
"Apa itu tadi? Apa yang terjadi barusan hanya mimpi? Kenapa aku bisa bermimpi seperti itu?" Cinta menghela napas panjang lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran ranjang dengan wajah menghadap langit-langit kamarnya.
"Apa iya, karena aku merindukannya?" gumamnya lagi. Kemudian, Cinta memejamkan mata sembari memijit dahinya. Akhir-akhir ini dia memang merasa kepalanya sering pusing. Tiba-tiba rasa haus melanda tenggorokannya. Dia melirik gelas minumnya yang sudah kosong di atas nakas, lalu melirik jam yang ternyata baru menunjukkan pukul 11 malam. Itu tandanya dia baru tertidur satu jam saja.
Dengan beringsut Cinta bangkit dari ranjangnya untuk menuju dapur mengambil minum. Saat melewati ruang tengah, dia melihat pintu kamar Rangga yang letaknya di bawah tangga tidak tertutup dengan lampu yang masih menyala.
"Apa dia belum tidur?" gumam Cinta yang bertanya pada dirinya sendiri. Cinta menggeleng untuk membuang jauh-jauh pikirannya yang berniat mengintip ke dalam sana. "Bodo amat! Dia mau udah tidur kek, mau belum, apa masalahnya untukku?" Cinta melanjutkan niatnya mengambil air.
Masih dihantui mimpinya yang tadi, Cinta bermaksud melangkah kembali menuju kamarnya tetapi, tanpa sengaja dia bertemu Rangga di ruang tengah saat dia hendak menaiki tangga. Pria itu terlihat datang dari ruang depan dan kini tengah berdiri di ujung sofa dengan wajah yang sama terkejutnya dengan Cinta.
Rangga tersenyum padanya tetapi, tidak dengan Cinta. Rasa gugup dan takut mendominasi Cinta, sekelebat bayangan tentang apa yang terjadi di mimpinya barusan kembali melintas di otaknya. Seketika itu juga wajah Cinta terasa panas hingga ke telinga.
Apa mimpiku barusan akan menjadi kenyataan? Apa dia akan melakukan itu padaku sekarang? batin Cinta curiga.
"Stop!" pekik Cinta saat Rangga ingin mendekat ke arahnya.
Rangga yang terkejut akan reaksi Cinta yang dirasanya agak berlebihan, dengan terpaksa menghentikan langkahnya detik itu juga. Dia tidak ingin melakukan kesalahan dan membuat Cinta bertambah murka padanya. "Ada apa?" Dia menatap Cinta dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Tidak apa, hanya, jangan mendekatiku saja." Suara Cinta terdengar bergetar.
"Oh, baiklah. Tadinya aku hanya ingin bertanya padamu, boleh?" tanya Rangga ragu.
Cinta menegakkan kepalanya dan memasang wajah tegas, "Bertanya tentang apa?"
"Apa tadi kamu jadi kontrol ke dokter kandungan?"
"Ya, tentu saja. Ibu yang menemaniku."
"Iam fine. Anakku juga baik. Tentu saja kami baik. Aku sehat begitu juga anakku," sela Cinta sembari mengusap perutnya yang tampak sudah mulai membuncit.
"Oh, baguslah." Rangga tersenyum bahagia. Dia memperhatikan tangan Cinta yang mengusap-usap perut buncitnya. Ingin rasanya dia melakukan itu. Rasanya dia sudah rindu sekali. "Aku bahagia mendengarnya."
"Hm," angguk Cinta masih dengan wajah datarnya.
"Kamu belum tidur? Kenapa habis dari dapur? Apa ada yang kamu inginkan? Em ... maksudku, kamu dan anak kita. Apa kalian ngin makan sesuatu?" tanya Rangga penuh harap. Berharap Cinta mengatakan menginginkan sesuatu seperti malam-malam sebelumnya dan memintanya secara langsung untuk memenuhinya. Tentu Rangga akan dengan senang hati menurutinya apa pun itu. Apa pun akan dia lakukan demi mendapat maaf dari Cinta, walaupun nantinya Cinta meminta hal yang aneh dan langka. Dia akan memenuhinya. Dia akan bekerja keras untuk memenuhinya.
"Tidak ada. Aku hanya merasa haus dan turun untuk mengambil air, itu saja." Cinta masih berbicara dengan wajah dan nada datar, juga tanpa menatap Rangga sedikit pun. Dia takut tidak bisa meredam debaran jantungnya jika melihat wajah Rangga, terutama senyum pria itu. Ditambah ingatan tentang mimpinya barusan, menambah rasa gugup dalam dirinya. Malu. Malu pada dirinya sendiri dan malu pada Rangga. Itu yang dia rasakan sekarang. Bisa-bisanya dia bermimpi seperti itu dengan pria yang dia nyatakan sangat dia benci.
__ADS_1
"Owh," ucap Rangga dengan anggukan pasrah.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur? Bukankah besok harus berangkat subuh ke kantor. Tar Kamu sakit kalau kurang tidur terus." Sontak Cinta menggigit bibir bawahnya setelah mengucapkan kalimat terakhirnya. Otaknya tanpa sadar mengintruksi bibirnya untuk mengatakan itu. Kini dia merasa malu karena tertangkap basah masih peduli pada Rangga.
Sementara Rangga yang berdiri di ujung sofa tersenyum manis mendengarnya. Dia bahagia karena ternyata Cinta masih perhatian padanya.
"Ah, tidak! Maksudku, kalau nanti kamu sakit, kamu akan merepotkan ayah dan ibu. Juga, pekerjaan di kantor akan terbengkalai. Ayahku bisa merugi." Cinta memutar bola matanya, mencari alasan yang tepat untuk berkelit dari pikiran Rangga yang mungkin menyadari dirinya masih memperhatikan pria itu.
Rangga kembali tersenyum, "Ya aku tau itu. Aku juga tidak ingin sakit. Aku tidak bisa memenuhi keinginan anak kita kalau aku sakit, 'kan?"
Cinta tertegun lalu melirik Rangga sekilas.
"Aku tadi hanya mencari udara segar di taman karena aku merasa sumpek di kamar," imbuh Rangga. Dia menatap Cinta dengan wajah sendu tepat saat gadis juga menatapnya. Rangga merasa hancur karena dirinya dan Cinta tinggal dalam satu atap tetapi, kini harus bersikap layaknya dua orang asing yang tidak saling mengenal. Ya, Rangga sadar, Cinta bersikap seperti ini karena kesalahan yang sudah dia perbuat pada Cinta. Untuk itu dia akan berusaha memperbaiki dan menebusnya agar Cinta mau memaafkan dan bersedia kembali padanya.
"Owh," jawab Cinta singkat. Jujur, melihat raut wajah Rangga yang seperti itu, membuat Cinta sebenarnya ingin menangis dan berlari untuk memeluk Rangga sekarang. Apalagi saat bertatapan dengan mata teduh milik Rangga, dia merindukannya. Merindukan semua yang ada pada diri Rangga.
Namun, ego masih menguasai diri Cinta. Sekuat tenaga dia berusaha menahannya. Dia harus bisa menahan perasaannya. Dia tidak boleh luluh. Rangga akan menilainya murah jika dia memaafkan pria itu dengan mudah.
...****************...
__ADS_1