
Cinta masih terduduk di atas di ranjang dengan memeluk kedua lututnya. Dagunya bertumpu pada celah di kedua lututnya. Pandangannya menerawang, mencoba mengingat kejadian semalam. Terutama yang telah melucuti pakaiannya.
Oke, semalam dia minum, dia mabuk hingga sekarang kepalanya pusing. Sangat pusing. Bahkan kesadarannya belum sepenuhnya kembali. Namun, bagaimana bisa dengan kondisi mabuk dia bisa ke tempat ini.
Tunggu dulu! Jaringan otaknya perlahan menyatu mengantar rangsangan ke seluruh anggota tubuhnya untuk mengembalikannya pada kesadaran penuh. Detik itu juga dia menegakkan kembali kepalanya.
"Semalam aku berada di pesta om Davin bersama Mario dan Chelsy, lalu kenapa sekarang aku bisa ada di sini?" Cinta menatap langit-langit plafon berwarna abu-abu, lampu kamar yang berwarna putih. Sangat berbeda dengan ruangan dan sinar lampu tempatnya berada semalam. Kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri berharap menemukan Chelsy, dan Chelsylah yang membuka pakaiannya.
Namun, tidak ada bayangan siapa pun selain dirinya di ruangan itu. Matanya mengerjap, aroma mint di ruangan itu menyeruak memenuhi rongga hidungnya.
Ceklek!
Cinta sedikit kaget saat knop pintu kamar mandi diputar. Matanya seketika membulat saat mengetahui siapa yang keluar dari sana.
"Kamu sudah bangun?"
Suara bariton terdengar tipis. Satu kalimat yang mampu membuat semua jaringan di otak Cinta terpasang dengan sempurna, sakit kepalanya langsung hilang begitu saja. Digantikan oleh rasa shock yang luar biasa.
Kedua mata Cinta dapat melihat dengan jelas, bagaimana sosok pria yang baru dua kali bertemu dengannya itu, kini berdiri di hadapannya dengan handuk yang melingkar di pinggang dan leher, rambut basah, tetesan air di wajah, dan perut kotak-kotak.
Glek!
__ADS_1
Cinta menelan ludahnya sendiri.
Ben? Bahkan yang sama bukan hanya wajah tetapi, seluruh bagian tubuhnya. Batin Cinta.
"Ahahahhaaa, sepertinya aku sedang bermimpi lagi." Cinta tertawa tidak jelas sembari pandangannya menunduk menatap tubuhnya kembali yang tertutup selimut tebal dan tanpa busana.
"Tapi, pakaianku?" Kepalanya kembali celingukan mencari semua benda privasinya.
"Semua yang kamu cari ada di sana."
Cinta menengadah kembali mengikuti arah pandang Ben. Dressnya, br*a warna soft pink, celana dal*am berwarna pink dan bergambar kuda poni. What? Kuda poni? Memalukan tetapi, itu adalah pilihan Sunny untuknya.
"Seleramu aneh," cibir Ben.
Ben hanya menggendikkan bahunya.
"Br*aku, celana dal*amku, kenapa bisa ada di sana?" Menatap kedua mata teduh milik Ben yang seakan menyedotnya ke dalam lubang tak berdasar. Cinta mengerjap kembali, sedangkan sosok Ben hanya terdiam menatapnya dengan wajah datar.
"Kamu sama sekali tidak ingat?" ucap Ben datar. Pria itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada. Menatap Cinta dengan menaikkan sebelah alisnya.
Astaga, dia tidak pakai baju. Batin Cinta menjerit. Rasa takut dan kagum datang padanya secara bersamaan. Perut kotak-kotak dengan tetesan air yang jatuh dari rambut yang basah. Sungguh, pemandangan yang sudah lima tahun terakhir tidak pernah dia lihat lagi. Menggoda tetapi, menakutinya juga.
__ADS_1
Cinta menggeleng kecil dan menarik selimut lebih ke atas lagi, melindungi bahunya agar tidak terekspos. "Kenapa aku bisa ada di sini? Bagaimana bisa pakaianku terlepas semua?" tanya Cinta berkali-kali. Dia menelan ludahnya takut. Tentu saja Cinta merasa takut. Mereka tidak saling kenal, lalu tiba-tiba saja berada di ruangan yang sama, hanya berdua, dan dalam kondisi dia tidak mengenakan apa pun.
"Jadi, kamu benar-benar tidak ingat?" Ben beralih menuju lemari pakaian.
"Tadinya aku sedang berada di pesta om Davin bersama Mario dan Chelsy, lalu Chelsy memberiku minuman, da-dan aku tidak ingat lagi setelah itu." Cinta menahan tangis.
"Tenang saja, sekarang kamu sudah berada di tempatmu yang seharusnya." Ben tersenyum sekilas ke arah Cinta.
"Maksudmu?" Cinta menautkan kedua alisnya.
Tempat yang seharusnya? Maksudnya? Tempatku seharusnya di sini, bersamanya, begitu?
"Hm. Jadi, kamu belum paham juga maksudku, apa?"
"Jangan berbelit-belit. Katakan saja padaku, kenapa aku bisa di sini?" suaranya parau, diiringi butiran bening yang mulai menetes di pelupuk matanya. Ada banyak ketakutan yang menjalar di dirinya, semakin lama semakin besar. Statusnya masih bersuami tetapi, sekarang dia malah tinggal satu ruangan dengan pria lain, hanya berdua, dan tanpa busana. Dia takut ini terjadi karena kesalahannya sendiri. Karena dia minum alcohol lalu dia mabuk. Padahal dia tahu sendiri dirinya tidak pernah minum alcohol.
Astaga, apa yang sudah aku lakukan? Kepalaku sakit sekali.
...****************...
Apa ya yang bakal dibilang Ben🤔🤔🤔
__ADS_1
Jangan lupa ritual jejak kalian ya guys😘
Ok next👉*