
"Lalu, kenapa kamu bisa membawaku?" cerca Cinta lagi yang membuat Ben lagi-lagi menghindari tatapan Cinta.
Oke, Cinta semalam mabuk dan tidak sadarkan diri, lalu apa hubungannya dengan Ben? Bukankah Ben bisa menyuruh Davin atau Mario yang mengurusnya, bukan dengan melarikannya ke kamar ini.
"Jadi, kamu sama sekali tidak bisa mengingat apa pun?"
Ben mencebikkan bibirnya dan memasukkan kedua tangan ke saku celananya. Dia menghela napas sebentar sebelum melanjutkan ucapannya.
"Kamu mabuk berat, pakaianmu basah oleh muntahanmu, karena itu aku meminta bagian room service perempuan untuk membuka pakaianmu. Masalah dia membuka seluruh pakaianmu, yang itu aku tidak tau." Ben mengangkat kedua tangannya.
"Iyakah?" gumam Cinta.
"Hm, kamu sedang berpura-pura, apa benar-benar tidak tau?" Ben melayangkan tatapan curiga.
Cinta menggeleng cepat. "Untuk apa aku berpura-pura. Kalau aku tau, aku tidak akan bertanya padamu," jawabnya ketus, "aku tidak bisa mengingat apa pun, bagaimana aku bisa tau apa yang terjadi padaku." Cinta melengos kesal.
"Sedikit pun kamu tidak ingat?"
"Hm," jawab Cinta malas.
Ben menghela napas panjang, lalu mendekati Cinta. "Kalau yang ini, apa kamu bisa mengingatnya?" Tanpa diduga tangan kiri Ben menarik tengkuk Cinta sedangkan tangan kanannya menarik pinggang Cinta, merapatkan tubuh gadis itu ke tubuhnya. Tanpa bicara apa pun lagi bibir Ben detik itu juga melahap bibir Cinta dengan rakus, meng*hisapnya kuat sembari mendekap tubuh Cinta semakin erat, seakan takut gadis itu akan terlepas.
__ADS_1
Sementara Cinta yang mendapat perlakuan yang tidak terduga itu seketika tubuhnya menegang, matanya mengerjap beberapa kali. Namun, detik berikutnya Cinta terpaku. Bukan karena dia menyukai ciuman pria itu, melainkan cara pria itu menciumnya.
Sentuhan bibir, lidah, bahkan tangan yang bergerilya di bagian-bagian tubuhnya, Cinta masih bisa mengingat semuanya. Mengingat setiap sentuhan dari pria satu-satunya di dalam hidupnya.
Bagaimana bisa sama?
Seketika tengkuk Cinta meremang, darahnya berdesir, membangkitkan gelenyar aneh yang sudah bertahun-tahun tidak dia dapatkan dari pria itu.
"Kamu...," gumam Cinta di dalam mulut Ben. Membuat Ben mau tidak mau melepas ciumannya.
Ben menekuk kedua alisnya, menatap Cinta yang wajahnya sudah pucat pasi. Bola mata itu seakan ingin menangis.
"Kenapa? Kamu sudah bisa mengingatnya?"
Cinta menelan ludahnya kelu, "Kamu... kamu Adipati Rangga Wijaya?" ucapnya terengah-engah. Dia menatap Ben takut-takut, berharap jika apa yang dia ucapkan barusan adalah suatu kesalahan.
"Siapa dia? Dari semalam kamu terus menyebut namanya?"
Kali ini Cinta menautkan kedua alisnya. "Maksud kamu?" Cinta merasa cemas, dia takut merancau yang tidak-tidak saat dia mabuk.
"Adipati Rangga Wijaya? Siapa dia? Dari semalam kamu terus memanggilku dengan nama itu?"
Cinta hanya menatapnya.
"Kenapa kamu memanggilku dengan nama itu? Apa dia mirip denganku? Bahkan setelah aku menciummu, kamu masih memanggilku dengan nama itu. Kamu bilang kamu membencinya tapi, menurutku tidak seperti itu. Kamu sangat mengenal dirinya bahkan ciumannya. Menurutku sih ini bukan benci tapi, cinta." Ben terus mendesak Cinta dengan pertanyaan-pertanyaan yang membangkitkan emosinya.
__ADS_1
"Apa kamu sangat mencintainya? Sampai kamu terus menyebut namanya?"
"Bukan urusanmu!" salak Cinta. Dia mendorong tubuh Ben yang dirasa menghalangi jalannya. Kemudian, berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi.
Sampai di dalam kamar mandi Cinta bersandar pada pintu, dengan tangan yang memegang handle pintu, dia menangis sejadinya. Hatinya terasa perih, dadanya terasa sesak mendengar apa yang barusan diucapkan Ben.
Harusnya dia sadar, harusnya dia bisa membedakan antara Ben dan Rangga. Mereka orang berbeda tetapi, egonya menguasai jiwanya hingga mengharapkan Ben adalah Rangga. Menjerumuskan dirinya hingga apa pun yang ada di diri Ben adalah sama dengan Rangga. Menutup matanya sehingga tidak bisa melihat perbedaan di antara kedua pria itu.
Lima tahun sudah berlalu, kenapa dia belum bisa lepas dari bayang-bayang pria itu. Bahkan dalam kondisi tidak sadar pun dia masih mengingat pria itu. Apa iya, dia masih mencintai Rangga?
...****************...
Ceklek!
Pintu kamar mandi terbuka, Cinta menyembulkan kepalanya keluar, mengintip kalau-kalau Ben ada di ruangan itu. Entah kenapa dia sekarang merasa malu pada Ben.
Setelah dirasa aman, Cinta bergegas keluar. Dia berniat melarikan diri dari hotel itu. Dia tidak ingin bertemu Ben lagi. Rasanya dia sudah tidak punya muka untuk menghadapi pria itu. Dia malu dengan apa yang sudah terjadi di antara mereka hari ini. Bahkan yang terjadi semalam mungkin lebih memalukan lagi.
Bergegas dia menuju pintu, lalu mengintip lagi.
Aman. Batinnya.
Bersyukur pintu itu tidak dikunci otomatis jadi dia bisa melarikan diri. Bergegas dia menyusuri lorong hotel dan menuju lift. Dia merasa harus segera pergi dari tempat itu.
__ADS_1
Langkah pertama yang harus dia lakukan adalah pulang. Soraya dan Sunny pasti mencemaskannya, apalagi ponselnya tidak ada, mereka pasti kesulitan menghubungi Cinta. Kemudian, menemui Mario untuk menanyakan kejadian yang sebenarnya.
...****************...