Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Lima Tahun Lalu


__ADS_3

"Stop, Pak!" perintah Cinta pada sopir taksi yang ditumpanginya saat mereka sudah sampai di depan gerbang villa yang ditempatinya.


"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya ambil uang dulu di dalam," imbuhnya sembari membuka pintu mobil. Dia berniat masuk dan meminta bantuan Soraya untuk membayarkan sewa taksinya.


"Baik Nona," jawab sopir itu.


Namun, suatu keberuntungan untuk Cinta karena saat hendak membuka gerbang, mobil yang mengantar Soraya dan Sunny juga tiba di sana. Soraya menurunkan kaca mobil saat melihat Cinta menghampiri mobil yang membawanya, sedangkan sopirnya turun untuk membuka gerbang.


"Bunda," panggil Sunny dari dalam mobil begitu melihat Cinta.


"Iya Sayang, baru pulang sekolah ya?" Cinta membungkukkan badannya, menengok ke dalam mobil untuk bisa tersenyum pada Sunny. Kemudian, dia beralih pada Soraya.


"Oma bawa uang, tidak? Aku pinjam dulu buat bayar ongkos taksiku? Tasku ketinggalan di pesta om Davin semalam," ujar Cinta dengan wajah takut-takut.


"Kok bisa ketinggalan?" tanya Soraya heran sembari meraih tasnya untuk mengambil beberapa lembar uang dan diserahkan pada Cinta.


"Ceritanya panjang Oma, makasi Oma uangnya." Cinta mengambil uang dari Soraya dan menuju taksinya.


"Terima kasih Nona," ucap sopir taksi itu mengangguk sopan.


"Sama-sama Pak, kembaliannya ambil saja." Cinta tersenyum ramah sebelum meninggalkan taksi itu untuk masuk ke dalam mobil Soraya.


"Gimana hari ini di Day Care, Sayang?" tanya Cinta yang sudah duduk di sebelah Sunny.


"Asik Bunda, main sama teman-teman. Bunda kok pulang sendiri? Ayah mana?"


"Ayah?" Cinta menautkan kedua alisnya menatap Sunny lalu melirik Soraya sekilas.


"Kata Eyang, Bunda lagi ketemuan sama ayah," jawab Sunny dengan polosnya. Sementara Cinta melirik Soraya yang mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil.


"Om ...."

__ADS_1


"Ehem, oma masuk duluan." Soraya segera membuka pintu mobil dan meninggalkan Cinta yang ingin menuntut penjelasannya.


...****************...


"Apa maksud ucapan Sunny tadi, Oma?" Cinta yang masih penasaran menyusul Soraya ke kamarnya.


"Tidak ada maksud apa-apa, oma hanya menghiburnya. Dia menanyakanmu terus semalam. Jadi, oma bilang aja kamu sedang jemput ayahnya dia." Soraya mencoba memberi alasan yang paling masuk akal. Sepertinya setelah ini dia harus lebih berhati-hati lagi kalau berbicara dengan Sunny. Dia lupa kalau cicitnya itu sudah bertambah besar dan bertambah pintar.


"Tapi, kenapa harus memakai alasan seperti itu? Sunny, 'kan menjadi tambah berharap. Oma tau sendiri, aku tidak mungkin bisa memenuhi keinginannya soal ayah." Cinta bicara dengan nada frustasi. Kepalanya kembali berdenyut. Pusing akibat alcohol dan masalahnya dengan Ben belum hilang, sekarang ditambah lagi dengan masalah ayah untuk Sunny.


"Ya, kamu tinggal telpon ayahnya minta kemari, gitu aja kok susah." Soraya menjawab dengan santainya.


"Tidak mungkin oma, dia akan mengambil Sunny dariku nanti." Cinta mendudukkan dirinya di atas ranjang Soraya.


"Dia itu ayah kandung Sunny, dia juga punya hak atas anaknya, dan Sunny juga punya hak atas ayahnya. Apa kamu tidak kasihan dengan putrimu? Tiap hari dia menanyakan ayahnya. Apalagi sewaktu di Day Care, kalau melihat teman-temannya diantar jemput ayah-ayah mereka, mata Sunny langsung berkaca-kaca. Oma jadi tidak tega melihatnya." Soraya bicara panjang lebar, mencoba memancing naluri keibuan Cinta.


"Kamu gak boleh egois dong, pikirkan juga perasaan Sunny. Apa kamu ingin Sunny bernasib sama sepertimu, tumbuh besar tanpa pernah merasakan kasih sayang dari ayahnya?" Kini Soraya sudah duduk di sebelah Cinta dan mengusap pundak gadis itu.


"Oma tidak memintamu untuk kembali pada Rangga, oma hanya ingin kalian bisa tetap menjaga komunikasi demi Sunny. Sunny tidak tau apa-apa, tidak adil jika dia harus ikut menderita karena keegoisan kalian." Soraya mengusap rambut Cinta dengan sayang.


Cinta hanya terdiam, semua yang Soraya ucapkan seakan menusuknya ke relung hati yang paling dalam. Selama ini dia sudah terlalu egois, dia hanya memikirkan perasaan dan harga dirinya saja. Dia kabur begitu saja karena merasa terhina, merasa direndahkan oleh penghianatan yang Rangga lakukan. Dia tidak pernah menyangka kalau sikapnya itu juga berdampak pada tumbuh kembang, termasuk mental Sunny.


"Oma,"


"Iya?"


"Apa Oma percaya kalau di dunia ini kita punya kembaran?"


"Maksud kamu?"


"Aku bertemu dengan kembaran kak Rangga, Oma."

__ADS_1


...****************...


"Apa kamu merindukannya sekarang?" Wajah Diana berubah sendu setelah menanyakan itu pada Cinta yang meneleponnya.


"...."


"Ah iya, ibu paham, kamu melakukan ini karena Sunny." Diana melirik Reyhan yang sedang membaca koran di sebelahnya.


"...."


"Hm, tapi ada sesuatu hal yang harus kamu tau mengenai Rangga." Diana melirik Reyhan lagi. Tatapannya yang sendu membuat Reyhan sadar apa yang harus dia lakukan.


Reyhan yang sudah mengenal bagaimana Diana, menyadari Diana sedang membutuhkan dukungannya untuk nengungkap kebenaran pada putri mereka. Dia melipat korannya lalu merangkul bahu Diana, berharap bisa menyalurkan kekuatan untuk istrinya.


"....."


"Sebenarnya dari lima tahun lalu ibu sudah mencoba menceritakan ini padamu dan oma tetapi, kamu selalu tidak memberi ibu kesempatan untuk bicara. Kamu selalu marah jika kami berbicara tentang Rangga." Diana menghela napas panjang, matanya sudah terlihat berkaca-kaca.


"..... " Sementara suara Cinta di seberang sudah terdengar tidak sabar.


"Lima tahun lalu saat Rangga mengejarmu ke bandara, dia ... dia mengalami kecelakaan fatal. Dia takut terlambat menemuimu di bandara, hingga melajukan mobilnya dengan sangat kencang bahkan melanggar lampu lalu lintas. Mobilnya menghantam halte bis demi menghindari mobil yang sedang melaju dari arah yang berlawanan. Kata para saksi yang ada di tempat itu, kejadiannya begitu cepat. Benturan keras menyebabkan Rangga mengalami luka parah di bagian kepala, dan dia kritis ...." Ucapan Diana terputus karena dia sudah tidak mampu melawan air mata yang sedari tadi berusaha mendobrak kelopak mata yang membendungnya.


".... "


Diana tidak mendengar Cinta bersuara apa pun setelah mendengar ucapannya tadi. Mungkin Cinta sedang terkejut. Keterkejutan yang sama seperti dirinya dulu saat pertama kali mendengar berita kecelakaan Rangga.


Suasana berubah hening, baik dari pihak Cinta maupun dari pihak Diana. Mereka seakan larut dalam pikiran masing-masing.


Selang beberapa waktu, Diana masih menyusut sudut matanya yang basah oleh lelehan air matanya, sedangkan Reyhan terdiam. Pria itu menghela napas panjang lalu melepas kacamatanya. Pandangannya menerawang jauh mengingat kejadian lima tahun yang lalu.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2