Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Kemarahan Bastian


__ADS_3

Pajar kini menyongsong dari arah timur, menampakan hari baru dan harapan baru bagi setiap makhluk hidup. Namun, Anin masih setia menutup matanya. Sepertinya rasa lelah yang setiap hari ia rasakan, membuat Anin memberikan waktu untuk hati dan jiwanya beristirahat.


Semalam Derald dan Nichol pulang bersama Tamara. Kini di ruangan Anin hanya ada Adrian dan Alin, terlihat Alin menyiapkan sarapan yang di antarkan Bi Lani tadi subuh.


"Papa gak tega ninggalin Anin, Mah. Apa Papa cuti aja ya?" Ujar Adrian yang sudah siap dengan stelan kerja nya.


Kini Adrian berdiri disamping Anin seraya mengusap rambut Anin penuh kasih sayang.


"Papa gak usah khawatir ada Mama yang akan jagain Anin. Papa harus kerja, kalo Anin tau Papa cuti karna dia, Anin pasti bakalan marah!" Menyodorkan piring makanan.


Adrian menerima nya, kemudian duduk di sofa untuk menyantap sarapan nya pagi ini. Selesai menikmati sarapan nya, Adrian pamit pergi kepada istrinya tak lupa Adrian mencium kening Anin sayang.


"Cup, cepet sembuh my Queen!" Ucap Adrian lembut.


Tak lama Adrian pergi, terdengar ketukan pintu dari luar. Alin membukakan pintu, tampak Ocha berdiri dengan raut wajah cemas.


Semalam, karna perasaan Ocha tak tenang karna sudah mengabaikan telpon Anin. Ocha mencoba menghubungi Anin tapi tidak bisa, lalu Ocha menelpon rumah Anin, Bi Lani mengangkat telpon nya dan mengatakan jika Anin berada dirumah sakit.


Ocha segera menelpon Alin, kemudian Alin mengatakan apa yang terjadi pada Anin kemarin sore hingga membuat Anin mengalami Hipotermia.


"Ocha?" Sapa Alin lembut.


"Tante, maaf Ocha baru kesini. Gimana keadaan Anin sekarang?"


"Gak papa sayang. Anin sudah mulai membaik, tapi masih belum sadar" raut wajah Alin berubah sendu. Alin segera mengubah ekspresi nya, ia yakin Anin anak yang kuat dan dia pasti akan segera bangun.


"Em,, ayo masuk! Anin pasti seneng kamu dateng" celoteh Alin tersenyum manis.


Ocha mengangguk, sebenarnya ia merasa berat bertemu dengan Anin ada rasa sesal dihatinya. Namun, sebagai sahabat Ocha tidak boleh melupakan kewajiban nya, yaitu selalu ada disaat Anin membutuhkan nya.


"Cha, kamu temenin Anin dulu ya. Tante ada perlu sebentar" ucap Alin, saat Ocha sudah berada tepat disamping Anin.


"Iya, Tante!" jawab Ocha tersenyum manis.


Alin keluar dari ruangan Anin, perlahan Ocha menarik kursi kemudian duduk disana. Sedari tadi ia berusaha menahan tangis nya didepan Alin. Kini Ocha melepas rasa sesak yang mengganjal di hatinya.


"Hiks hiks... Anin... Maafin gue, gue gak bisa jadi sahabat yang baik buat Lo!" Ocha menundukan kepalanya.


"Harusnya kemarin gue gak bersikap seperti itu sama Lo. Lo tau Nin, cewek yang bersama Bastian itu adalah Vina, sahabat kita. Kemarin Lo telpon gue, tapi dengan sengaja gue gak angkat telpon dari Lo. Padahal Lo pasti lagi butuh bantuan gue. Hiks!"


Ocha menghapus air mata dengan cepat, "Nin, maafin gue! Ada sesuatu yang gak bisa gue ceritain sama Lo. Tapi, gue janji disaat semuanya selesai Lo adalah orang pertama yang akan tau kebenaran nya. Tapi sekarang gue belum punya bukti yang cukup jadi Lo sabar ya, Lo jangan marah sama gue... Karna gue ngelakuin semua ini demi Lo Nin, cepet sembuh ya!" Ocha mengusap tangan Anin lembut.

__ADS_1


Ocha melihat jam tangan nya, ia juga segera menghapus jejak air matanya memperbaiki penampilan nya. Tak lama Alin kembali, dengan seorang Dokter wanita.


Tamara mendekati Anin, Ocha menggeser posisinya memberikan ruang untuk Dokter memeriksa keadaan Anin.


"Bagus mulai ada kemajuan, suhu tubuh Anin mulai meningkat. Walau belum di suhu normal tapi ini sudah lebih baik.." Tamara menjelaskan dengan senyuman merekah.


Begitupun Alin dan Ocha mereka bernapas lega mendengar nya, setidaknya ada peningkatan dengan kondisi Anin saat ini.


"Tante, maaf Ocha gak bisa lama. Ada yang harus Ocha urus dikantor, Ocha titip ini nanti kalau Anin udah sadar tolong kasih ke Anin ya Tan!" Ocha memberikan kotak kecil kepada Alin.


Alin menerima kotak kecil berwarna cream itu, "Iya Cha, pasti nanti Tante kasih ini ke Anin. Makasih ya udah jengukin Anin..." ucap Tamara tulus.


"Anin sahabat Ocha, sudah pasti Ocha dateng dong Tante" ucap Ocha tersenyum manis, namun tidak dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.


Ocha mengalihkan pandangan nya, "Em, kalo gitu Ocha pamit ya Tante!" Dan diangguki Alin.


Ocha mengangguk ramah kepada Tamara, sejenak Ocha berhenti ia berbalik melihat Anin yang terbaring lemah. Rasa kasihan dan tak tega melihat Anin seperti ini membuat mata Ocha kembali berembun, Ocha sebenarnya ingin sekali menemani Anin sampai Anin sadar. Namun, ada hal penting yang harus segera ia selesaikan, entah apa hanya Ocha yang tau?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kediaman Dewillson. Sarah terus menelpon Bastian sejak semalam, ia mendapat kabar jika Anin masuk rumah sakit. Namun lagi-lagi Bastian tidak bisa di hubungi.


"Entah kemana anak itu, kenapa sulit sekali di hubungi?" Gerutu Mami Sarah kesal.


Di apartemen, Bastian keluar dari kamar mandi. Semalam Bastian sudah ingin pulang, namun Vina mencegahnya. Karna lelah seharian ia harus mengikuti kemauan Vina, membuat Bastian ketiduran diapartemen Vina.


Bastian melihat ponsel nya yang ia charge semalam, kemudian menyalakan ponselnya yang mati karna kehabisan baterai.


Bastian membelalak tak percaya melihat banyak nya panggilan dari Mami dan Papi nya, ia juga melihat panggilan dari calon mertuanya semalam.


"Astaga, banyak sekali panggilan dari Mami... Om Adrian semalam nelpon ada apa ya?" Gumam Bastian.


Bastian hendak menghubungi Mami nya balik namun ponselnya sudah lebih dulu berdering dan tertera nama sang Mami dilayar.


Dengan cepat Bastian menggeser tombol hijau, "Iya, Mih?"


"Astaga, Bas kamu kemana aja sih? Kenapa nomor kamu gak bisa dihubungi dari semalam? Kamu juga gak pulang, tidur dikantor lagi?" Tanya Sarah beruntun, tampak kekesalan diwajahnya.


"I--iya Mih, maaf! Emang ada apa, kok Mami panik gitu?" Tanya Bastian balik.


"Jelas Mami panik Bastian. Mami minta, sekarang juga kamu cepat kerumah sakit!" Kata Sarah tegas.

__ADS_1


Bastian duduk disisi ranjang, hendak memakai sepatunya, "Rumah sakit? Emang siapa yang sakit Mih?" Ujar Bastian bingung.


"Calon istri kamu, Anindira!" Menekan ucapan nya.


"APA?!" Pekik Bastian berdiri.


"Dia sekarang ada di rumah sakit, cepet kamu nyusul nanti Mami Share lokasinya," sambung Sarah.


"I--iya Mih. Bastian kesana sekarang!" Kemudian menutup panggilan nya.


Vina terbangun, mendengar Bastian berteriak. Ia sampai terkejut, "Lio, kamu mau kemana?" Tanya Vina, melihat Bastian sudah rapi.


Bastian tidak menjawab, ia sangat panik hingga tak mendengar jika Vina tengah bicara padanya.


"Adelio!" Menegaskan kata-kata nya dengan menaikan volume suara nya.


"JANGAN, BERTERIAK!!" Bentak Bastian dengan mata menyorot tajam.


Vina benar-benar membuatnya jengkel, Bastian tengah panik tapi Vina malah membuatnya kesal. Siapa dia berani meneriakinya?


"Berani sekali kamu meneriaki ku seperti itu, siapa kamu? Sepertinya kamu menganggap kebaikan ku itu terlalu berlebihan. Dengar! aku melakukan semua kemauan mu demi menutupi rahasia ini. Jangan pernah bersikap seolah kamu itu penting buat ku, karna kamu gak berarti apa-apa buat ku. Dan, gak akan pernah!" Ucap Bastian menatap Vina tajam.


Mulut Vina membisu lidah nya terasa kelu, melihat Bastian semarah ini membuat Vina tak bisa berbuat apa-apa selain diam.


Vina tidak tau apa yang membuat Bastian semarah ini, padahal semalam dia baik-baik saja. Vina ingin bertanya, namun ia tidak berani. Vina hanya mampu melihat punggung Bastian kian menghilang dari balik pintu.


"Ada apa dengan nya? Kenapa dia semarah itu, apa ada sesuatu yang terjadi? Tapi, apa?" Gumam Vina.


Sarah dan suaminya sudah sampai di rumah sakit, kini mereka sudah berada diruangan Anin.


"Maaf kami baru menjenguk Anin sekarang!" Ucap Sarah.


"Tidak papa, toh sekarang kalian datang untuk menjenguk Anin" balas Alin tersenyum ramah.


Sarah mengangguk, "Bagaimana keadaan Anin? Apa ada masalah serius?" Kali ini Tuan Dewillson yang bicara.


"Anin baik-baik saja sekarang, suhu tubuhnya sudah mulai meningkat. Kita tinggal menunggu Anin sadar saja," jelas Alin mengusap rambut putrinya.


Sarah mengangguk paham, ia mengusap pipi Anin lembut "Cepat sadar sayang! Mami sangat mengkhawati mu..." Ucap Sarah lembut.


...****************...

__ADS_1


Maaf baru up lagi, kemarin lagi ada urusan keluarga. Jadi mohon maaf ya🙏


O iya. Aku mau ingetin kalian para reader, jangan lupa like, komen dan vote nya ya.. Biar Author tambah semangat up nya☺️


__ADS_2