
Bastian merasa ia tidak boleh terpancing, Bastian tau saat ini Anin dalam mode sensitif jika dia dia bicara dengan nada tinggi sedikit saja maka Anin akan lebih marah. Bastian menghela nafas perlahan.
"Bentar lagi nyampe rumah kamu, setelah itu kamu langsung istirahat. Ya?" Mengusap rambut Anin lembut.
Anin tak menjawab tak juga beraksi, ia hanya diam melihat kearah samping dengan pikiran yang terus menerawang jauh.
🌸🌸🌸🌸
10 hari sebelum pernikahan
Anin menuruni tangga dengan santai, seperti biasa Anin selalu tampil cantik dan elegan. Namun kali ini tidak ada senyuman, hanya eksfresi datar yang Anin tampilkan hari ini.
Sejak semalam, Anin terus berperang dengan hatinya. Bahkan ia selalu merasa tak tenang, tidur pun hanya berguling bergerak gelisah, walau sudah mencoba menutup matanya namun kata-kata Bastian semalam selalu terngiang di pikiran nya. “Aku mengkhianati kamu, Nin” Anin menghela nafas berat saat ia sampai diujung tangga terakhir.
"Pagi Mah?" Sapa Anin, menarik kursi kemudian menduduki nya.
"Pagi sayang..." balas Mama Alin tersenyum hangat.
"Tumben, Papa mana Mah?" Melihat kursi sang Papa kosong.
"Papa udah berangkat, katanya ada rapat penting pagi ini" Anin mengangguk paham.
Tak banyak yang ibu dan anak itu bicarakan, mereka menikmati sarapan dengan khidmat. Sampai terdengar ponsel Anin bergetar diatas meja makan tepat disampingnya.
"Selamat pagi Bu Anin!" sapa seseorang di sebrang telpon.
"Pagi. Ada apa Dilla?" Jawab Anin.
"Saya cuma mau mengingatkan Ibu, kalo pagi ini kita ada meting dengan klien diluar" jelas nya.
"Iya saya ingat. Ya sudah, kamu share lokasinya sekarang!" Pinta Anin singkat.
"Baik Bu, nanti saya Sherlock! " jawab Dilla sopan.
Setelah menutup telpon nya Anin bergegas pergi, "Mah Anin berangkat kerja dulu ya" pamit Anin.
"Iya, hati-hati!" Balas Mama Alin tersenyum lembut.
Anin mengangguk, namun sebelum pergi Anin mencium pipi sang Mama terlebih dahulu.
__ADS_1
"Cup. Bye Mah..."
Mama Alin menggeleng pelan seraya tersenyum kearah putri nya yang kian menjauh.
Setelah selesai meting Anin dan Dilla kembali ke kantor, Anin melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul 10.
"Dilla tolong kamu revisi beberapa poin yang klien tadi inginkan jika sudah selesai kamu simpan di ruangan saya!" Perintah Anin.
"Baik Bu" Dilla mengangguk patuh.
Anin berlalu dari hadapan Dilla, dan memasuki lift menuju ruangan Ocha. Kini Anin sudah berada tepat didepan pintu masuk ruangan Ocha, 'klek' Anin membuka pintu perlahan.
"Hy... Sibuk banget nih kaya nya?" Ucap Anin dan sukses mengejutkan Ocha yang memang tengah pokus dengan pekerjaan nya.
"Anin..." Gumam Ocha pelan.
"Kenapa, kok kaget gitu mukanya?" Duduk di salah satu kursi yang ada diruang Ocha.
"Enggak, gue heran aja bukan nya Lo lagi meting ya?" Timpal Ocha.
"Hm... Baru aja gue balik," jawab Anin tertawa ringan.
"Soal itu Lo gak usah tanya. Tapi, emang gak boleh ya gue kesini?" Sahut Anin merengut.
"Bu-bukan! Maksud gue, biasanya kan jam segini Lo lagi sibuk banget..." Tukas Ocha tergagap.
Anin diam. Menghela nafas perlahan, "Cha gue--" Anin menggantung ucapan nya.
Anin ingin menceritakan yang terjadi semalam, namun ia urung mengingat Ocha juga sepertinya tengah memiliki masalah. Walaupun Ocha tidak mengatakan nya tapi Anin tau ada sesuatu yang sedang Ocha sembunyikan.
"Kenapa Nin?" Melihat ekspresi wajah Anin seperti tengah menghawatirkan sesuatu.
"Gak jadi lupain aja!" Menyengir kuda, "Cha jam makan siang kita ke cafe langganan kita yuk, udah lama deh kita gak kesana. Terakhir pas kita ketemu---"
"Pak Derald? Yang waktu itu Lo sebut bunglon?" Sela Ocha, Anin mengangguk dan mereka tertawa bersama.
"Jujur ya Cha, sehari tanpa Lo itu rasanya sepi tau gak. Lo kemarin kenapa sih Cha aneh gitu?" Ujar Anin menanyakan sikap Ocha kemarin yang menurut nya aneh.
"Gue-- gak papa dan bukan masalah serius juga" mengalihkan pandangan nya menatap layar laptop.
__ADS_1
Anin menatap Ocha yang terlihat gusar, namun Anin berusaha tenang ia tau ada sesuatu yang sedang Ocha sembunyikan darinya.
"Jadi, gimana?" Tanya Anin lagi.
"A-apa?" Menjawab dengan keterkejutan nya.
"Ke cafe..." Sahut Anin cepat.
"Oh.. e iya, oke!" Jawab Ocha ragu.
Anin beranjak ia mendekati meja kerja Ocha, "Cha... Lo kenapa sih, Lo kok canggung gitu ngomong sama gue, gak kaya biasanya?" Ujar Anin, melihat Ocha yang irit bicara dan seperti enggan bicara dengan nya.
Jantung Ocha berdetak lebih cepat, menyadari Anin mendekatinya rasanya ia seperti tengah didekati oleh algojo yang akan mengeksekusi hukuman mati padanya.
"Gue gak papa Nin, mungkin itu cuma perasaan Lo aja.. hehe" memperlihat kan wajah cerianya, "gue emang lagi sibuk banget, ada beberapa pekerjaan yang belum gue selesain. Jadi, agak pusing dan capek aja" jelas Ocha dengan senyum merekah berusaha menyembunyikan kepanikan nya.
Tatapan Anin terus terarah pada Ocha, menelisik lebih dalam. Ocha yang menyadari itupun segera mengalihkan pandangannya dan mencari topik pembicaraan lain.
Tampa terasa hari semakin siang, sejak tadi Anin menunggu di ruangan Ocha. Bahkan Anin meminta Dilla untuk mengantarkan berkas yang ia minta beserta laptop miliknya ke ruangan Ocha.
"Gue udah selesai, Lo gimana?" Tanya Ocha mendekati Anin.
"Bentar dikit lagi..." Menatap berkas ditangan nya kemudian beralih mengetik sesuatu di laptopnya, "Oke selesai!" Menutup laptop dan membereskan beberapa berkas di samping nya.
"Yuk!" Anin beranjak, kemudian mereka berjalan beriringan.
Sekitar 20 menit perjalan kini Anin dan Ocha sudah sampai di sebuah cafe langganan. Cukup ramai, pikir Anin.
"Nin, Lo masuk duluan aja. Gue kebelet banget nih pen pipis..." Seru Ocha.
"Ih... Yaudah sana, jangan sampe Lo pipis dijalan ya!" Ledek Anin melihat Ocha tengah berusaha menahan sesuatu yang mendesak keluar.
"Sialan Lo!" Gerutu Ocha, langsung melesat pergi.
Anin tersenyum geli melihat Ocha berlari terbirit-birit. Ia berjalan memasuki cafe, kemudian duduk disalah satu meja kosong disana.
...****************...
Jangan lupa Like dan komentarnya... Terimakasih🤗
__ADS_1
BSC❤️