
"Anin... Sayang, hey denger dulu aku belum selesai..." Bastian berusaha meraih tangan Anin, namun Anin menghindar kini Anin membelakangi Bastian.
"Kamu bilang kamu percaya sama aku. Aku belum menjelaskan semuanya sama kamu, tapi reaksi kamu sudah seperti ini--" kata-kata Bastian terhenti saat melihat Anin berbalik menatapnya.
"Kalo gitu jelasin sekarang!" Tegas Anin dengan mata berkaca-kaca, segera setelah mengatakan itu Anin mengalihkan pandangan nya kearah lain, tak ingin Bastian melihat air matanya yang kembali luruh.
"Denger! Kamu jangan salah paham. Maksud aku, saat itu aku berusaha melupakan kamu sementara. Itu supaya aku pokus sama studi ku, kamu tau kan aku anak satu-satunya dan tanggung jawab ku sangat besar untuk perusahaan Papi, karna aku yang akan meneruskan bisnis Papi" jelas Bastian, dengan cepat Anin menatap Bastian.
"Lalu maksud kamu mengkhianati aku apa?" Kata Anin sedikit meninggi.
"Ya, karna aku ngilang gitu aja. Aku gak pernah ngasih kabar ke kamu, dan aku udah buat kamu kecewa. Aku udah berpikir pendek, seharusnya aku gak ngelakuin itu sama kamu, harusnya aku gak berpikir buat melupakan kamu sementara karna jarak kita berjauhan saja itu sudah membuat mu sakit. Tapi aku malah membuat luka kamu semakin besar, itu adalah pengkhianatan juga kan. Aku menodai cinta kita, seharusnya aku berpikir waktu itu kalau kamulah yang paling penting dari apapun buat ku," jelas Bastian meyakinkan.
Anin menatap Bastian tajam, berusaha mencari kebohongan disana. Namun, dengan sigap Bastian menundukan pandangan nya. Walaupun menurut Anin alasan Bastian tidak masuk akal.
"Bener, itu alasan kamu?" Bastian mengangguk cepat.
"Oke, seperti biasa aku percaya sama kamu. Tapi jika suatu saat aku tau kamu bohongin aku, aku yakin kamu tau akibatnya" ujar Anin serius.
Bastian menggeleng pelan,"A-- aku gak mungkin bohongin kamu Nin" menenangkan Anin dengan menggenggam tangan Anin.
"Maaf Nin! Aku gak bisa ngasih tau kamu yang sebenarnya. Tapi aku selalu berharap kamu gak akan pernah tau apa yang terjadi antara aku dan Vina. Aku gak akan ngebiarin kamu tau, karna aku gak mau kehilangan kamu Nin" batin Bastian.
Melihat Anin hanya diam, Bastian memberanikan diri memeluk Anin. Anin diam dan membiarkan Bastian memeluknya, namun Anin tidak membalas pelukan Bastian.
__ADS_1
"Aku berharap apa yang kamu katakan itu adalah kejujuran Bas, aku selalu berusaha buat percaya sama kamu tapi sekarang entah kenapa aku merasa aneh sama diri aku sendiri. Mulut ku mengatakan jika aku percaya sama kamu, tapi tidak dengan hati ku. Ada yang kamu sembunyikan dari aku, dan aku tau itu hal besar. Maaf Bas, kali ini aku akan mencari tau sendiri apa yang kamu sembunyikan dari aku. Aku sudah memberimu kesempatan untuk bicara jujur, tapi hanya itu-itu saja yang kamu katakan. Aku gak mau kebenaran itu terungkap saat kita sudah menikah," ucap Anin yakin dalam hati.
'Tes' buliran bening itu kembali meluncur dipipi Anin.
Mendengar kata 'mengkhianati', Anin merasa ada makna lain di balik kata itu. Entahlah, untuk sekarang Anin tidak mempedulikan itu tapi hati nya seakan menolak dan memintanya mencari makna yang sebenarnya.
Entah bagaimana jika Anin tau yang sebenarnya, Anin yang membenci penghianatan justru saat ini dirinya tengah dihianati oleh sahabat dan pria yang berstatus sebagai calon suaminya.
Saat bertemu dengan orang tua Bastian, Anin yang memang tidak bersemangat lagi dia lebih banyak diam, sesekali Anin menjawab pertanyaan dari Mami dan Papi Bastian seadanya.
Selesai makan malam, kini Anin tengah berada di ruang tengah yang luas di rumah Bastian yang mewah, bahkan dirumah itu sangat ramai karna mereka tengah menyiapkan sesuatu untuk pernikahan yang sebentar lagi akan berlangsung. Namun, sepertinya hal itu tidak berlaku bagi Anin, rasanya sepi dan hambar. Baru kali ini Anin merasa tak nyaman berada di rumah keluarga Bastian, bahkan saat ini Anin terlihat gusar.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Mami Sarah lembut.
"Em gak papa Mih!" Tersenyum tipis.
Bastian melihat Anin yang sepertinya sudah tak nyaman, Anin pun menatap Bastian yang tengah menatapnya teduh.
"Pih, Mih. Ini sudah malam, sebaiknya Bastian antar Anin pulang" ujar Bastian.
Kedua orang tua Bastian melirik kearah Anin," iya sepertinya Anin sangat lelah" ucap tuan Dewillson.
"Kenapa harus pulang, kamu nginep disini aja ya sayang?" Saran Mami Sarah.
__ADS_1
Anin membelalak, ia saja merasa tidak nyaman dirumah ini bagaimana mungkin ia menginap disini? Bisa-bisa ia tidak akan bisa tidur, pikir Anin. Ingin menolak tapi ia tidak bisa, Anin hanya melirik Bastian dan meminta bantuan nya.
Bastian mengerti maksud tatapan Anin, jujur Bastian senang jika Anin menginap dirumah nya tapi sepertinya Anin tidak mau.
"Mih... besok Anin kerja dia juga ada meting pagi. Iya kan sayang?" Anin mengangguk pelan, ia tidak berniat berbohong tapi saat ini Anin benar-benar terpaksa.
"Yasudah kalo gitu. Sayang kamu boleh pulang, terus istirahat ya... Lagian kan bentar lagi juga kamu akan tinggal disini bersama kami" ucapnya mengusap rambut Anin tulus.
Anin membalas dengan senyuman nya. Mami Sarah memang sangat menyayanginya, bahkan ia selalu berharap Anin segera menikah dengan Bastian menjadi menantunya. Selain karna beliau juga tidak punya anak perempuan, beliau juga menganggap Anin sebagai putrinya sendiri. Dan entah kenapa Mami Sarah sampai menyayangi Anin sebesar ia menyayangi anak nya.
Menurutnya Anin itu spesial ada sesuatu dalam diri Anin yang membuat siapa pun akan menyukainya. Bagaimana tidak? Selain memiliki paras yang cantik, Anin juga termasuk gadis yang baik, pintar, penyayang dan memiliki hati yang tulus. Walaupun terkadang sikapnya itu dingin dan ketus, namun itu hanya berlaku saat dikantor, atau untuk orang yang tidak ia kenal dan orang yang Anin tidak Anin sukai.
Diperjalanan Anin lebih banyak diam dan melihat ke arah samping. Banyak sekali pertanyaan dalam benak nya, bahkan Anin merasa tidak puas dengan jawaban yang berikan Bastian. Sekarang Anin dilanda kebingungan, apa yang harus ia lakukan sekarang? Anin menghela nafasnya kasar dan itu tertangkap oleh Bastian.
"Kamu masih mikirin yang tadi?" Melirik Anin sekilas. Namun, Anin bergeming untuk saat ini rasa nya ia enggan membicarakan hal yang jelas-jelas hanya akan mendapat jawaban itu-itu saja dari Bastian.
"Nin aku udah jelasin semuanya sama kamu, kamu masih mikirin apalagi?" Ucap Bastian tenang.
"Aku gak mikirin apa-apa, aku cuma cape aja" balas Anin menekankan kata-kata nya.
Bastian merasa ia tidak boleh terpancing, Bastian tau saat ini Anin dalam mode sensitif jika dia dia bicara dengan nada tinggi sedikit saja maka Anin akan lebih marah.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan komentar nya🤗 Terimakasih...