
Reyhan mendengus kesal, setelah mendengar pesan dari Cinta yang disampaikan oleh pelayan suruhannya tadi. Saat itu juga dia menatap tajam ke arah Rangga yang hanya menundukkan kepala dari tadi.
"Siapa gadis itu?" tanya Reyhan to the point yang membuat Diana terkejut akan pertanyaannya sehingga, menoleh ke arahnya lalu ikut menatap Rangga.
"Gadis apa, Yah?" Rangga balik bertanya.
"Kenapa kau tidak bisa berubah? Seberapa susahnya sih membuang kelakuan burukmu yang suka bermain gadis-gadis. Ckk! Kau benar-benar bukan putraku, kelakuanmu tidak ada satu pun yang mirip denganku." Reyhan berdecak kesal sedangkan Diana hanya diam memperhatikan keduanya tanpa berani berkomentar apa pun.
Mendengar ucapan Reyhan, Rangga hanya menunduk malu. Dia merasa malu pada Reyhan dan juga malu pada dirinya sendiri.
"Bukankah sudah kuperingatkan untuk menjaga sifat dan sikapmu. Cinta, putriku satu-satunya, aku percayakan dia padamu dengan harapan kau bisa menjaganya lebih baik dariku tetapi, kenyataannya malah sebaliknya. Kau malah menyakiti putriku." Reyhan semakin emosi, dadanya terlihat naik-turun diiringi napas yang memburu. Kecewa? Sudah pasti. Marah? Tentu saja. Orang tua mana yang tidak marah dan kecewa jika anak gadisnya disakiti, apalagi oleh pria yang telah bersama mengikat janji dan bersumpah di hadapan Tuhan.
"Ini hanya kesalahpahaman aja, Yah. Cinta hanya salah paham padaku." Rangga mencoba menjelaskan dengan raut wajah frustasinya. "Lagipula, ini terjadi juga karena Ayah,"
"Karena aku? Kenapa sekarang kau malah menyalahkanku?" sungut Reyhan dengan menaikkan sebelah alisnya menatap Rangga, begitu juga dengan Diana yang menatap Rangga dengan sama herannya seperti Reyhan.
"Karena Ayah yang membawa gadis itu kembali ke dalam kehidupanku." Rangga menumpukan sikunya pada meja makan lalu menangkup kepalanya yang dirasa berdenyut. Semalaman dia tidak bisa tidur, kepalanya terasa mau pecah karena memikirkan masalahnya dengan Cinta. Bagaimana caranya dia menjelaskan pada Cinta dan mendapat maaf dari istrinya itu.
"Memangnya siapa gadis itu?" selidik Reyhan.
"Agnes," jawabnya lesu tanpa menatap Reyhan.
"Agnes? Siapa dia? Aku tidak pernah merasa mengenal gadis bernama Agnes." Reyhan bertambah bingung. Dia melirik Diana yang menatapnya penuh curiga.
"Hei Sayang, aku sungguh tidak tau siapa Agnes," ucap Reyhan pada Diana yang hanya dijawab helaan napas oleh Diana.
"Memangnya siapa Agnes? Kenapa kamu bisa bilang ini karena ayahmu?" tanya Diana lembut.
__ADS_1
"Agnes itu gadis di masa lalu aku Bu,"
"Lalu hubungannya denganku apa?" sengit Reyhan.
"Ayah yang mengirimnya untuk jadi sekretarisku di kantor."
"Itu urusan personalia, kau pikir aku kurang kerjaan mengurusi karyawan satu persatu. Lagipula mana aku tau dia gadis di masa lalumu." Reyhan membela diri.
"Kalaupun dia gadis di masa lalumu, harusnya kau bisa tegas dalam bersikap. Sama halnya denganku, saat ibumu datang kembali dalam kehidupanku. Dengan tegas aku menolak ibumu, karena apa? Tentu karena aku sudah menikah dengan Diana. Begitu juga, dengan Diana yang menolak kehadiran Bayu kembali," ujar Reyhan dengan tegas. Mengingat kembali masa lalunya bersama Diana, Laura, dan Bayu.
Diana tersenyum mengangguk pada Rangga saat Reyhan mengatakan kebenaran tentang masa lalu mereka. Dia meraih tangan Rangga dan menggenggamnya.
"Ibu hanya pesan padamu, apa pun masalah yang kalian hadapi, selalu pikirkan anak kalian yang sedang tumbuh dalam rahim Cinta. Jangan mengambil keputusan yang bisa menyakiti anak yang bahkan belum tau apa-apa. Ibu paham, mungkin kamu merasa jenuh karena perubahan sikap Cinta selama hamil yang mungkin merepotkanmu?"
"Tidak Bu, aku tidak pernah merasa direpotkan sama Cinta."
"Tidak juga Bu, justru dia sangat menggemaskan. Ini terjadi karena aku yang masih terjebak dalam masa laluku,"
"Masa lalu ya masa lalu, masa sekarang ya masa depan. Tinggal kamu pilih, masa lalu apa masa depan?Kau pilih dia apa putriku? Itu saja!" imbuh Reyhan.
Sekali lagi ucapan Reyhan bagaikan pukulan telak bagi Rangga. Reyhan benar, dia sudah bersikap tidak tegas dalam hal ini, ditambah ketidakjujurannya, itulah yang membuat Cinta marah dan kecewa padanya.
...****************...
Setelah Reyhan berangkat ke kantor diikuti Diana, Rangga dengan langkah gontai menaiki tangga untuk menuju kamar Cinta. Sepertinya Diana sengaja mengikuti Reyhan ke kantor demi memberi dirinya dan Cinta waktu untuk menyelesaikan masalah mereka berdua.
Rangga menghela napas panjang berulang kali sebelum mengetuk pintu kamar Cinta. Dia sedikit ragu tetapi, dia harus melakukan ini.
__ADS_1
Tokk ... tokk ... tokk ...
"Sweetheart, kamu sudah bangun? Kumohon buka pintunya. Aku ingin bicara denganmu."
Hening.
"Sayang, kita harus bicara, kamu harus dengar penjelasanku dulu."
Masih hening.
"Sayang, aku sangat mencintaimu. Kamu adalah separuh dari hidupku."
"Aku tidak butuh gombalanmu. Katakan saja itu pada selirmu," jawab Cinta akhirnya dengan sarkas.
"Aku tidak ngegombal Sayang, aku serius. Aku bisa mati kalau kamu mengacuhkanku terus."
"Ya udah, mati aja sana!" umpat Cinta lagi dari dalam kamarnya.
"Jadi, beneran nih kamu pingin aku mati?" Rangga menempelkan telinganya di pintu kamar Cinta, berharap bisa mendengar apa yang Cinta lakukan di dalam.
"Ya, mati aja sana! Lebih cepat lebih bagus, biar aku gak perlu ketemu sama orang kayak kamu lagi. Aku membencimu. Aku sangat membencimu Adipati Rangga Wijaya." Cinta terdengar berteriak kencang dari dalam kamarnya. Membuat Rangga bertambah sedih karena Cinta sekarang bukan hanya membencinya tetapi, juga mengharapkannya untuk hilang dari bumi ini.
"Oke, kalau itu yang membuat kamu bahagia. Kamu ingin aku mati? Baiklah, aku bakalan turuti keinginanmu detik ini juga." Rangga tak kalah berteriak.
__ADS_1
...****************...