
"Kalian tega, datang ke sini gak ngabarin aku dulu, 'kan aku bisa jemput." Cinta merengut. Dia yang baru selesai berganti baju renang duduk di kursi santai yang bersebelahan dengan Cika. Mereka saat ini sedang berada di kolam renang di hotel Davin, tempat mereka menginap. Gilang memang menyewa kamar dengan dengan private swimming pool.
Cinta fokus memandang ke kolam renang di hadapannya. Melihat Sunny yang berenang bersama Arkana dengan diawasi Arga, sedangkan Gilang fokus pada Sasa, juga Stevan yang fokus pada Boy, putranya dengan Shine yang baru berumur 3 tahun. Sasa dan Boy terlihat lucu dengan berenang memakai jaket pelampung khusus bayi. Mereka semua pun terlihat tertawa bahagia di dalam kolam.
"Kami hanya tidak ingin merepotkanmu, Kak." Cika tersenyum tanpa dosa ke arah Cinta.
"Iya Cin, aku tau kamu pasti sibuk. Lagipula bagaimana caranya kamu membawa kami semua bersamaan." Stella yang duduk di kursi santai sebelah kiri Cika menambahi. Dia perlahan merebahkan tubuhnya di kursi itu.
"Sudah mulai nendang-nendang dia ya, Kak?" Cinta bertanya pada Stella yang sedari tadi mengusap-usap perut buncitnya. Ya, saat ini Stella sedang mengandung anak keduanya dengan Arga.
"Hm, begitulah Cin, yang ini lebih aktif dari Arkana dulu." Stella terkekeh pelan.
"Cowok lagi kayaknya ya, Kak?" Cika tersenyum geli.
"Ya, begitulah kata dokter." Stella kembali mengusap perutnya yang dirasa berdenyut.
"Waahhh, kak Arga hebat," canda Cinta.
"Hebat apanya? Aku malah waswas."
"Waswas kenapa, Kak?" tanya Cika dan Cinta berbarengan.
"Ya waswas, kalian tau sendirilah gimana kelakuan bapaknya. Aku takut kalau mereka nantinya nurunin kelakuan buruk bapaknya itu. Bisa-bisa tiap hari rumahku digedor ortu gadis yang minta tanggung jawab." Stella melengos. Dia menangkup dahinya sembari menggelengkan kepala saat membayangkan apa yang dia ucapkan barusan. Sementara Cika dan Cinta hanya tertawa geli.
"Tapi, kak Arga, 'kan sudah berubah sekarang. Sudah jadi pria yang bertanggung jawab. Suami dan ayah yang baik buat keluarganya," puji Cika.
"Amin," jawab Stella, "sama, Gilang,' kan juga gitu sekarang." Stella balik memuji.
__ADS_1
"Kalo kak Gilang waswasnya Sasa nanti yang dapat pria kayak dirinya dulu. Takut kena hukum karma dia." Cika terkekeh dengan ucapannya sendiri.
"Hah, suami kita bertiga tuh sama bobroknya. Maklum, mereka 'kan satu geng," celetuk Stella. Mereka lalu tertawa bersama, kecuali Cinta. Gadis itu hanya tersenyum samar mendengar mereka yang membicarakan suami mereka masing-masing. Dada Cinta tiba-tiba saja terasa nyeri. Menyadari hal itu Cika dan Stella segera menghentikan tawa mereka.
"Maaf Kak, kami bukan bermaksud membuatmu tersinggung." Cika menatap Cinta dengan wajah bersalah.
"Tidak apa-apa Cik," bohong Cinta. Bibirnya tersenyum tipis padahal dalam hatinya sedang meraung, menjerit, karena tidak bisa ikut membicarakan suaminya.
Kak, seandainya kamu ada di sini. Lirih batinnya. Pandangannya kembali fokus ke kolam renang, memperhatikan Arkana yang sedang bermain air dengan Arga, Sasa dengan Gilang, dan Boy dengan Stevan. Pasangan ayah dan anak itu tertawa lepas dan terlihat sangat bahagia. Sementara Sunny hanya sendirian, tanpa Rangga, ayahnya. Hatinya seakan teriris. Perih. Sekarang dia baru menyadari apa yang dulu pernah diucapkan Diana sangatlah benar. Dia sudah terlalu egois dulu. Mengambil keputusan tanpa memikirkan dampaknya untuk Sunny.
"Lho, kalian kok malah masih duduk di sini? Gak pada mau berenang," tanya Shine yang datang dari changing room. Gadis itu melepas jubah mandinya dan meletakkannya di kursi santai sebelah Cinta.
"Kita lagi nungguin kamu, Shine." Cika sudah berdiri, ikut melepas jubah mandinya lalu mendekati Shine. Kemudian, mereka berdua menceburkan diri ke kolam.
"Kamu gak ikut berenang?" tanya Stella pada Cinta.
"Mario," panggil Gilang dari dalam kolam saat melihat Mario melintas di sekitar kolam. Mereka semua lalu ikut melihat ke arah Mario, dan betapa kagetnya Cinta saat melihat Mario tidak datang sendiri. Mario datang bersama Rangga. Entah kenapa mereka bisa ke sini, bukankah ini kolam renang private?
"Hai Cinta," sapa Mario pada Cinta saat melewati gadis itu.
"Hai Mario," balas Cinta, "kalian sedang apa di sini?" tanyanya pada Mario. Cinta yang masih mengenakan jubah mandi, bangkit dari duduknya dan berdiri di dekat Mario.
"Aku ada urusan dengan Gilang, mengenai persiapan pestanya besok malam."
"Apa?! Kamu yang mengurus persiapan pestanya?" tanya Cinta tidak percaya. Mario seorang bos besar, dia punya ribuan karyawan. Bagaimana bisa dia turun tangan mengurus hal kecil seperti ini? Apa dia sudah kekurangan kerjaan sampai ikut mengurus keperluan pesta untuk tamu yang menyewa hotelnya? Aneh?!
Cinta melirik Rangga sekilas. Namun, yang dilirik tampak tak acuh, pria itu sibuk dengan layar ponselnya.
__ADS_1
"Cika itu, 'kan sudah seperti saudaramu dan Gilang itu juga sahabatmu. Mereka juga datang jauh-jauh ke sini. Jadi, aku harus memberi service yang terbaik buat mereka." Mario memberi alasan untuk menutupi kecurigaan Cinta.
"Tapi, harusnya kamu tidak perlu melakukan. itu," ucap Cinta sungkan.
"Gimana, Mario?" Gilang sudah naik ke atas kolam dan sudah mengenakan jubah mandinya.
"Kita ke sini mau membahas tentang persiapan pestamu." Mario menunjuk dirinya dan Rangga yang sudah memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Oke, kita bicara di sana bagaimana?" Gilang menunjuk meja bundar yang terletak di sudut pinggiran kolam renang yang dijawab anggukan oleh Mario.
"Kak Cinta, ayok!" panggil Shine dari dalam kolam.
Cinta melangkah mendekati pinggiran kolam dengan pandangan yang masih fokus menatap Rangga yang berdiri di sebelahnya.
"Aaaaa!" Karena licin dan kurang fokus, kakinya kepleset dan hampir nyebur begitu saja ke kolam jika tangan Rangga tidak sigap menangkap tubuhnya.
Dalam sepersekian detik jantung Cinta bekerja menjadi dua kali lipat lebih cepat dari biasanya. Dia tidak mampu berkedip saat wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah Rangga. Cinta bisa merasakan napas hangat Rangga yang menerpa wajahnya. Napas saling beradu ditambah mata bertemu mata, membuat degup jantung Cinta semakin tidak beraturan. Apalagi saat Rangga melempar senyum manisnya. Rasanya Cinta jatuh cinta untuk kedua kalinya pada pria yang memeluknya saat ini. Pria yang sama. Suaminya. Adipati Rangga Wijaya.
Namun, Cinta tidak dapat menikmati pemandangan indah di depan matanya itu dalam waktu yang lama karena di detik berikutnya....
Byuuurrrr....
"Ups, sorry gue kepleset."
...****************...
Likenya jangan pelit-pelit yağŸ¤
__ADS_1