
'Glek' Anin menelan ludah nya kasar. Ia mendongak melihat Derald yang tengah memasang wajah serius.
"Haha... Becanda mu lucu sekali," Anin tertawa seraya bertepuk tangan.
"Siapa yang bercanda? Aku serius!" Menatap Anin serius dengan jarak yang sangat dekat.
Mata keduanya beradu, Anin ingat jika Tamara adalah direktur utama rumah sakit ini, tapi ia tidak menyangka jika pemilik rumah sakit ini adalah Kakek nya Derald.
"Kamu serius?" Tanya Anin cengo, Anin mencoba mencari kebohongan di mata Derald namun nihil.
"Hm" jawab Derald dengan anggukan kecil. Anin segera mengalihkan pandangannya kearah lain, entah kenapa setiap menatap mata elang milik Derald rasanya jantungnya berdetak lebih cepat.
"Dulu sebelum menikah dengan Daddy, Mommy sempat menjadi dokter dirumah sakit terkenal di London. Hingga Mommy jarang selaki pulang, maka dari itu Grandfa membangun rumah sakit ini, supaya Mommy bisa menjadi Dokter dirumah sakitnya sendiri. Setelah Mommy menikah dengan Daddy, Mommy kembali ke indonesia. Dulu rumah sakit ini tidak sebesar sekarang, bahkan dulu kalo gak salah namanya Family Hospitals. Beberapa tahun kemudian rumah sakit ini semakin berkembang, akhirnya Mommy dan Daddy merenovasi rumah sakit ini dan selesai tepat saat Citra lahir. Maka dari itu Mommy mengganti nama rumah sakit ini menjadi Citra medika" ucap Derald panjang lebar.
Entah kenapa Derald menceritakan semuanya pada Anin, padahal Anin tidak pernah bertanya. Anin diam, ia fokus mendengarkan semua cerita Derald.
"Apa Kakek mu masih ada?" Tanya Anin.
Derald menggeleng pelan, "Grandfa sudah meninggal 2 tahun yang lalu" ucap Derald sendu.
"Maaf!" Cicit Anin.
"Gak papa!" Derald kembali menatap wajah Anin dengan senyuman tampan nya.
Kini, wajah Anin sudah menjadi favorit untuk nya sekarang. Ke cantikan Anin selalu membuat Derald semakin jatuh cinta padanya, ketulusan yang terpancar dimata indah nya. Semakin membuat Derald tak ingin berpaling menatapnya.
"Bagaimanapun dengan mu, apa Kakek dan Nenek mu masih ada?" Tanya Derald menatap Anin yang berdiri disampingnya.
Entah dorongan dari mana, Derald jadi ingin mengetahui semua yang berhubungan dengan Anin. Kini posisi mereka sudah berdiri menatap jalanan kota dengan penghalang tembok sebatas perut.
Anin menggeleng, "Mereka sudah meninggal," sahut Anin tersenyum samar.
"Menurutku kamu terbilang beruntung bisa melihat Kakek kamu, sedangkan aku. Aku tidak pernah melihat mereka, Kakek dan Nenek dari Papa, mereka meninggal pada saat Papa masih kuliah. Sedangkan Kakek dan Nenek dari Mama meninggal karna kecelakaan, itu pun saat aku masih berumur 2 tahun jadi aku tidak begitu mengingat mereka. Aku hanya bisa melihat mereka dari foto saja," ujar Anin tersenyum getir.
"Tidak papa. Yang penting kita doain saja mereka, semoga mereka tenang dan bahagia disana. Walaupun kamu tidak bisa melihat mereka, tapi mereka pasti selalu melihat mu dari atas sana" Ucap Derald menatap langit biru, Anin mengangguk setuju ia juga turut mendongak keatas langit sebuah senyuman terbit di bibir nya yang tipis.
Tiba-tiba Anin kembali menatap Derald, "Tapi soal uang itu, aku tetep akan ganti" ujar Anin bersikukuh.
Derald menghela nafas nya, "Terserah!" Ucap Derald mengalah.
Wanita yang ia kira sempurna ini ternyata manusia biasa juga, ternyata Anin memiliki sifat keras kepala.
Jika orang lain yang di posisi Anin, mereka pasti akan sangat senang jika biaya rumah sakit nya dibayarin atau dikatakan gratis. Tapi, tidak dengan Anin ia malah ngotot ingin membayarnya sendiri.
__ADS_1
Anin tersenyum senang, ia kembali menatap keramaian dari atas. Semilir angin membuat anak rambut Anin bergerak sesana kemari membuat sang pemilik tak bisa diam, Anin terus menyingkirkan rambut yang menghalangi pandangan nya.
Derald yang melihat itu sedari tadi terkekeh pelan, ia tak mengalihkan pandangan nya barang sedetik pun. Baginya pemandangan yang paling indah itu adalah gadis disampingnya.
Tiba-tiba tangan nya terulur, membenarkan rambut yang mengganggu Anin sejak tadi. Kini perhatian Anin teralihkan, ia menatap Derald dengan tatapan terkejut.
"Dia memang tampan, dia juga sangat baik. Astaga!" Anin segera tersadar, "Gue mikirin apa sih?" Rutuk ya dalam hati.
"Kenapa?" Tanya Derald melihat Anin terlihat salah tingkah dengan pipi merona.
Anin menggeleng, "Em,, sebaiknya kita kembali aku takut Mama sama Papa nunggu lama" ucap Anin tampa melihat Derald, pandangan nya bergerak kesana-kemari asal tidak bertatapan dengan Derald.
Anin pergi lebih dulu, diikuti Derald di belakangnya seraya tersenyum gemas melihat tingkah Anin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini Ocha tidak kekantor, pikiran Ocha benar-benar kacau. Jika ia kekantor pun Ocha tidak akan bisa fokus pada pekerjaan nya.
Sejak kembali dari apartemen Vina, Ocha jadi lebih pendiam. Ia selalu mengurung dirinya di kamar, pagi ini Ocha turun untuk sarapan.
"Tumben kok belum siap-siap?" Ucap Windy melihat Ocha yang masih memakai piyama tidur nya.
"Hari ini Ocha gak ke kantor, Ma" Jawab Ocha singkat.
"Loh kenapa? Kamu gak enak badan?" Menghampiri Ocha, menempatkan punggung tangan nya di kening Ocha.
Windy menatap Ocha heran, ia merasa hari ini putrinya sedikit berbeda tidak seperti biasanya. Cerewet, banyak tingkah dan selalu menghangatkan suasana di pagi hari. Tapi, kali ini Ocha lebih banyak diam, bicarapun hanya seperlunya.
Selesai menghabiskan sarapan nya Windy pamit pergi ke kantor, sedang Ocha kembali ke kamarnya. Ocha berjalan gontai, ia duduk di sisi ranjang tempat tidurnya. Ocha menarik nafas panjang dan menghembuskan nya kasar, ia mengguyar rambutnya kebelakang kemudian menunduk dengan kedua tangan meremas rambutnya.
"Hiks... Kenapa semua nya jadi kaya gini? Apa yang harus gue lakukan sekarang?" Gumam Ocha prustasi.
Jelas, Ocha bingung Vina dan Anin adalah sahabat nya. Ia harus bisa memikirkan dengan matang, ia tidak mau menyalahkan dan menyakiti sahabatnya. Satu sisi Anin yang dikhianati jelas Ocha akan mendukung Anin. Namun, disisi lain Ocha juga belum mendapatkan penjelasan dari Vina dan Ocha tidak mau menyudutkan Vina Ocha takut itu mempengaruhi kandungan Vina.
Anin masuk ke ruangan nya, namun yang ia lihat hanya Bastian yang tengah duduk di sofa seraya melihat ponselnya. Anin tidak melihat kedua orang tua nya disana, Bastian beranjak menghampirinya.
"Mama sama Papa dimana?" Tanya Anin.
"Mereka sudah pergi lebih dulu, aku nungguin kamu. Kamu dari mana?" Jawab Bastian.
"Tadi aku--" Ucapan Anin menggantung saat pintu ruangan terbuka, tampak Derald masuk dengan senyuman di wajah tampan nya.
Pandangan Bastian dan Anin beralih pada pria tampan itu, senyuman Derald perlahan menghilang. Ia menatap Bastian dingin, begitupun sebaliknya Bastian menatap Derald tak suka.
__ADS_1
"Ngapain Lo disini?" Ucap Bastian sinis.
"Jelas gue mau ketemu Anin, kenapa gak suka?" Balas Derald tak kalah dingin.
"Ya, gue gak suka! Mending Lo pergi deh, dan jangan pernah temuin Anin lagi!" Usir Bastian kasar.
"Kalo gue gak mau?"
"Lo--"
"Bas, udah!" Sela Anin menghalangi jalan Bastian.
"Sepertinya ini waktu yang pas buat gue ngasih tau Anin yang sebenarnya" Celetuk Derald dengan seringai diwajahnya.
Bastian membelalak ia menatap Derald tajam, sedang Anin mengerutkan kening nya.
"Apa maksud kamu?" Tanya Anin.
Derald tersenyum smirk kearah Bastian, "Kamu gak usah dengerin dia mending kita pulang sekarang!" Ujar Bastian menggenggam tangan Anin.
Anin menghiraukan kata-kata Bastian, "Katakan Derald, maksud kamu apa?" Ulang nya.
Bastian menatap Derald marah, rahang nya mengeras bahkan giginya menggeretak, menahan amarah. Rasa nya ia ingin merobek mulut rival nya itu sekarang juga.
"Sudahlah, kamu harus istirahat lebih baik kamu pulang sekarang. Kita bicarakan itu nanti saja" Ujar Derald tersenyum pada Anin.
Bastian berdecih sebal, berani sekali dia tersenyum menggoda seperti itu pada Anin. Pikir Bastian.
"Tapi--"
"Sudahlah, ayo. Mama, Papa kamu pasti sudah menunggu dirumah" Bujuk Bastian.
Anin menatap Bastian sedih, kemudian tatapan nya beralih pada Derald.
"Jika kamu menyembunyikan sesuatu dari ku, jangan harap kita bisa bertemu lagi!" Ancam Anin, sorot matanya berubah dingin.
Kemudian Anin meraih tas selempang nya kemudian berlalu pergi meninggalkan ruangan nya lebih dulu.
Bastian dan Derald saling tatap, namun tatapan permusuhan. Bastian menarik sebelah ujung bibirnya sekilas, kemudian berlalu pergi. Namun, itu tertangkap oleh penglihatan tajam Derald. Ia mengepalkan tangannya kuat, meninju udara.
"Shitt!!"
...****************...
__ADS_1
Next episode, jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Terimakasih 🤗
BSC❤️