
"Ada apa sih sebenarnya, Kak?" Cika semakin penasaran. Mereka kini menuruni eskalator untuk menuju area foodcourt yang terletak di lantai dasar.
"Nanti juga kamu akan tau." Cinta menghentikan langkahnya sesaat demi menatap Cika yang raut wajahnya diliputi rasa kebingungan.
"Kita sudah seperti saudara, 'kan? Aku hanya minta tolong padamu, apa pun yang kamu ketahui tentang hari ini, tolong rahasiakan ini dari siapa pun. Termasuk ayah dan ibu, juga Gilang," ucap Cinta dengan raut wajah sendu yang penuh permohonan.
Cika memegang kedua lengan Cinta. Di tatapnya lamat-lamat wajah gadis yang sudah seperti kakak kandungnya itu, "Kak, ada apa sebenarnya? Aku benar-benar bingung."
Cinta menghela napas dalam, matanya pun mulai berkaca-kaca, "Aku punya firasat buruk mengenai suamiku."
"Firasat buruk? Tentang kak Rangga? Apa itu, Kak?" tanya Cika tidak sabar. Dia semakin penasaran dengan apa yang akan diucapkan Cinta. Apa Gilang sudah melewatkan sesuatu tentang mereka? Biasanya pria itu selalu menceritakan apa pun yang menyangkut hubungan Cinta dan Rangga. Terlebih lagi ini hal yang buruk, bagaimana mungkin Gilang tidak mengetahuinya?
"Aku punya firasat kak Rangga sedang bermain api di belakangku." Cinta menunduk lemah. Air mata yang sedari tadi coba dia bendung sudah menetes perlahan di pipinya.
"Tidak mungkin, Kak. Kak Rangga tidak mungkin seperti itu." Cika masih bisa tersenyum untuk mencoba menghibur Cinta.
"Mungkin saja Cika," bantah Cinta, "semua hal mungkin saja bisa terjadi."
"Memangnya dengan siapa? Siapa wanita itu, Kak?"
"Agnes,"
"Agnes? Yang katanya mantan pacar kak Rangga itu? Yang sekarang bekerja sebagai sekretaris kak Rangga?" cerca Cika yang hanya dijawab anggukan lemah oleh Cinta.
__ADS_1
Agnes mantan pacar Rangga, tentu saja Cika tahu itu. Gilang sudah menceritakan semuanya pada Cika. Pria itu memang informan terbaik tetapi, jika memang benar Rangga dan Agnes memiliki hubungan seperti yang Cinta pikirkan, mana mungkin Gilang tidak tahu. Atau, Gilang juga ikut berkonspirasi untuk menutupi hubungan gelap sahabatnya?
Sementara, Cinta juga sebenarnya benci mengakui ini tetapi, dia juga harus bisa menerima realita. Agnes mantan pacar suaminya. Wanita itu pernah menjadi wanita istimewa di hati suaminya. Bahkan, mungkin bukan hanya pernah tetapi, tetap istimewa sampai detik ini.
"Gila! Ini gila, Kak! Kak Rangga benar-benar gila!" umpat Cika.
Cinta tidak menjawab, dia hanya menunduk sembari menyusut sudut matanya.
"Tapi, bagaimana mungkin, Kak? Di sana ada kak Gilang, dan kak Gilang tidak mengatakan apa-apa padaku prihal ini. Tidak mungkin 'kan kalo kak Gilang tidak mengetahuinya jika kecurigaan Kakak itu benar."
"Bisa saja Gilang memang tidak tau apa-apa, Cika. Ruangan Rangga dan Agnes hanya bersekat satu pintu sedangkan ruangan Gilang terpisah jauh. Tidak mungkin Gilang bisa mengawasi mereka selama jam kerja. Gilang 'kan juga punya pekerjaan kantor."
"Iya juga sih, lalu siapa yang akan Kakak temui sekarang?"
...****************...
"Ah, tidak apa-apa. Aku juga baru sampai," jawab pria itu dengan tersenyum ramah. Dia meletakkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
Cinta dan Cika duduk di kursi yang berhadapan dengan pria itu.
"Kalian mau pesan apa?" tawar pria itu sembari melirik Cinta dan Cika bergantian.
"Aku jus alpukat aja," jawab Cinta.
__ADS_1
"Ya, aku samain aja Kak," balas Cika.
"Oke, jus alpukat dua." Pria itu memanggil pelayan untuk memberitahu pesanan mereka. Setelah itu kembali fokus pada Cinta dan Cika.
"Sebaiknya kita mulai dari mana, ya? Apa kenalan dulu? Aku belum pernah bertemu dengan gadis yang di sebelahmu, Nona Cinta." Pria itu beralih melempar senyum ke arah Cika.
"Oh ya maaf, aku lupa. Kenalin Kak, ini Cika dan Cika, kenalin itu Kak Seno." Cika dan Seno saling melempar senyum dan bersalaman.
"Senang bertemu denganmu, Nona Cika."
"Sama-sama, Tuan Seno." Cika menatap pria yang bernama Seno itu dengan intens. Rasa kagum tidak bisa dia tutupi, bagaimana tidak? Seno memiliki aura maskulin yang sangat kuat. Dia tampan, rapi, ramah, dan bersahaja. Kalau boleh Cika jujur, Rangga dan Gilang lewat. Siapa pun yang memiliki pria ini pasti dia adalah wanita yang sangat beruntung. Lantas, yang menjadi pertanyaan Cika, apa hubungannya Seno dengan masalah Cinta, Rangga, dan Agnes? Kenapa Cinta bisa mengenal Seno?
"Ehem, sebaiknya kita langsung ke inti pembicaraan saja bagaimana, Cinta?" Seno memecah kesunyian di antara mereka.
"Ya, aku rasa juga begitu, Kak. Aku tau waktumu gak banyak. Aku minta maaf karena sudah membuang-buang waktumu." Lagi-lagi Cinta merasa sungkan karena sudah menyita waktu pria itu untuk menemui dirinya.
"Hei, jangan membuatku malu dengan bicara seperti itu Cinta. Kamu itu putri dari seorang Reyhan Aditya Wijaya, tidak pantas kamu bicara merendah seperti itu padaku," jawab Seno dengan raut wajah serius yang disambut senyum tipis oleh Cinta. Sementara Cika hanya memperhatikan mereka berdua. Menjadi pendengar yang baik sembari menyedot jus alpukat miliknya.
"Terima kasih, Kak. Aku hanya ingin melihat foto yang kemarin kamu janjikan padaku."
"Hm, baiklah. Seno meraih ponselnya dari dalam saku jasnya lalu mulai menscroll layarnya untuk mencari foto yang dimaksud Cinta.
Dengan hati yang berdebar Cinta menerima ponsel pemberian Seno dan mulai mengintip ke layarnya diikuti Cika. Raut wajah mereka berdua seketika berubah. Cinta yang diliputi kekecewaan sedangkan Cika diliputi kemarahan. Cika sudah merangkul bahu Cinta dan mengusap lengannya, mencoba menyalurkan kekuatan untuk Cinta.
__ADS_1
"Foto itu diambil oleh orang suruhanku beberapa hari yang lalu. Em, tepatnya waktu kita bertemu pertama kali di apartemen."
...****************...