.
Anin mengalihkan pandangannya, "Tante Tamara.."
Anin dan Tamara berdiri bersamaan, Anin memperhatikan penampilan Tamara yang nampak cantik dengan jas putih khas seorang Dokter yang melekat di tubuhnya yang ramping.
Anin baru tau kalau Tamara itu ternyata seorang Dokter, "Em,, Tante maafin Anin ya! Anin yang salah, Anin jalan gak liat-liat tadi" ucap Anin dengan sangat menyesal.
"Gak papa, tadi juga Tante terlalu fokus baca laporan medis ini sampe gak memperhatikan jalan" jawab Tamara tersenyum lembut.
Anin tersenyum tipis,"Tapi-- semuanya jadi berantakan" Anin melirik beberapa file ditangan Tamara, ia benar-benar merasa tidak enak.
"Gak papa! Ini nanti ada yang beresin" ucap nya tersenyum hangat.
"Kamu ngapain disini? Apa ada yang sakit?" Tanya Tamara.
"Em.. Enggak ada yang sakit kok Tante, Anin kesini--" berpikir sejenak, "Habis jenguk temen" ucap Anin bohong.
Tamara mengangguk pelan, "Gimana kalau kita ngobrol di ruangan Tante aja?" Ajaknya.
"Tapi..." Sebenarnya Anin ragu, tapi ia juga tak tega menolak Tante Tamara.
"Ayolah sebentar saja!" Bujuk Tamara dan diangguki Anin.
Tamara tersenyum senang. Kini mereka berdua sudah berada di ruangan Tamara, pandangan Anin menyapu sekitar. Ruangan dengan nuansa putih itu terasa lebih nyaman, tatapan Anin beralih pada meja kerja Tamara Anin membelalak saat melihat posisi tamara dirumah sakit ini. Tamara mengikuti arah pandang Anin, ia tersenyum tipis.
"Duduk sayang!" Ucap Tamara yang sudah duduk di sofa lebih dulu.
"Tante Direktur dirumah sakit ini?" Tanya Anin setelah ia duduk disamping Tamara.
Tamara hanya tersenyum, "Wah... Anin pikir Tante hanya bekerja sebagai Dokter saja, tapi ternyata Tante Tamara juga Direktur nya?" Ujar Anin kagum.
Tamara hanya menanggapi dengan senyuman, ia tak perlu menjawab toh Anin sudah mendapat jawaban nya sendiri.
"O iya kamu mau minum apa?" Tawar Tamara lembut.
"Apa aja Tante" jawab Anin.
"Jus aja ya? Cuaca seperti sekarang ini kamu harus sering makan dan minum yang sehat supaya tidak mudah sakit" tawarnya dengan sedikit memberi penjelasan.
"Iya Tante" balas Anin mengangguk seraya tersenyum tulus.
Beginilah jika berhadapan dengan seorang Dokter. Bagaimana jadinya jika Anin punya mertua Dokter seperti Tamara, bisa-bisa setiap hari dirinya akan terus dinasehati perihal kesehatan nya. Padahal Anin adalah tipe orang yang cuek ia tidak terlalu memperhatikan kesehatan nya. Bahkan ia suka sekali makanan yang kurang sehat, seperti makanan instan dan makan pedas.
__ADS_1
Cukup lama Anin dan Tamara bicara, hingga ketukan pintu mengalihkan perhatian keduanya.
"Masuk!" Ucap Tamara.
Seorang perawat memasuki ruangan Tamara, dengan panik "Maaf saya mengganggu!" Ucapnya munduk hormat.
"Tidak papa. Apa ada masalah?" Tanya Tamara ramah.
"Iya Dok. Pasien di ruang ICU kritis!" Ucapnya cemas.
"Apa?" Tamara beranjak dari duduk nya. Tamara melihat ke arah Anin.
Anin ikut beranjak,"Gak papa kok Tante tangani saja pasien nya. Anin juga harus pergi"
"Maaf ya sayang..."
"Gak perlu minta maaf Tante, Anin ngerti kok" balas Anin tersenyum manis.
"Kalo gitu Tante pergi ya..."
Tamara mengusap pipi Anin sayang seraya tersenyum. Gak tau kenapa Tamara sangat menyukai Anin, walaupun mereka baru bertemu tapi rasa sayang nya pada Anin sudah seperti pada anaknya sendiri.
"Ayo sus!"
🌸🌸🌸
Anin berjalan dengan gontai, sesekali Anin menutup hidung nya. Anin benar-benar tidak suka berada dirumah sakit bau obat yang menyeruak membuatnya tak nyaman.
Anin bergegas keluar dari rumah sakit. Sesampainya diparkiran Anin melihat mobil Bastian sudah tidak ada ditempatnya.
"Gue bener-bener kehilangan jejak mereka" gumam Anin kecewa.
Ditengah perjalanan tiba-tiba mobil Anin berhenti, Anin berusaha menstater mobil nya namun tidak bisa sepertinya mesin nya mati.
"Sial! Kenapa disaat seperti ini, mobil ini malah mati?" Rutuk Anin memukul setir mobil nya.
Hari ini hari yang melelahkan. Hati, pikiran dan raga nya benar-benar lelah. Anin terus memikirkan hubungan Bastian dengan sahabatnya. Apakah wanita yang bersama Bastian dicafe itu juga Vina? Tapi kenapa? Apa mereka punya hubungan atau ada alasan lain? Pikir Anin.
Anin mengambil ponsel dari dalam tas nya, pertama Anin menelpon montir langganan nya. Ia melihat jam sudah pukul 3 sore, namun karna cuaca nya mendung membuat langit menjadi lebih gelap.
"Kenapa lagit juga ikutan mendung? Apa langit juga merasakan apa yang saat ini gue rasakan?" Gumam Anin sedih.
Anin keluar dari mobil, ia melihat sekitar namun sangat sepi hanya ada satu dua saja kendaraan yang lewat. Anin munghubungi Ocha, namun Ocha tidak mengangkat panggilan nya. Anin juga menelpon Papa nya, namun sama hal nya dengan Ocha Papa Adrian juga tidak mengangkat telfon nya.
"Kenapa mereka tidak ada yang mengangkat telfon nya?" Anin tampak gusar, sepertinya hujan akan turun di tambah suasana yang sepi membuat Anin menjadi takut disini sendirian.
Anin hendak masuk ke mobil, namun seseorang memegang pundak nya. Anin tersentak kaget ia berbalik melihat siapa yang berani menyentuhnya.
__ADS_1
"Siapa kalian?" Ketus Anin, melihat dua orang pria menyeramkan di depan nya.
Walaupun penampilan mereka biasa saja, tapi dari tatapan nya Anin merasa mereka mempunyai niat buruk terhadap nya.
Mereka menyeringai, menatap Anin dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Wah... Dia wanita cantik, bahkan sangat cantik" ucap salah satu dari mereka.
"Apa dia bidadari yang turun dari kayangan?" Ujar pria satunya lagi.
Mereka tertawa bersama. Entah, hal lucu apa yang membuat mereka tertawa, Anin mulai waspada, sepertinya laki-laki didepan nya ini bukan orang baik.
"Mobil mu mogok Nona?" Tanya pria yang tadi memegang pundaknya, Anin melihat tatapan nya sangat menakutkan. Menggeleng kepalanya pelan.
"Ti-tidak!" Anin hendak masuk kedalam mobil nya. Namun, pria itu menarik tangan Anin kasar.
"Apa yang kamu lakukan? Lepas!" Anin berteriak.
"Bagaimana kalau kamu ikut dengan kami, kita akan bersenang-senang?" Ucap nya menyeringai.
Anin membelalak, "Tidak! Aku tidak mau, Lepaskan! Aku bilang lepaskan!" Anin mulai berontak. Namun, cekalan di tangan Anin semakin kuat.
"Udah kita bawa aja! Lihat tubuhnya sangat indah, kulitnya putih mulus" ucap pria satunya, menyentuh pipi Anin.
Dengan cepat Anin menjauhkan wajahnya, "Jangan menyentuh ku, brengsek!" Pekik Anin.
Namun, pria itu semakin mendekatkan wajanya Anin beringsut mundur, "Dia juga sangat wangi" menghirup aroma parfum Anin.
Anin merasa jijik dan risih. Mata Anin mulai berembun, ia benar-benar takut, kejadian buruk ini terulang lagi padanya. Anin melihat sekeliling sangat sepi tidak ada yang lewat satupun. Tiba-tiba hujan turun, Anin menengadah keatas. Air matanya sudah luruh bersamaan dengan turunnya hujan.
"Toolongg!! Siapa pun, aku mohon tolong aku..." Teriak Anin keras.
Dengan cepat pria yang memegang tangan nya, menarik Anin kasar lalu membekap mulut Anin.
"Emm... Emm" Anin menepuk-nepuk tangan pria yang membekap mulutnya.
Anin diseret dengan kasar, namun Anin tidak menyerah ia terus berontak berharap ia bisa lepas. Dalam hati Anin berharap akan ada seseorang yang dagang dan menolongnya, Anin teringat Bastian ia berharap Bastian lah yang datang dan menyelamatkan nya.
Anin terisak, saat ini tubuhnya sangat lemah, kepalanya pusing, tangan nya terasa sakit. Namun, pikiran nya terus tertuju pada Bastian yang tengah bersama Vina, sahabatnya. Hatinya terasa perih saat bayangan Vina menggandeng tangan Bastian dengan mesra muncul seketika.
Sebuah mobil sport hitam berhenti mendadak, dua orang pria tampan turun dengan stelan jas melekat ditubuhnya mendekat ke arah Anin.
...****************...
Siapa tuh kira-kira? 🤔
Tinggalkan jejak kalian dengan Like, Vote dan Komen. Terimakasih🤗
__ADS_1