Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
He Left Me


__ADS_3

Ding dong! Ding dong! Ding dong!


Dengan tersenyum lebar Cinta berdiri di depan pintu kamar Rangga. Pagi ini dia sengaja berangkat lebih awal ke hotel, dia ingin mengajak Rangga dan Sunny sarapan sebelum jam kerjanya dimulai. Senyumnya mengembang saat membayangkan semua itu. Setelah sekian lama akhirnya mereka akan menikmati sarapan bersama. Namun, sudah dua menit berlalu tetapi, pintu kamar Rangga belum juga terbuka.


"Apa mereka belum bangun? Harusnya aku minta pass duplikatnya tadi," gumam Cinta sembari menekan bel kembali.


"Lho, Bu Cinta sedang apa di sini?" tanya salah seorang dari bagian housekeeping yang sudah berdiri di sebelah Cinta.


"Ow, aku tadinya ingin bertemu dengan pemilik kamar ini," jawab Cinta gugup karena tertangkap basah lagi menemui Ben.


"Maksud Bu Cinta ingin bertemu tuan Ben?" tanya karyawannya lagi.


"Iya betul, kalian sedang apa di sini?"


"Kami ingin membersihkan kamar ini, Bu. Maaf, bukannya tuan Ben sudah check out dari hotel sejam yang lalu ya, Bu?"


"Apa?!" pekik Cinta. Ucapan dari karyawannya tadi bagai petir yang menyambar di siang bolong. Cinta terperanjat kaget. Rangga sudah meninggalkan hotel sejam yang lalu, bukankah semalam pria itu mengatakan padanya akan berangkat lusa?


"Tidak! Ini tidak mungkin!" Cinta merancau, dia bergerak mundur lalu bergegas menuju lobby mengabaikan dua karyawannya yang menatapnya dengan heran.


"Santi, coba kamu cek tamu atas nama Ben Damian Ezra, apa benar sudah check out sejam yang lalu?" tanyanya gusar pada resepsionis yang berdiri di lobby.


"Sepertinya sih sudah Bu, tadi operan laporan dari shif malam sih begitu," jawab resepsionis yang bernama Santi.


"Coba kamu cek lagi, siapa tau kamu salah info!" Cinta semakin panik tetapi, dia masih berharap kalau kabar Rangga sudah meninggalkan hotel adalah suatu kekeliruan. Dia belum sempat mengucapkan kata perpisahan pada Sunny dan Rangga.



"Benar Bu, tamu atas nama tuan Ben Damian Ezra sudah check out sejam yang lalu. Ini kartu pass kamarnya sudah di sini." Gadis itu menunjukkan kartu ID kamar yang disewa Rangga.


Sumpah demi apa pun, Cinta sedang gemetar sekarang. Tubuhnya seketika lemas, jika dia tidak bersandar pada dinding di sebelahnya mungkin dia sudah roboh di lantai.

__ADS_1



"Kamu tega, Kak! Kamu tega membohongiku!" isaknya. Tangis Cinta pecah. Butiran bening bercucuran dari kelopak matanya. Dia sudah lupa di mana dia berada sekarang. Ada puluhan pasang mata karyawan yang sedang memperhatikannya.


"Maaf Bu Cinta kenapa? Apa yang terjadi, Bu?" tanya Santi memberanikan diri. Gadis itu menyentuh bahu Cinta dengan lembut.


"Aku tidak apa-apa, kalian kembali bekerja. Aku ada urusan di luar sebentar, sampaikan itu pada siapa pun yang akan mencariku." Cinta mengusap air mata yang membasahi pipinya sembari berjalan meninggalkan lobby.


...****************...


"Apa?! Kak Rangga membawa Sunny pergi?" kaget Cika.


"Iya Cik, Kak Rangga membohongiku. Dia bilang akan berangkat lusa tapi, kenyataannya dia membawa Sunny sekarang. He left me. Dia meninggalkanku." Cinta kembali sesegukan. Dia menangkup wajahnya dan menumpahkan air matanya sepuasnya.


"Apa Kakak sudah cek ke bandara? Siapa tau kak Rangga belum berangkat ke Singapura tapi, hanya membawa Sunny jalan-jalan." Cika mencoba menghibur Cinta dengan mengusap punggung Cinta.


Cinta mengangkat kembali wajahnya. "Iya kamu benar Cik, mungkin mereka hanya jalan-jalan." Cinta meraih ponsel dari dalam tasnya.


"....."


"Ah tidak apa-apa, aku hanya ingin bicara dengannya."


"....."


"Apa?! Dia bilang berangkat ke Singapura, kapan?"



"...."


"Oke baiklah. Terima kasih banyak, Mario." Cinta menutup panggilannya.

__ADS_1


"Bagaimana?" tanya Cika tidak sabar.


"Mario bilang kak Rangga sudah pamit ke ...." Belum sempat Cinta menjawab ponselnya berbunyi pertanda ada pesan masuk. Dengan cepat dia membukanya. Pesan dari Mario yang mengirim nomor ponsel Rangga. Tanpa berpikir lagi Cinta menghubungi nomor itu. Namun, sayangnya tidak tersambung. Cinta mencoba lagi tapi, lagi-lagi tidak tersambung. Dia semakin kesal dan frustasi. Kemudian, dengan kasar meraih tasnya dan segera bangkit dari duduknya.


"Kakak mau ke mana?" tanya Cika khawatir.


"Aku mau menyusul mereka ke bandara."


"Hati-hati Kak, maaf aku tidak bisa menemanimu. Kak Gilang masih sibuk dengan urusan pesta semalam." Cika terlihat sangat menyesal.


"Tidak apa-apa Cik, kamu jaga Sasa."


Cinta bergegas meninggalkan hotel tempat Cika menginap. Sepanjang perjalanan menuju bandara Cinta terus menangis sembari berdoa agar pesawat Rangga belum lepas landas. Dia tanpa henti mencoba menghubungi Rangga walaupun pada akhirnya panggilannya tidak tersambung.


Tidak butuh waktu lama untuk Cinta sampai bandara karena jarak hotel dengan bandara memang tidak terlalu jauh. Sama-sama berlokasi di daerah Kuta.


Hujan mulai deras saat Cinta selesai memarkir mobilnya tetapi, hal itu tidak menyurutkan niatnya. Cinta menerobos hujan dan berlari menuju bagian loket informasi. Dia benar-benar tidak peduli dengan sekitarnya yang menatap aneh penampilannya yang sudah basah dan berantakan.


"Maaf Nyonya, penerbangan dengan nomor XXX tujuan Denpasar-Singapura sudah lepas landas lima belas menit yang lalu."


"Hah?! Apa bisa dicek penumpang atas nama Ben Damian Ezra dengan Miracle Shine Wijaya ada di pesawat itu?" tanya Cinta harap-harap cemas.


"Saya istrinya," sambung Cinta saat mendapat tatapan aneh dari petugas informasi.


"Baiklah Nyonya, mohon ditunggu sebentar." Petugas itu terlihat sibuk mengecek data penumpang sedangkan Cinta menunggunya dengan perasaan waswas. Wajahnya sudah sembab dan pucat karena dirinya menangis sedari tadi ditambah dia kehujanan dan belum sempat memakan apa pun.



"Iya betul Nyonya, tuan Ben Damian Ezra umur tiga puluh tiga tahun bersama Miracle Shine Wijaya umur empat setengah tahun naik pesawat dengan penerbangan XXX tujuan Denpasar-Singapura." Petugas itu menyebutkannya dengan lengkap.


Cinta meremas dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri. Sakit sekali. Dia merasa kesulitan untuk bernapas. Dia lemas, bahkan kedua kakinya rasanya sudah tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya, hingga akhirnya dia roboh.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2