
Agnes tengah berada di sebuah kafe, dia duduk di salah satu meja di dekat dinding yang menghadap taman buatan. Sesekali dia menengok ke arah pintu masuk sembari merapikan anak rambutnya. Hampir satu jam dia duduk di sana, minuman yang dipesannya juga sudah hampir habis tetapi, orang yang ditunggunya belum juga menampakkan batang hidungnya.
Agnes mulai gusar, dia memilin-milin jemarinya dengan kesal.
"Maaf lama menunggu," ucap seorang pria yang entah muncul dari mana. Pria itu menarik kursi di hadapan Agnes lalu mendudukkan dirinya di sana.
Agnes melempar senyum tipis kepada pria yang duduk di hadapannya kini yang ternyata adalah Seno, mantan suaminya.
"Gak apa-apa Mas, aku tau kamu pasti sibuk. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah mengganggu waktu berhargamu," ucap Agnes setengah mencibir. Dia melengos lalu membungkukkan badannya untuk mengambil paperbag yang sedari tadi dia letakkan di sebelah kakinya.
"Katakan ada apa, kenapa tiba-tiba kamu ingin bertemu denganku?" Seno mengabaikan cibiran Agnes dan melanjutkan ucapannya.
"Aku hanya ingin mengembalikan semua ini." Agnes meletakkan 3 paperbag berukuran besar di atas meja.
Seno menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa dikembalikan? Aku sengaja membelikannya untuk Angga," ucapnya santai. Dia mengenali paperbag itu dan tahu isinya karena itu memang pemberian darinya.
Agnes tersenyum sinis, "Terima kasih sebelumnya tetapi, Angga tidak membutuhkan semua ini." Agnes mendorong semua paperbag itu, mendekatkannya ke arah Seno.
"Nes, Angga putraku. Justru karena dia meminta semua mainan itu makanya aku membelikannya."
"Apa?! Putramu? Cihh!" Agnes tersenyum miring. Dia menautkan kedua lengannya di depan dada dan bersandar pada sandaran kursi yang didudukinya. "Mimpi apa kamu Mas, sampai tiba-tiba mengakui Angga adalah putramu. Bukankah selama tujuh tahun ini kamu tidak pernah menganggapnya ada."
Seno menghela napas kasar, "Ya, aku memang bersalah selama ini. Aku meminta maaf padamu dan Angga. Ijinkan Aku memberikan semua ini untuknya."
"Maaf Mas, jika kamu mengganggap dengan memberikan semua ini kamu bisa menebus dosamu pada Angga, bahkan berharap bisa mengambil Angga dariku, kamu salah besar. Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi," ucap Agnes jengah dan berapi-api.
"Kenapa tidak bisa? Aku ayah kandungnya." Seno mulai ngotot.
"Dan aku adalah ibu kandungnya. Aku yang mengandungnya selama sembilan bulan, melahirkannya seorang diri, merawatnya dan membesarkannya sendirian juga. Selama tujuh tahun ini aku mampu membiayai hidupnya tanpa pemberian darimu. Bisa kamu lihat sendiri 'kan, kami hidup dengan baik dan bahagia sampai sekarang. Jadi, kami tidak butuh pengakuan ataupun pemberian darimu. Bukankah kamu dan keluargamu juga tidak menginginkan kami. Saranku, sebaiknya kamu kembali ke kehidupanmu yang dulu karena kami tidak membutuhkanmu."
__ADS_1
"Lalu, siapa yang kamu butuhkan? Adipati Rangga Wijaya?" cibir Seno, "ciihh! Tidak sadarkah kamu kalau dia adalah suami orang? Tidak malukah kamu atas apa yang sudah kamu perbuat? Rumah tangga mereka sekarang menjadi hancur, dan itu adalah karena ulahmu." Ucapan Seno bagaikan pukulan telak yang menghantam ke relung sanubari Agnes. Membuat Agnes tertegun untuk sesaat.
"Benarkah?" tanya Agnes tidak percaya.
"Tentu saja, untuk apa aku berbohong."
Raut wajah Agnes seketika berubah. Pikirannya menjadi menerawang membayangkan kondisi Rangga.
Jadi, karena itu Rangga terlihat berbeda dari biasanya. Dia akan berpisah dengan Cinta, haruskah aku senang mendengarnya atau sedih? Karena aku sudah menjadi penyebab keretakan hubungan mereka? Kasian Rangga, pantas saja dia terlihat sangat menderita belakangan ini.
...****************...
"Kamu sudah siap?" tanya Reyhan yang membuyarkan lamunan Cinta. Mereka tengah berkumpul di ruang tengah.
Cinta tersenyum tipis, "Siap Yah, ayo kita berangkat sekarang!" Dia sudah berdiri dan bersiap untuk menyeret kopernya.
"Apa tidak sebaiknya kamu temui Rangga dulu untuk pamitan?" ucap Diana memberi saran.
"Hm, maafkan ibu. Ibu hanya bingung harus menjawab apa padanya nanti." Air mata Diana sudah menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak menyangka rumah tangga putrinya yang baru seumur jagung harus berakhir seperti ini.
"Ibu katakan saja sesuai kesepakatan kita kemarin. Pokoknya aku gak mau kak Rangga sampai tau keberadaanku. Aku sudah penuhi permintaan Ayah. Jadi, aku juga minta sama ayah dan ibu untuk memenuhi permintaanku." Cinta mengatakannya dengan wajah memelas. Melihat Diana meneteskan air mata, dia pun menjadi ikut menangis. Sungguh. Sejujurnya ini juga berat baginya, berpisah jauh dari keluarga dan orang-orang yang disayanginya. Namun, dia harus mengambil langkah ini jika tidak, selamanya dia akan hidup terbelenggu dalam masa lalu Rangga dan Agnes.
"Baiklah Sayang, terserahmu saja. Ibu berharap ini memang menjadi yang terbaik buat kalian." Diana mengusap air matanya dan memeluk Cinta selama berjalan menuju mobil.
Sementara itu,
Rangga yang baru pulang dari rumah sakit sedang melangkah menuju kamarnya di antar Laura.
__ADS_1
"Bu, kenapa aku dibawa pulang ke sini? Bukankah tadi aku minta diantar ke rumah ayah Reyhan. Aku ingin bertemu Cinta, Bu. Aku harus bicara padanya."
Laura menghela napas panjang, lalu mengintruksi Rangga untuk duduk di atas ranjang.
"Kamu masih belum sehat betul. Apa kamu tidak ingat pesan dokter tadi?"
"Tapi Bu ...."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus istirahat. Kamu bisa temui Cinta setelah kamu benar-benar sembuh."
"Tapi Bu, aku harus secepatnya menemui Cinta sebelum semuanya menjadi berlarut-larut. Dia sangat marah padaku. Tiga hari ini telponku sama sekali tidak mau dia angkat." Rangga terlihat sangat frustasi dan itu membuat Laura iba melihat keadaan putranya.
"Hm, baiklah tapi, kita tunggu ayah kamu pulang dulu biar kita berangkat bersama ke sana untuk meminta maaf."
Belum sempat Rangga menjawab ucapan Laura, terdengar ponsel Rangga bergetar yang ternyata 2 pesan masuk dari Gilang.
"Loe di mana? Gue cari ke rumah sakit katanya loe udah boleh pulang. Gue telpon-telpon juga kagak diangkat."
"Cika bilang, Cinta barusan nelpon dia buat pamitan ke bandara. Cinta bakal pergi dari kota ini ...."
Tanpa menyelesaikan membaca pesan dari Gilang, Rangga berlari keluar kamarnya menuju mobilnya dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Dia bahkan tidak menghiraukan teriakan Laura yang mencemaskan kondisinya yang masih lemah. Yang ada di pikirannya hanya ingin cepat sampai bandara sebelum pesawat Cinta berangkat dan dia akan benar-benar kehilangan Cinta.
...****************...
hay guys sampai sini gimana menurut kalian? suka? (ngarep)🤭🤭🤭
__ADS_1
besok udah senin guys jangan lupa bagi vote untuk Cinta sm Rangga dong😁 atau mau bagi bunga atau kopi juga boleh hehehe.... (banyak ngarepnya nih othor)🤣🤣
ok, kita rehat dulu sampai ketemu besok😘 happy weekend ya all🤗