Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Pernyataan Derald


__ADS_3

Bagaimana bisa Anin berkata seperti itu? Tidak mudah baginya melupakan Anin, Derald mati-matian menghilangkan perasaan nya namun selalu gagal. Dan, sekarang dengan mudahnya Anin memintanya untuk pergi dari hidupnya. Tidak, Derald tidak bisa!


Bahkan sebelum ia menemui Anin pun, Derald tengah memandang kartu undangan pernikahan Anin pedih, Ia juga merenungi hidupnya. Kenapa takdir begitu kejam padanya, baru pertama kalinya Derald merasakan jatuh cinta bahkan ia belum menggapai cintanya. Derald baru melebarkan sayap nya, ia belum sempat terbang namun sayapnya sudah lebih dulu di patahkan oleh kenyataan.


"Tunggu! Aku ingin menunjukan sesuatu pada mu," Ujar Derald yakin.


Anin berbalik menatap Derald yang juga tengah menatapnya sendu.


"Tapi sebelum aku menunjukan nya, aku ingin bertanya sesuatu" Ucap Derald.


"Katakan!" Jawab Anin yakin.


"Apakah kamu mengetahui sesuatu?" Menatap manik Anin yang terlihat sayu.


"Tidak! Itu sebab nya aku bertanya padamu," Jawab Anin bohong.


Untuk saat ini Anin ingin merahasiakan kalau ia sudah tau sesuatu, ia hanya ingin melihat sampai dimana semua orang menyembunyikan kebenaran darinya.


Derald menatap manik itu dalam, ia ingin mencari kebohongan disana. Namun, dengan cepat Anin mengalihkan pandangan nya. Dan itu membuat Derald semakin yakin jika Anin sudah mengetahui sesuatu.


Di dalam mobil, Ocha nampak gelisah. Ia menyusuri setiap jalan tapi sepertinya Anin sudah pergi jauh. Ocha berusaha menelpon Anin, tapi telpon nya tidak aktif. Baru saja Ocha berpikir ingin menelpon rumah Anin, Alin sudah menelpon nya lebih dulu.


"Tante Alin..." Gumam Ocha.


"Hallo, Tante?" Sapa Ocha setelah mengangkat panggilan nya.


"Cha, apa Anin sama kamu? Bi Lani bilang Anin pergi ke rumah kamu..." Ucap Alin di sebrang telpon dengan nada cemas.


"Apa? Berarti Anin belum pulang ke rumah nya, lalu dimana dia?" Batin Ocha cemas.


"Em,, iya Tante. Anin ada di rumah sama Ocha" jawab Ocha bohong.


"Lalu dimana dia? Tante ingin bicara dengan nya. Soalnya Tante telponin dari tadi hp nya gak aktif" ucap Alin berubah kesal.


"Mati gue!" Merutuki dirinya sendiri.


"Cha?" Panggil Alin, karna Ocha diam saja.


"Iya Tante," Sahut Ocha.


"Anin mana, Tante ingin bicara dengan nya?" Ulang Alin.

__ADS_1


"Oh, em.. Itu Tante, Anin... Anin lagi di... Kamar mandi, ya. Katanya tadi perutnya sakit" jawab Ocha lagi-lagi berbohong.


"Kualat nih pasti gue, bohongin orang tua..." Ucap Ocha dalam hati seraya memajukan bibirnya beberapa centi.


"Anak itu benar-benar, padahal Tante udah bilang jangan keluar rumah. Tapi dia tetep aja ngeyel," gerutu Alin kesal.


"Ocha tolong, nanti bilangin sama Anin jangan keluyuran kemana-mana dan cepet pulang!" Sambung Alin.


"Oh iya Tan, nanti Ocha kasih tau Anin ya.." balas Ocha cepat.


"Ya sudah, Tante tutup telpon nya. Tante masih banyak kerjaan."


"Iya Tante," jawab Ocha.


'Tut! '


"Aninn... Lo dimana sih?" Gumam Ocha, menambak kecepatan mobilnya.


......................


"Cepat katakan, aku tidak punya banyak waktu!" Ujar Anin tanpa melihat Derald.


"Jujur aku tidak mengetahui pasti, aku hanya memiliki sesuatu yang mungkin bisa membantu mu" perkataan Derald sukses mengalihkan pandangan.


Derald merogoh ponsel didalam saku celana nya, ia mengotak-atik nya dan setelah nya memberikan ponselnya pada Anin.


"Ini, kamu lihat saja sendiri" tukas Derald.


Anin menatap Derald sekilas lalu beralih pada benda pipih didepan nya. Jujur ada rasa takut di hatinya, tapi Anin harus siap. Anin harus mengetahui semua kebenaran, sebelum pernikahan nya terjadi.


Tangan Anin terulur, Derald melihat tangan Anin gemetar. Kini ponsel Derald sudah beralih di tangan Anin, sejenak Anin memandangi benda itu. Terdengar beberapa kali Anin menghela nafasnya, hingga akhirnya dengan penuh hati yang kuat Anin membuka ponsel Derald dan memutar Vidio didalam nya.


"Ini..." Ucap Anin dengan suara gemetar.


"Ya itu kekasih mu bersama wanita yang kamu sebut sahabat" jawab Derald cepat.


"Bagaimana kamu mendapatkan nya?" Tanya Anin dengan ekspresi wajah terkejut.


"Kamu ingat, restoran saat pertama kali kita ketemu" Anin mengangkat sebelah alisnya, "Itu adalah restoran milik orang tua teman ku. Dan dia juga yang mengirim vidio itu pada ku" jelas Derald.


"Gak, ini pasti mereka cuma gak sengaja ketemu disana" Anin mencoba untuk tidak percaya, namun tidak dengan hatinya. Hatinya sakit sekali melihat Vina begitu dekat dengan Bastian.

__ADS_1


Bagaimana tidak, dalam vidio memperlihatkan Vina yang tengah mengelus dada Bastian dan posisi mereka sangat dekat. Jelas, Anin tidak suka ia cemburu melihat Bastian begitu dekat dengan Vina, sekalipun Vina adalah sahabatnya.


"Kalo memang seperti itu, kenapa pacar kamu tidak memberi tahu mu?" ucap Derald, mengalihkan perhatian Anin padanya.


"Kamu ingat, saat kita di Villa? Aku dan pacar kamu berantem waktu itu, kamu bertanya kan padanya apa alasan dari perkelahian kami?" Anin menatap Derald dengan mata berkaca-kaca.


"Apa dia menjawab mu? Tidak! Itu karna aku menunjukan vidio ini pada nya dan dia sangat marah hingga dia memukulku saat itu," Anin yang mendengar penuturan Derald sangat terkejut ia sampai menutup mulutnya, bahkan buliran bening itu meluncur dengan bebas.


"Ada satu lagi," ujar Derald mengambil ponselnya dari tangan Anin.


"Kamu liat ini!" Derald menunjukan vidio saat Bastian dan Vina berada di cafe Billy.


Anin bersikap biasa saja, ia sudah melihat Vidio itu dari flashdisk yang di kasih Ocha, tapi bagaimana Derald mendapatkan vidio ini? Pikir Anin.


Namun, yang membuat Anin terkejut adalah vidio Derald lebih lengkap dari milik Ocha. Disana menunjukan saat Bastian dan Vina saling menyuapi.


"Apakah ini bisa di bilang wajar? Bagaimana mungkin laki-laki yang berstatus tunangan mu itu menyuapi sahabat mu dengan begitu mesra?" Ucap Derald tegas.


Derald tak ada sedikitpun maksud untuk mengompori Anin. Ia terbawa emosi, karna dengan tega nya Bastian menyakiti wanita sebaik dan setulus Anin.


Derald mendapatkan vidio itu dari Billy. Billy memberikan vidio lengkap nya, sedangkan Ocha hanya melihat sebagian nya saja.


Anin mengepal kuat, ia berusaha menahan amarah dalam dirinya. Tapi, tidak dengan air matanya yang terus saja mengalir. Perkataan Derald sukses membuat hatinya merasa nyeri, betapa bodoh nya dirinya. Sampai-sampai Anin tidak menyadari jika Bastian dan Vina memiliki hubungan dibelakang nya.


Anin merasa tak sanggup ia mundur beberapa langkah, hingga kini tangannya bertumpu pada pohon besar didekatnya. Anin pikir ia mampu menahan nya, tapi ternyata ini sangat menyakitkan.


Cinta, kepercayaan dan ketulusan yang selama ini Anin jungjung tinggi, kini malah menghancurkan dirinya sendiri. Anin tidak bisa menahan nya lagi, pecah sudah tangisannya saat ini. Ia tidak peduli jika saat ini Derald berada dihadapan nya.


Tangisan Anin begitu pilu, hingga membuat Derald tak sanggup mendengar isak tangis Anin yang sudah seperti belati yang menghunus dadanya.


"Aku rasa sudah cukup!" Ucap Derald hendak mendekati Anin.


Seketika Anin menghentikan tangisan nya, mata basah nya menatap Derald.


"Apa maksud kamu cukup?" Ujar Anin dengan suara serak karna tangis, "Jangan bilang masih ada sesuatu yang kamu ketahui lagi..." Tebak Anin menatap Derald tajam.


...****************...


Bonus nih... Lunas ya 2 episode😁


Jangan lupakan Like, Komen dan Vote ya...

__ADS_1


Biar Author makin semangat nulis nya, kasih juga hadiah nya🤭 Udah gitu aja tatah...👋


Happy reading🤗


__ADS_2