
Keesokan harinya, Rangga dan Cinta memutuskan berangkat ke kota Sanur saat subuh dengan diantar Mario. Mereka akan menyeberang ke Pulau Nusa Penida dengan menaiki fast boat dari Pantai Sanur jam 08:00 pagi. Namun, sebelum berangkat ke Pulau Nusa Penida mereka ingin melihat sunrise terlebih dulu di Pantai Sanur. Untuk itu, mereka berangkat subuh sebelum matahari terbit.
Setelah puas melihat matahari terbit, tepat jam 08:00 pagi Rangga dan Cinta segera menaiki fastboat dan berangkat menuju pulau Nusa Penida.
Ada banyak orang juga yang berangkat bersamaan dengan mereka. Tempat duduknya hampir penuh. Merasa tidak nyaman Rangga mengajak Cinta untuk diam di atas dek kapal sembari menikmati pemandangan dan angin laut. Tidak lupa mereka berfoto selama di atas fastboat.
Cinta berdiri dengan merentangkan kedua tangannya. Kemudian, Rangga memeluk pinggangnya dari belakang dan menyandarkan dagu di bahu Cinta. Mereka berpose bak adegan romantis dalam film Titanic.
Tak berapa lama mereka berpelukan, ponsel Rangga terdengar bergetar. Segera Rangga mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Siapa?" tanya Cinta.
"Ben Damian Ezra," jawab Rangga dengan tersenyum manis yang dibalas senyum keki oleh Cinta. Dia tahu siapa Ben Damian Ezra, tentu saja adiknya Rangga dan dia sudah terlambat saat menyadari itu.
"Halo Ben, ada apa?"
"...."
"Untuk apa? Apa kamu sedang ada masalah dengan ayah dan ibu?" Raut wajahnya terlihat cemas.
"...."
Rangga menggaruk alisnya yang tiba-tiba terasa gatal. "Hm, begitu ya, pakai saja juga aku belum membutuhkannya. Tapi, benar 'kan kamu sedang tidak bermasalah dengan ayah dan ibu?"
"...."
"Oke, aku masih di Bali, mungkin seminggu lagi baru balik ke Singapura, setelah mampir ke rumah ayah Reyhan lebih dulu."
"...."
"Baiklah, bagaimana dengan kuliahmu? Oh ya, kata ayah, aku kau menggantikan salah satu sopir limousine kita untuk mengantar pengantin, bagaimana kau berhasil?"
"...."
"Apa?! Pengantin perempuannya kabur, bagaimana bisa?" Rangga melirik Cinta yang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"...."
"Owh begitu, baiklah. Aku seminggu lagi baru pulang. Kau jaga ayah dan ibu, juga bantu ayah mengelola bisnis kita."
"...."
__ADS_1
"Hm, baiklah."
"Ada apa, Kak?" Cinta segera bertanya setelah Rangga menutup ponselnya.
"Ben, meminta ijin untuk tinggal di apartemenku."
"Owh, Ben sudah sebesar apa sekarang, Kak?"
"Sudah sembilan belas tahun. Dia baru memulai kuliahnya. Kau tau, dia menjadi idola para gadis di kampusnya."
"Gak heran aku, Ben memang sangat tampan. Bahkan bibit tampannya itu sudah terlihat sejak dia kecil," ujar Cinta menerawang, mengingat wajah Ben.
"Apa sekarang kamu sedang memuji pria lain di depan suamimu sendiri?"
"Aku sedang memuji adikmu sendiri, apa begitu saja sudah membuatmu cemburu."
"Tentu saja, kamu hanya boleh melihatku dan memujiku seorang. Hanya aku seorang, mengerti!" Sudah menangkup kedua pipi Cinta.
"Cih, kenapa jadi posesif begitu sih?" gerutu Cinta dengan mencebikkan bibirnya.
"Harus! Karena kamu hanya milikku. Semua yang ada pada dirimu hanya milikku. Paham!"
Cinta hanya mendesah pelan. "Ngomong-ngomong soal Ben, kenapa aku baru kepikiran Ben Damian Ezra itu adalah nama adikmu. Coba kalau aku sadar lebih awal, mungkin aku tidak akan tertipu olehmu."
"Bisa dibilang iya, bisa dibilang enggak," jawab Cinta dengan tatapan menantang. Dia memainkan telunjuknya secara erotis di rahang Rangga.
"Jangan suka memancingku, Sayang. Nanti kamu tidak jadi menjelajahi pulau gara-gara Joni membuatmu tidak bisa berjalan." Menunjukkan seringai liciknya.
Lagi-lagi Cinta terdengar menghela napas. "Lalu, Ben bilang apa lagi tadi? Aku dengar kayak ada masalah."
"Hm, ada sepasang pengantin yang ingin menyewa salah satu limousine di hari pernikahan mereka tetapi, mendadak sopir yang ditugaskan ayah berhalangan. Jadi, Ben yang diminta ayah untuk menggantikannya. Namun, kata Ben tadi, mereka tidak jadi menyewa karena pengantin perempuannya kabur."
"Lalu?"
"Lalu, ya acara nikahnya batal."
"Owh," jawab Cinta.
Setelah 45 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di Pulau Nusa Penida.
"Tuan Rangga dengan Nona Cinta Yasmila Wijaya?" Seseorang menyapa mereka setelah turun dari fastboat. Orang itu menunjukkan foto mereka dari layar ponsel miliknya.
"Iya betul, Bapak siapa?" tanya Rangga.
__ADS_1
"Panggil saja saya pak Made, Tuan. Saya sopir yang ditugaskan tuan Davin untuk memandu Tuan dan Nona selama liburan di sini," jelas bapak itu dengan logat daerah yang kental.
"Owh, terima kasih Pak, saya Rangga dan ini istri saya, Cinta."
"Salam Pak Made," sahut Cinta yang mencakupkan kedua tangannya di depan dada.
"Iya salam Nona Cinta, mari silakan masuk ke dalam mobil, Tuan dan Nona." Pak Made membukakan pintu mobil untuk Cinta dan Rangga.
"Terima kasih, Pak."
"Sama-sama Non," balas pak Made yang lalu menutup pintu mobil dan menuju kursi kemudi.
"Tuan dan Nona mau ke hotel dulu apa langsung berpetualang?" tanya pak Made yang melirik mereka dari kaca spion.
"Kami sebenarnya ingin menjelajahi pantai yang terkenal itu, apa sih namanya, Pak? Pantai yang menyerupai leher Tyrannosaurus alias T-Rex itu."
"Pantai Kelingking, Tuan. Dinamai Pantai Kelingking karena bentuknya yang menyerupai jari kelingking tapi, ada juga yang bilang menyerupai leher T-Rex. Sebenarnya masih banyak pantai-pantai yang bagus di sini Tuan tapi, pantai itu yang jadi paling favorit wisatawan yang datang ke sini. Pemandangan alam dan pantainya memang sangat indah, apalagi saat matahari terbenam."
"Berarti baiknya ke sana pas sore dong Pak, awww!" Cinta mengaduh kaget saat tubuhnya berguncang keras.
"Betul Non, dan maaf jalanan di sini masih berbatu jadi akan banyak guncangan selama menuju hotel. Begitu juga saat menuju tempat-tempat wisata nantinya."
"Jadi, kita baiknya ke pantai itu jam berapa, Pak Made?" tanya Rangga antusias. Dengan sigap dia memeluk tubuh Cinta saat mobil berguncang lagi.
"Menurut saya jam tiga sore, Tuan. Jam segitu juga matahari tidak terlalu panas menyengat."
Rangga melirik jam di tangannya. "Baiklah, kalau begitu antar kami ke hotel lebih dulu. Jam tiga sore baru kita berangkat ke sana. Bagaimana menurutmu, Sayang?" Rangga mengecup kening Cinta sekilas.
"Aku ikut kamu aja, Kak, awww!" Cinta mengaduh lagi saat tubuhnya berguncang.
"Mumpung masih banyak waktu, nanti di hotel kita test si Joni bentar ya, ya, ya?" Membujuk Cinta dengan seringai konyolnya. Sementara Cinta memutar bola mata malas. Suaminya seakan tidak kenal lelah. Entah seremuk apalagi badannya nanti.
...****************...
Mici-mici selama Rangga dan Cinta honeymoon, othor mau kenalin Ben dulu, boleh? Masih pada ingat gak sama Ben? Ben karang udah kuliah lho, gak kalah tamvan kan dari kakaknyaðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤ yuk kepoin Ben yuk....
Tunggu Ben di bab berikutnya ya guysðŸ¤. Jangan lupa ritual hari senin ya, aku tunggu loh😘😘😘
__ADS_1
...****************...