Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Cek Kandungan


__ADS_3

"Pagi semua," sapa Cinta pada Reyhan dan Diana. Dia meraih kursi dan mendudukkan dirinya di sana.


"Pagi Sayang," balas Diana dan Reyhan berbarengan.


"Gimana tidurmu, nyenyak? Cucu ibu gak rewel 'kan, minta yang aneh-aneh lagi?" canda Diana sembari menaruh nasi goreng di piring Reyhan.


"Sebenarnya sempat minta mangga sih Bu tapi, karena kelamaan nunggu si bibik datang nyariin mangganya, aku jadi ketiduran."


"Bukannya di kulkas ada mangga?"


"Itu mangga mateng Bu, cucu ibu minta mangga muda, pingin rujak Bu," jelas Cinta yang membuat Diana terkekeh senang begitu juga Reyhan, pria itu tampak menyunggingkan senyum di bibirnya.



"Yah, nanti aku pinjam ibu bentar ya?" tanya Cinta pada Reyhan.


"Pinjam ke mana?"


"Nganter aku cek kandungan," jawab Cinta yang membuat Reyhan dan Diana menghentikan kegiatan makanannya dan melirik Cinta sekilas.


"Lho, memangnya Rangga gak bisa nganter kamu?" tanya Diana basa-basi.


"Ya sudah, kalau ibu tidak bisa mengantarku, aku berangkat sama sopir saja." Cinta merengut karena mengira Diana tidak bersedia mengantarnya, padahal Diana sengaja melakukan itu untuk memancingnya agar berbaikan dengan Rangga.


"Bukan begitu Sayang, biar bagaimanapun Rangga adalah ayah dari anak dalam kandunganmu, dia berhak tau perkembangan calon anaknya." Diana mencoba menjelaskan maksudnya tetapi, Cinta hanya menjawab dengan helaan napas kasar.

__ADS_1


"Ibumu benar, jangan sampai Rangga seperti ayah waktu ibumu mengandungmu dulu." Reyhan menambahi yang dibalas cubitan oleh Diana di lengan kirinya. Diana merasa Reyhan sedang mengungkit kesalahannya dulu.


"Hei, aku bicara apa adanya. Kenapa kamu jadi mencubitku?" protes Reyhan pada Diana.


"Karena aku tersinggung dengan ucapanmu. Kamu sengaja memojokkanku, iya?"


Reyhan menaruh kembali sendok makannya, dia menghela napas dalam sebelum membalas tatapan Diana.


"Aku bukan ingin memojokkanmu Sayang, aku hanya ingin mencontohkan pada mereka tentang kesalahan yang kita buat di masa lalu. Aku tidak ingin mereka mengulang sejarah dan akhirnya menyesal seperti kita."


"Sudahlah Ayah, Ibu, kenapa jadi kalian yang berantem? Kita di sini untuk makan apa berantem?" protes Cinta pada kedua orangtuanya. Kemudian, dia beralih pada pelayan yang sedang menaruh gelas minuman di meja mereka.



"Bik, udah dapet mangganya?"


"Jangan sekarang Minah, masak sepagi ini udah rujakan. Gak baik Cinta," sela Diana sebelum Cinta sempat menjawab.


"Iya Bu," jawab Cinta sembari memindahkan nasi goreng ke piringnya, "oya, dapet di mana mangganya, Bik?"


"Tadi malam tuan muda yang membawanya pulang," jawab pelayan itu ragu-ragu yang membuat Cinta tertegun untuk sesaat.


"Oya? Jam berapa Rangga pulang? Kasian anak itu harus bolak-balik terus, perjalanan dari sini ke kantornya, 'kan lumayan jauh. Pasti dia sangat kelelahan. Ibu khawatir, lama-lama dia bisa sakit." Diana melirik Cinta demi melihat respon putrinya itu. Namun, Cinta tidak memberi tanggapan apa pun seolah tidak peduli dengan kekhawatiran Diana. Begitu juga dengan Reyhan, suaminya itu kembali sibuk dengan sarapannya. Persis seperti dugaan Diana, Reyhan memang tidak pernah peka dengan keadaan.


"Terus di mana Rangga sekarang? Apa dia sudah berangkat?" imbuh Diana tetapi, belum sempat pelayan itu menjawab, Rangga sudah muncul dan menyapa mereka.

__ADS_1


"Pagi semua," sapa Rangga dengan tersenyum manis. Dia bahagia karena akhirnya bisa melihat wajah Cinta setelah beberapa hari tidak dapat bertemu sama sekali. Seminggu ini Rangga berangkat subuh sebelum Cinta bangun dan pulang malam setelah Cinta sudah masuk ke kamarnya. Rutinitasnya hanya memandang pintu kamar milik Cinta sebelum berangkat dan sepulangnya dari kantor. Miris. Begitulah keadaannya sekarang.


"Aku akan sarapan di kamar." Cinta mendengus dan bersiap membawa makanannya ke kamarnya tetapi, segera dicegah Rangga.


"Tidak, tidak usah. Kamu lanjutkan saja makanmu di sini, aku ke sini hanya sebentar, ingin pamitan saja sama kalian." Senyumnya seketika pudar setelah melihat ekspresi Cinta begitu melihat kedatangannya yang tidak sesuai dengan ekspetasi Rangga sebelumnya.


"Kamu pasti kelelahan ya, makanya tumben jam segini belum berangkat." Diana sengaja mendramatisir ucapannya. "Wajah kamu pucat Ga, kamu sakit?" imbuhnya sembari melirik Cinta yang ternyata tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Diana barusan. Cinta hanya diam menunduk menatap makanannya. Padahal ucapan Diana ada benarnya, Rangga memang terlihat pucat. Mungkin akibat kurang tidur beberapa hari ini.


"Kalau kamu sakit istirahat saja di rumah. Jangan dipaksakan," komentar Reyhan sebelum meneguk minumannya.


"Tadinya aku memang mau ijin sama Ayah untuk gak ngantor hari ini," ucap Rangga memberanikan diri, "rencananya aku mau ngantar Cinta cek kan-du-ngan," imbuhnya dengan ragu-ragu sembari melirik Cinta. Berharap gadis itu mau melihat ke arahnya. Namun, harapannya sia-sia karena Cinta masih bergeming di tempatnya.


"Aku akan berangkat ke dokter dengan ibu. Jadi, kamu tidak usah repot-repot untuk tidak ke kantor. Kasian nanti selirmu menunggu," cibir Cinta pedas.


"Sayang ...."


"Aku sudah selesai, aku mau balik ke kamar Yah, Bu, aku duluan." Cinta menyela ucapan Rangga. Dia bicara dan berlalu dari tempat itu tanpa menatap Rangga sedikit pun.


Reyhan meletakkan gelas minumannya dan tampak menghela napas panjang begitu juga dengan Diana. Sementara, Rangga hanya menatap kepergian Cinta dengan tatapan nanar.



...****************...


Gimana guys, suka? kalau suka jangan lupa jempol kalian ya🤭

__ADS_1


Aku tunggu lho😁


Luv u all yang sudah mampir dan selalu ngedukung Cinta sama Rangga😘😘😘


__ADS_2