
Anin menunggu Mama Alin yang tengah mendaftar, ia duduk di kursi tunggu seraya memainkan ponselnya. Tak ada yang menarik bagi nya, hanya ada beberapa pesan dari Bastian. Tak ada pesan yang Anin balas, bahkan dari kemarin Bastian terus menghubunginya, namun selalu Anin tolak.
"Ayo, sayang" ujar Mama Alin membuyarkan lamunan Anin, Anin mengangguk ia mengikuti langkah Mamanya dari belakang dengan malas.
"Kita nunggu di dalam aja ya," Ucap Mama Alin lagi.
"Hm" Anin menjawab dengan gumam saja.
Belum sempat Alin memegang knop pintu. Pintunya sudah lebih dulu terbuka dan menampakkan pria tampan dengan sejuta pesona.
"Derald?" Gumam Alin.
Ya, dialah Derald. Pria tampan dengan pesona nya yang mampu memikat wanita manapun ke kecuali Anin, dan hanya Anin pula lah yang mampu membuatnya jatuh cinta.
Mama Alin dan Anin terkejut mendapati Derald ada disalon khusus wanita.
"Kamu... Disini..." Ujar Alin,
"Tunggu Tante, jangan salah paham saya kesini... Karena disuruh buat nganterin Mama" sela Derald.
"Mama kamu disini?" Tanya Alin antusias.
"Iya Tante. Mama ada di dalam," jawab Derald tersenyum tampan, tatapan nya beralih pada Anin yang berada tepat di belakang Alin.
"Ayo sayang..." Mama Alin menarik tangan Anin. Namun, dengan cepat Derald menghentikan nya.
"Maaf Tante, apa saya boleh pinjam Anin sebentar? Saya ingin bicara dengan Anin..." Pinta ya menghalangi jalan Alin.
Alin melirik Anin. Namun, Anin hanya bergeming dengan ekspresi wajah datar.
"Baiklah, tapi sebentar ya!" Ucap Alin memperingatkan.
"Baik Tante," jawab Derald cepat.
Setelah, Alin masuk Derald meraih tangan Anin membawanya keluar dari salon kecantikan tersebut.
Kini mereka sudah berada di sebuah taman kecil yang ada di samping salon dengan kolam ikan panjang didepan nya.
"Lepasin tangan aku!" Ucap Anin datar.
Derald melihat tangan nya dan dengan cepat Anin menariknya, Derald sedikit terkejut. Namun, ia segera sadar jika Anin berbeda dengan wanita-wanita yang selalu mengejarnya.
"Kamu mau bicara apa?" Tanya Anin datar.
Derald segera tersadar, ia menatap Anin yang tengah melihat ke kolam ikan di depan nya.
"Sebenarnya apa yang kamu rencanakan, kenapa setelah mengetahui semuanya kamu masih mau melanjutkan pernikahan ini?" Ucap Derald menatap Anin dalam.
__ADS_1
Seketika wajah Anin berubah serius, ia melirik Derald yang berdiri di sebelahnya.
"Gak ada. Aku gak punya rencana apapun!" Jawab Anin tenang.
"Terus... Kenapa kamu masih diam dan gak melakukan apapun? Kamu mau melanjutkan pernikahan ini?" Tanya Derald lagi.
"Itu urusan aku, kamu gak usah ikut campur! Apa yang akan aku lakukan, biar aku yang melakukannya sendiri" ujar Anin menatap Derald dingin.
Derald tersentak melihat tatapan yang selalu meneduhkan, kini berubah dingin.
"Kamu gak sendiri aku bisa membantu mu..." Ucap Derald lembut.
Anin tersenyum smirk, "Kamu gak perlu repot-repot bantuin aku Derald, aku ingin melakukan nya sendiri. Sudah cukup kamu membantuku dengan memberitahu ku segalanya, dan stop! Aku gak mau kamu terus terbawa dalam masalah ku" Anin menjeda ucapan nya, entah kenapa air matanya terus mendesak untuk keluar.
Anin mengalihkan pandangan nya, "Aku baik-baik aja, aku hanya ingin mereka jujur dan mengatakan segalanya pada ku. Kesempatan mereka hanya sampai besok, dan jika mereka masih diam... Maka aku yang tidak akan diam lagi!" Ucap Anin.
Anin selalu berharap jika kedua sahabatnya bisa mengatakan segalanya sebelum pernikahan ini. Yang paling Anin harapkan adalah kejujuran dari Bastian, walaupun itu tidak mungkin. Tapi Anin selalu berharap dan berharap, jika tidak hari ini, besok Bastian akan datang dan berkata jujur padanya.
Derald tidak bisa melihat apa yang akan Anin lakukan, tapi ia selalu berharap Anin bisa melewati semua masalah nya dan bisa hidup dengan bahagia lagi. Walaupun Anin menolaknya, tapi Derald berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan selalu ada untuk Anin.
"Apapun yang ingin kamu lakukan, aku harap kamu tidak menyakiti dirimu sendiri. Jika kamu membutuhkan bantuan ku, aku akan selalu siap membantu mu. Jangan menangis, air matamu terlalu berharga untuk orang seperti mereka!" Saran Derald, ia tersenyum melihat Anin yang tengah menatap dirinya dengan mata basah nya.
Derald tau saat ini Anin sangat hancur, ia juga tau jika Anin tengah menyembunyikan air matanya. Ingin sekali Derald memeluk tubuh yang tengah berpura-pura kuat itu, namun apalah daya Derald tidak punya keberanian untuk itu, ia juga sadar jika ia bukan siapa-siapa bagi Anin. Ia hanya bisa diam dan menatap gadis didepan nya dengan sendu.
🌸🌸🌸🌸
Setelah merawat dirinya, Anin tidak menyangka ternyata dengan perawatan yang ia jalani hari ini dapat membuat nya lebih tenang dan rileks sekarang.
Mama Alin benar-benar melakukan perawatan untuknya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Anin yang notabene nya sudah cantik, kini menjadi semakin cantik.
"Makasih buat hari ini Mah..." Ucap Anin dengan senyuman merekah di bibirnya.
"Tadi aja nolak. Sekarang malah kesenengan kaya gini," seru Alin, meledeki putrinya.
"Hehe... Mama tau gak setelah melakukan perawatan tadi, Anin merasa lebih tenang sekarang. Beban di pikiran Anin seakan sirna" Ujar Anin merentangkan tangan nya senang.
"Beban pikiran?" Ulang Alin keningnya berkerut.
Anin segera tersadar, ia menggigit bibir bawahnya.
"Em, ayo Mah kita masuk!" Ajak Anin, mengalihkan perhatian Mama nya.
"Tunggu Anin! Apa maksud kamu, beban pikiran apa?" Tanya Alin dengan wajah berubah serius.
Anin merutuki mulutnya dalam hati, entah karna terlalu senang atau memang Anin tidak berpikir dulu sebelum bicara.
"Anin! Katakan, kamu menyembunyikan apa dari Mama?" Menarik tangan Anin membalikan tubuh Anin untuk menghadap padanya.
__ADS_1
"Ma--maksud Anin..." Anin tampak berpikir sebentar, "Mama tau lah, apa yang di pikirkan calon pengantin" ucap Anin asal, menatap Alin dengan menunjukan deretan giginya yang rapi.
Mama Alin termenung, ia juga pernah muda. Jadi sudah pasti ia tau apa yang Anin rasakan menjelang pernikahan nya. Alin menggeleng kepalanya pelan, penghalau pikirin buruk yang sempat muncul.
"Ini udah sore, Anin laper banget Mah..." Ucap Anin menyadarkan lamunan Mama nya.
"Iya Mama lupa, tadi siang kita tidak makan karna melakukan perawatan hingga lupa waktu. Ya sudah, ayo. Mama akan Bi Lani buat masak makanan kesukaan kamu," menggandeng tangan Anin masuk kedalam rumah.
Anin bernafas lega, karna Mamanya tidak memperpanjang ucapan nya tadi. Mereka berjalan beriringan dengan sesekali mereka tertawa entah apa yang mereka tertawakan Author juga tidak tau😁
Anin pamit ke kamar nya, ia ingin mengganti pakaian nya dan beristirahat sebentar. Namun, saat Anin membuka pintu ia terkejut melihat Ocha duduk disisi ranjang tempat tidurnya seraya memegang pas foto ditangan nya.
"Anin..." Ucap Ocha lirih, menyimpan pas foto itu di atas kasur.
Anin melangkah mendekat, tiba-tiba Ocha berlari kearah nya dan memeluknya. Anin terkejut, karna tak siap Anin mundur beberapa langkah.
"Gue kangen banget sama Lo Nin," ucap Ocha dalam pelukan Anin.
Mendengar pernyataan Ocha, Anin merasa hatinya kembali tersayat. Tiba-tiba mata Anin kembali berembun, jujur ia juga sangat merindukan sahabatnya. Ocha yang selalu bersamanya dimana pun dirinya berada, Ocha yang selalu menjadi pendengar yang baik untuknya.
Tapi akhir-akhir ini Anin merasa Ocha menjauh darinya, seperti ada jarak diantara mereka. Bahkan disaat Anin membutuhkan Ocha di rumah sakit, Ocha tak ada untuknya. Jujur Anin kecewa, tapi Anin selalu berusaha memahaminya. Anin selalu percaya, saat Ocha mengatakan dirinya sibuk.
Tapi, sekarang kepercayaan nya kembali di hancurkan. Anin mengusap air mata di pipinya, perlahan Anin melepas pelukan Ocha.
Ocha terkejut, ia menatap wajah Anin yang nampak datar.
"Nin, maafin gue ya! Gue baru bisa nemuin Lo, gue tau Lo kecewa sama gue--"
"Kecewa buat apa?" Sela Anin cepat.
"Nin, Lo..."
"Gue baik-baik aja. Walau itu tanpa Lo!" Ucap Anin dingin.
'Deg' entah kenapa rasanya kata-kata Anin menembus jantung nya, hatinya perih. Baru kali ini Anin bersikap dingin padanya, dan Ocha tidak menyukainya.
"Dan, kenapa Lo kesini?" Tanya Anin.
Ocha teperangah, matanya terasa panas hatinya sakit mendengar pertanyaan itu. Mungkin bagi semua orang pertanyaan itu adalah hal biasa, tapi bagi Ocha itu adalah hal yang mustahil apalagi kata-kata itu keluar dari mulut Anin.
Itu adalah hal biasa bagi mereka, diantara Ocha dan Anin tidak ada batasan jika ingin masuk kekamar mereka masing-masing. Anin bebas masuk ke kamarnya kapan pun ia mau, begitupun sebaliknya. Anin tidak pernah bertanya seperti itu, tapi sekarang... 'Tes' air mata Ocha meluncur dengan cepat.
"Aniinn..." Ucap Ocha dengan suara bergetar.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian, Like, Vote dan Komen, oke...😉
__ADS_1
Dukung terus cerita ini sampai tamat ya, kalau ada kritik dan saran silahkan kalian tulis di komen aja ya. Terimakasih🤗