
"heh, bangun! kamu tidur kayak kebo begitu. mau kuliah ngga tuh wendi sudah gedor-gedor pintu sejak pagi buta"
wily terus mengoceh sambil kesulitan mengenakan dasi dilehernya
"bocah ayo bangun, saya siram satu ember kalau masih ngga mau beranjak" lanjut wily yang tak ubah seperti para ibu membangunkan anaknya
"bentar kak, eh mas santai aja kenapa sih! masih pagi nih" ucap intan masih dalam mata terpejam
"saya hitung sampai tiga jika tak mau bangun juga saya seret ke kamar mandi! satu
dua........
Ti........." wily menghitung pelan
"iya bawel,,,, pagiku sekarang akan sangat menyebalkan" jawab intan sembari berjalan dengan mata yang belum terbuka sempurna
"aauuuu!!!!"
suara tabrakan kepala intan dengan telapak tangan wily yang menghalanginya dari tembok
"jalan itu pakai mata" kesal wily
"maaf mas, jalan bukannya pakai kaki ya" intan menyeringai tanpa dosa
"santai saja boss, jangan marah-marah terus tuh keriput betumpuk diwajah" lanjut intan dengan santainya menyahut handuk dan masuk kamar mandi sambil menyanyikan lagu favoritnya
"astaga, salah apa saya selama ini bisa menikah dengan gadis yang tak tahu aturan. ku pikir dia bocah polos" gerutu wily mengelus dadanya
paginya yang baru beberapa hari menyandang status suami akan menjadi pagi yang merepotkan, harapannya akan mendapatkan perhatian yang lebih tapi justru dia yang harus lebih memperhatikan
"jangan lama-lama, saya turun duluan " ucapa wily sebelum meninggalkan intan yang sedang asyik di kamar mandi
wily sebagai lelaki dewasa yang normal tentu saja tak bisa menahan pesona gadis muda yang cantik jelita, terlebih keduanya telah sah menjadi pasangan dimata agama dan negara
wily tetap akan menjaga apa yang memang belum menjadi haknya dengan tetap menunggu sampai istrinya siap
"mana intan wil, kenapa tidak ditunggu?" tanya mama nita
"mandinya lama ma, wily ada rapat pagi" ucap wily memeberikan alasan agar mamanya tak banyak komentar
saat ini wily hanya akan menjaalani apa yang ada didepan matanya. masalalunya belum sepenuhnya menghilang dan menjadi kenangan
__ADS_1
namun sejak dia bersumpah dan janji didepan papa intan, ia telah menerima intan sabagai pasangan yang akan menemaninya sampai kapanpun
"maaf ma telat, wendi mana ma?" tanya intan yang baru muncul dari kamarnya
"wendi sudah duluan katanya, tadi ada tugas apa gitu dari dosen katanya" jawab mama nita
"tugas? kok aku ngga tahu ya. ya sudah ma intan berangkat dulu ya" pamit intan tanpa menghiraukan suaminya
"nak, tunggu dulu! kamu tidak menyalami tangan suamimu. dan kamu juga belum sarapan" ucap mama nita
"oh iya! lupa ma. maaf ya mas" intan menarik tangan wily dan menyalami tangannya bak anak tk berangkat sekolah diantarkan mamanya
"intan tak biasa sarapan ma, nanti saja dikantin kampus. aku berangkat dulu ya ma, mas" ucap intan
"tunggu!" wily menghentikan " kamu mau berangkat dengan siapa?" tanya wily
"naik taksi bisa" jawab intan
"saya antarkan saja, kebetulan rapatnya arah kesana" ucap wily
"nanti merepotkan mas, ngga apa-apa kok aku naik taksi saja" jawab intan malas nanti akan banyak pertanyaan dan komentar dari suaminya
"ma, kami berangkat dulu" wily berpamitan pada mamanya dan menarik tangan intan membawanya ke mobilnya
mungkinkah intan sudah mulai menerimanya pikir wily
wily mulai mengemudikan mobilnya keluar pekarangan rumahnya
"makasih ya mas, jadi hemat ongkos kan aku" ucap intan girang pasalnya sejak menikah tak ada pemberitahuan uang masuk ke tabungannya dari papanya
"maaf saya lupa memberikanmu uang, ambil tas dibelakang" ucap wily memerintah
"tas mana? buat apa mas" tanya intan
"buka dompetnya" ucap wily lagi. wily lupa jika didompetnya masih tersimpan masalalunya yaitu karin
"ngga apa-apa nih saya buka, mau ambil apa sih?" intan penasaran
"buka saja, cerewet sekali " jawab wily ketus
"wahhhh mba karin sama mas wily cakep banget ya, serasi sekali" ucap intan mendapati dompet suaminya ada foto suami dan mantan kekasihnya
__ADS_1
tanpa marah ataupun cemburu intan justru berdecak kagum.
"sini!" wily mengambil dompet dari tangan intan karena ia juga lupa kenapa masih menyimpan foto karin di dompetnya
"tenang saja mas, rahasian diajamin aman santai saja" ucap intan sambil memainkan ponselnya
"ini ambil, setiap bulan akan saya tranfer buat kebutuhanmu jika kurang bilang saja. jangan minta sama papa aji atau indra kalau tidak mau saya hukum" wily menyerahkan sebuah kartu
"ngga usah mas, tabunganku masih banyak kok! cukup buat dua atau tiga bulan lagi" tolak intan merasa tak terlalu membutuhkan meski ia tahu tabungannya akan segera menipis jika tak beri oleh papanya lagi
"ambil saja, barang kali kamu butuh sesuatu" paksa wily meletakan kartunya pada tangan intan dan sekaligus sedikit modus ingin memegang tangan lembut istrinya
"dah samapi, sana turun jangan kelayapan nanti biar dijemput supir mau kerumah mama herlina atau langsung pulang terserah, saya pulang agak telat" pesan wily pada intan yang mau turun dari mobil
"oke boss, thank you ya sering-sering aja" jawab intan lalu turun dari mobil dan seperti biasa akan menemui teman-temannya
sekaligus penasaran kenapa wendi bilang ada tugas, tapi dirinya tak ada yang memberitahukan
"wahhhh, jadi ini tugas kalian" intan mendapati puspa bersama wendi sedang duduk berdua dan berpegangan tangan didekat taman yang agak sepi orang lalu lalang
"intan? kok bisa disini" tanya puspa kaget dan gugup
"kok bisa disini!" intan menirukan ucapan puspa dengan suara nyinyir " ngapain kalian, awas aja ya wen aku aduin sama kakakmu" ucap intan mengancam adik iparnya
"jangan dong, intan! kamu mau apa aku turuti" ucap wendi memohon
" aku pikirkan dulu, sekarang aku lapar mau makan bakso dikantin yang paling ujung" ucap intan
"kamu disini saja sama puspa, aku belikan sekarang oke!" ucap wendi berlari menuruti keinginan kakak iparnya
jika tidak bisa-bisa izin bawa mobilnya akan dicabut lagi oleh kakaknya
"hahahaha" intan tertawa lepas melihat wendi panik
"ngga nyangka ya teranyaa aku bukan sahabatmu. karena aku tak pernah nyembunyiin apapun dari kamu, tapi sekarang apa?" intan marah pada puspa
"maaf intan, kami baru jadian semalam dan rencananya baru akan aku kasih tahu dan hani siang nanti" ucap puspa " jangan marah ya sayangku sahabatku, aku ngga mungkin bohong atau nyembunyiin seseutu dari kalian oke!" lanjut puspa
"oke, tapi sekali lagi begini, kita bye! ayo masuk bentar lagi dosen kiler masuk kelas" ucap intan
"tapi wendi gimana?" puspa khawatir
__ADS_1
"biarkan saja, dia kan anaknya pak oki jadi ngga mungkin kena marah" ucap intan yang tahu adik iparnya sangat pintar sehingga banyak yang menyebutnya anak dosen
sangat berbanding terbalik dengannya