
"Hahaahaaaa, gila loe! Gue jadi gak sabar pengen liat gimana ekspresi Cinta pas hari itu." Gilang tertawa lepas setelah mendengar cerita Rangga.
Setelah dari bandara, Rangga bersama Gilang dan Cika memutuskan untuk makan siang bersama di sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari bandara.
"Aku gak bisa ngebayangin pas hari itu tiba, aku mundur aja. Aku gak tega sama kak Cinta." Cika terlihat murung dengan raut wajah bersalah. Sementara Sasa, anak Cika dan Gilang terbangun karena suara tawa keras Gilang tadi. Bocah perempuan yang berumur 2 tahun itu tampak menggeliat di gendongan ibunya. Kemudian, dengan gemas Gilang mengulurkan tangan untuk mengambil alih putrinya dari gendongan Cika.
"Eh, princesnya ayah sudah bangun. Gendong sama ayah ya Sayang, kasian bunda capek." Dengan tertawa lucu bocah imut dan menggemaskan itu melompat ke pelukan Gilang. Gilang lalu menghujani Sasa dengan ciuman gemas hingga gadis kecil itu semakin tergelak karena merasa geli.
Rangga yang menyaksikan pemandangan membahagiakan itu hanya bisa tersenyum samar, hatinya terenyuh, nyeri, dan sesak. Dia merasa iri dan sedih karena sampai sekarang belum bisa menjalankan perannya sebagai ayah. Dia belum bisa merasakan bahagianya memeluk putrinya walaupun putrinya sekarang sudah berada di dekatnya.
"Kalau menurut aku sih kita hentikan saja semua ini. Kak Rangga mending langsung bilang aja sama kak Cinta kebenarannya." Suara Cika menyadarkan Rangga dari lamunannya.
"Jangan dong Cik, nanggung ini," pinta Rangga.
"Tapi aku ngerasa bersalah sama kak Cinta karena ikut berkonspirasi untuk ngebohongin dia. Lagipula, setelah mendengar cerita kak Rangga tadi, aku yakin kak Cinta udah maafin Kakak."
"Gak Cik, Cinta belum maafin aku. Dia bersikap seperti itu karena merasa bersalah aja sama aku. Dia taunya demi mengejar dia, aku sampai harus mengalami kecelakaan tragis itu. Aku sangsi dia mau menerimaku kembali jika aku jujur sekarang."
__ADS_1
"Kenapa Kakak sangsi? Bukankah tadi Kakak bilang sendiri gimana ekspresi kak Cinta saat tau Kakak amnesia."
"Iya Cik, maka dari itu aku bilang dia cuma ngerasa bersalah. Awal kami bertemu kembali tidak seperti itu. Saat dia mabuk sebenarnya aku sudah ingin menghentikan rencana ini aku tidak bisa melihat dia menyakiti dirinya sendiri. Ditambah aku sangat merindukannya, aku tidak tahan ingin memeluknya saat itu tetapi, niatku batal setelah aku mendengar dia terus merancau kalau dia membenciku. Bahkan dalam kondisi tidak sadar pun dia bilang dia membenciku. Dia juga membenci Ben karena Ben mirip denganku. Dia tidak mengenaliku saat itu, Cik. Jika dia mencintaiku harusnya dia mengenaliku, bukan?"
"Om Reyhan dan ibu Diana yang merancang rencana ini. Kamu tidak perlu merasa sedih dan bersalah begitu. Kita melakukan ini juga demi kebaikan Cinta, Sayang." Gilang mencoba membujuk istrinya. Dia menggenggam jemari Cika untuk meyakinkan gadis itu.
"Setelah ini Cinta akan tau bagaimana rasanya kehilangan."
...****************...
"Waw, pengantinnya sudah datang." Mario yang selesai mendapat telepon dari Rangga langsung turun ke lobby untuk menyambut kedatangan Gilang dan Cika.
"Jangan bicara formal begitu padaku, bukankah kita sudah pernah bertemu sebelumnya." Mario menepuk punggung Gilang sebagai tanda persahabatan.
"Bagaimana persiapan pestanya?" Rangga memulai obrolan serius mereka.
"Sejauh ini sudah berjalan empat puluh persen. Apa kalian mau mengeceknya sekarang?"
__ADS_1
"Sepertinya nanti saja Mario, kami ingin istirahat dulu." Gilang menjawab demi melihat Cika yang sudah tampak kelelahan. Maklum anak seumuran Sasa sedang aktif-aktifnya. Jadi, lumayan membuat Cika kewalahan. Mereka memang memutuskan untuk tidak memakai jasa babysitter karena Cika tidak ingin melewatkan satu momen pun mengenai perkembangan Sasa. Maka dari itu juga dia merelakan kariernya demi bisa setiap waktu bersama putrinya.
"Owh, okelah kalau begitu. Biar bagian room service mengantar ke kamar kalian."
"Terima kasih Mario," ucap Cika tersenyum tulus.
"You are wellcome, Nona." Mario balas tersenyum lalu detik berikutnya beralih pada Rangga setelah Gilang dan Cika berlalu dari hadapan mereka.
"Bagaimana tuan Ben gadungan, apa masih ingin melanjutkan misi kita?"
Rangga tertawa geli mendengar candaan Mario.
"Tentu saja, bahkan aku tidak sabar untuk segera memulainya." Rangga mengerling ke arah Mario.
"Ayo, ayahku sudah menunggumu di ruangannya. Dia juga tidak kalah sabar untuk memulai rencana ini."
"Okey," angguk Rangga yang lalu mengikuti Mario menuju ruangan Davin.
__ADS_1
...****************...