
Anin menatap Ocha dan Vina bergantian. Wajah Vina nampak tegang, ia takut Ocha akan mengatakan tentang kehamilan nya pada Anin. Jika, itu terjadi maka ia tidak akan bisa melihat Anin menderita.
Dengan segala keyakinan, Ocha menatap mata Anin dalam, seraya menggenggam tangan Anin. Sebenarnya Ocha sendiri ragu, ada rasa tak tega pada Vina di hatinya. Kini tatapan Ocha beralih pada Vina lagi, dengan jantung yang berdetak tak karuan Vina menggelengkan kepalanya lagi, dengan tatapan memohon pada Ocha.
Jika dibilang takut. Ya, saat ini Vina memang takut. Jika Ocha sampai berkata jujur tamat sudah riwayatnya, rencana yang sudah ia susun selama ini akan berakhir sia-sia. Bahkan mimpinya untuk merebut Bastian dan melihat kehancuran Anin akan musnah begitu saja.
"Sorry Vin, gue gak bisa terus-terusan bohongin Anin. Kalo aja cowo itu bukan Bastian, mungkin gue bisa bohong demi Lo. Tapi... Lo udah ngekhianatin Anin dengan merebut Bastian. Gue gak akan ngebiarin hidup Anin hancur hanya demi menutupi pengkhianatan Lo dan Bastian!" Batin Ocha.
Ocha menghela nafasnya berat. Pandangan nya kembali beralih pada Anin, "Nin Lo harus tau kalau---" Mata Vina membulat sempurna, jantungnya hampir saja berhenti berdetak.
"Non Anin..."
Ucapan Ocha menggantung, Anin berbalik melihat kearah sumber suara. Sedang Vina bernafas lega, rasanya ia mendapat pasokan oksigen nya kembali.
"Ya ampun Non. Bibi tadi nyariin Non Anin ke kamar, eh tau nya malah disini" ujar Bi Lani mendekati Anin.
"Ada apa Bi?" Tanya Anin sedikit kesal.
"Itu Non di depan ada Den Bastian sama Ibunya..." Jawab Bi Lani.
Ekspresi wajah Anin berubah datar, ia berjalan cepat masuk kedalam rumah. Anin kesal karna lagi-lagi ia gagal mendapat penjelasan dari Ocha. Vina terkejut mendengar jika Bastian ada di sini, tapi perhatiannya kembali pada Ocha.
Saat Ocha hendak melangkah mengikuti Anin, Vina sudah lebih dulu mencekal tangan nya.
"Apa yang Lo lakuin tadi itu salah Cha. Lo udah janji sama gue, dan sekarang Lo mau ingkari janji Lo. Lo gila?" Pekit Vina tertahan.
Ocha menghempas tangan Vina kasar, "Bukan gue yang gila, tapi Elo!!" Bentak Ocha.
Vina terkejut, ia membeku dengan tatapan tak teralihkan dari Ocha. Kenapa Ocha membentaknya? Ocha juga terlihat sangat marah padanya, pikir Vina.
"Kita gak seharusnya ngebohongin Anin kaya gini. Terutama Elo! Kalo Lo jujur sama Anin mungkin Anin bisa bantu Lo buat nemuin tu cowo. Biar dia tanggung jawab, Lo gak mau anak Lo di akuin sama bapak nya?" Sindir Ocha sengaja membuat Vina sadar. Namun, Vina bergeming.
"Vin... Kita gak berhak ngancurin hidup Anin kaya gini, Lo harus ingat pengorbanan dia buat Lo waktu itu. Dia sahabat terbaik, hatinya tulus, jangan karna ambisi Lo. Lo tega menghancurkan persahabatan kita yang udah kita jalin selama ini..." Sambung Ocha dengan lelehai air mata dipipinya.
Vina menatap Ocha, matanya berkaca-kaca. Ia berpikir kenapa Ocha mengatakan semua itu, seolah-olah Ocha mengetahui apa yang ada di pikiran nya.
"Camkan kata-kata gue. Berpikirlah dengan hati yang tenang, jangan ikutin emosi Lo. Jangan sampai Lo menyadari semuanya disaat semua sudah terlambat, dan Lo akan menyesalinya nanti" Sambung Ocha menatap Vina tajam.
__ADS_1
Bagaimana pun Vina tetap sahabatnya, Ocha hanya bisa menasihati. Ia ingin hubungan persahabatan mereka tetap seperti ini. Ocha tidak ingin hubungan yang sudah mereka jalin selama ini hancur begitu saja.
Ocha berharap Vina bisa mengerti dan memikirkan semua yang sudah ia lakukan dan menyesalinya. Ocha berlalu meninggalkan Vina yang masih mematung dengan sejuta pertanyaan di benak nya.
Anin berhenti sejenak, ia melihat Papa dan Mamanya yang tengah berbincang dengan Sarah dan juga Bastian. Anin mendekat, dan Bastian melihat ke arah nya dengan senyuman tampan yang ia tujukan pada Anin.
Namun, bagi Anin itu bukanlah sebuah senyuman melainkan sebuah belati yang menghunus jantungnya. Dada Anin terasa sesak, air matanya mendesak untuk keluar. Dengan sekuat tenaga Anin menahan nya, ia mengalihkan pandangan nya.
Kini Anin sudah berdiri tepat di depan Sarah dan Bastian. Sarah berdiri, ia mendekati Anin lalu memeluknya erat.
"Ya ampun... Mami merindukan mu sayang, maaf ya Mami baru bisa kesini! Soalnya Mami sibuk ngurusin persiapan pernikahan kalian," ujar Sarah dalam pelukan Anin.
Anin tidak bisa berkata-kata, ia pasrah menerima pelukan Sarah tampa membalas pelukan nya. Sarah melerai pelukan nya, "Kenapa sayang kok diem aja?" Tanya Sarah.
Anin menggeleng pelan, saat ia hendak menjawab Anin melihat raut wajah Bastian berubah serius. Anin mengikuti arah pandang Bastian, Anin berbalik dan melihat Ocha berjalan ke arah nya dengan di ikuti Vina dibelakang.
Seketika senyuman di wajah Anin hilang begitu saja, Ocha mendekat dan menyalami Sarah begitu pula dengan Vina. Mereka tampak biasa-biasa saja, jujur Anin merasa jengah. Rasanya ia ingin tertawa dan bertepuk tangan sangat keras memuji akting mereka bertiga.
"Kalian ada di sini juga?" Ucap Sarah pada Ocha dan Vina.
"Ya, Tante..." Jawab Ocha, sedang Vina hanya mengangguk dengan tersenyum manis. Sesekali tatapan nya tertuju pada Bastian.
Anin mengangguk setuju. Namun, lagi-lagi netra nya menangkap Bastian dan Vina yang tengah beradu pandang. Sakit! Kenapa Anin harus melihat nya?
Mungkin Anin memang sangat marah, tapi ia juga sangat mencintai Bastian. Ada rasa tak suka saat Vina dan Bastian saling tatap, bagaimanapun juga Bastian adalah cinta pertamanya. Laki-laki yang mampu merebut hatinya, Anin tidak pernah berpikir jika Bastian yang selalu menyayangi dan mencintai nya dengan sepenuh hati. Dengan mudah mengkhianati cinta nya...
Mereka membicarakan pernikahan yang dilaksanakan lusa, sesekali Bastian melirik Anin. Namun, Anin selalu mengalihkan pandangan nya. Seolah ia berusaha menghindarinya,
"O iya sayang Mami mau ambil cincin yang Bastian kasih ke kamu, buat Mami sandingkan dengan cincin milik Bastian nanti. Gak papa kan?" Ucap Sarah.
"Oh gak papa. Kalo gitu Anin ambil dulu ya?" Dan diangguki Sarah.
Anin beranjak, ia berjalan menuju kamarnya. Tanpa melirik Bastian sedikitpun.
Sampai nya di kamar, Anin melihat Ocha dan Vina tengah duduk berjauhan. Bahkan wajah mereka terlihat kesal.
"Kalian kenapa?" Tanya Anin.
__ADS_1
Ocha beranjak dari duduknya, "Nin... Gue pulang dulu ya. Mama nyuruh gue pulang, besok gue kesini lagi sekalian kita lanjutin pembicaraan yang tadi" pamit Ocha, melirik Vina sekilas.
Anin hanya mengangguk pasrah, setelah Ocha keluar Vina ikut beranjak ia juga pamit pulang. Setelah kedua sahabatnya pergi, Anin berjalan menuju lemari dimana ia menyimpan cincin yang di berikan Bastian saat ia mengajak nya menikah.
Anin membuka lemarinya, dan mengambil cincin yang ia simpan di dalam kotak berwarna hitam. Ia menatap cincin itu dengan perasaan hancur, kebahagian dan mimpinya selama ini kini benar-benar dihancurkan oleh kenyataan.
Cincin yang menjadi bukti dimana saat itu Bastian menyatakan ketulusan dan keseriusan nya. Cincin yang menjadi saksi kebahagian Anin di malam itu, karna penantian nya selama ini terwujud. Tapi, sepertinya cincin ini tidak akan pernah melingkar di jari nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu hari sebelum pernikahan
Rumah Anin tampak ramai, Alin akan mengadakan syukuran malam ini. Alin juga mengundang beberapa anak yatim ke rumah nya, Alin terlihat sibuk. Ia sangat antusias dan bahagia karna besok putri semata wayang nya akan menikah.
Dikamar Anin sangat gelisah, ia gagal mendengar penjelasan dari Ocha sedangkan besok adalah hari pernikahan nya. Tak ada yang Anin lakukan, ia hanya diam di kamarnya. Akhirnya Anin memutuskan bekerja dari rumah untuk menghilangkan ke kejenuhan nya.
Vina sangat kesal saat semalam Bastian memberitahunya jika Ocha sudah mengetahui semuanya.
"Pantes semalam sikap dia aneh. Gak, gue gak akan ngebiarin Ocha ngasih tau Anin yang sebenarnya!" Gumam Vina kesal.
Sore ini Vina memutuskan untuk kembali ke rumah Anin, karna ia juga dapat undangan untuk menghadiri acara nanti malam.
Tak terasa, setelah selesai mengerjakan pekerjaan nya Anin melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 3 sore. Anin beranjak, menuju ke kamar mandi. Anin ingin segera merefreshkan tubuh dan pikiran nya saat ini.
Anin keluar dari kamar mandi, ia juga sudah berganti pakaian. Anin duduk di meja rias, ia mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer setelah dirasa cukup Anin menyisir surai panjang itu. Tak lupa Anin memakai cream di wajahnya, ia juga sedikit mengoleskan lip tint di bibirnya.
Anin keluar dari kamar nya, ia melihat ke bawah ternyata sudah ramai. Mereka semua sangat sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing. Ia juga melihat Ocha dan Vina sudah ada di rumah nya mereka berdua membantu mempersiapkan untuk acara nanti malam.
Anin hendak turun, tiba-tiba ada yang menarik tangan nya. Karna posisi yang tidak siap, Anin berbalik secara tiba-tiba dan menabrak tubuh kekar di depan nya.
...****************...
Adudu... Nabrak siapa tuh neng Anin?☺️
Maaf banget ya aku baru bisa up lagi, soalnya lagi banyak kerjaan banget🙏
Aku mohon dukungan kalian jangan sampe kendor ya... Pantengin terus Like Vote dan Komen nya🤗
__ADS_1
Kawal BSC sampai tamat🥰