
"Awww, kamu masih saja badas!" celetuk Ben yang masih meringis. Dia menunduk dan memejamkan mata. Tulang hidungnya terasa berdenyut.
Sementara napas Cinta terengah, jidatnya terasa sakit luar biasa. Dia yakin sebentar lagi jidatnya akan membentuk benjolan yang lumayan besar. Namun, kesampingkan itu dulu, Ben menyebutnya 'badas'? Kata itu terlalu familiar di telinganya. Kata yang mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang dia benci sekaligus dia cintai.
"Badas?" gumamnya, "dari mana kamu tau panggilan itu?" Cinta menatap Ben yang masih menundukkan kepala dengan penuh selidik.
"Dari diriku sendiri, memangnya dari siapa lagi? Bukankah, aku sendiri yang tadi bilang seperti itu." Ben melirik Cinta sekilas dengan sorot mata kesal.
"Memangnya ada lagi selain aku yang bilang seperti itu padamu?" sambung Ben saat dilihatnya Cinta hanya terdiam dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak Ben. Sedih, kecewa, dan marah. Ben yakin itu adalah sebuah kombinasi dari penyakit hati.
"Sepertinya, kamu punya pengalaman buruk dengan sebutan itu." Kali ini Ben yang menatapnya dengan wajah penuh keingintahuan.
"Bukan urusanmu," salak Cinta, "Minggir! Aku mau bangun." Cinta mendorong bahu Ben dan melotot padanya.
"Ck, kamu galak sekali!" Ben memilih bangkit dan bergerak mundur lalu berdiri tegap kembali dengan wajah ditekuk.
"Apa?!" maki Cinta saat Ben menatapnya yang bangkit dari kasur dan menarik selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya. Cinta mengabaikan rasa sakit di perutnya dan berjalan hati-hati menuju tempat pakaiannya.
Ck! Kenapa br*aku, celana da*lamku bisa ada di sini? Memangnya seberapa liar aku semalam sampai-sampai semua berada jauh dari jangkauan tempat tidur.
Cinta menggerutu dalam hatinya.
"Aku tidak tau ya siapa yang salah di sini, aku atau kamu. Tapi, mana mungkin aku menggodamu duluan, 'kan? Dalam kamusku tidak ada yang namanya kata menggoda. Kecuali, kamu itu adalah pria yang luar biasa tampan," omel Cinta sembari memungut benda-benda privasinya. Dia enggan menatap wajah Ben.
"Mana mungkin aku menggodamu. Kita pasti tidak sengaja bertemu semalam, lalu kamu menculikku, 'kan?" lanjutnya setengah ragu. Dia masih memungut benda-benda privasinya dengan menyeret selimut di tubuhnya ke sana kemari.
"Pan*tatmu keliatan, Nona."
"Ha?" Cinta melongo polos dan menghentikan kegiatannya tadi. Dia tidak sadar kalau selimut yang menutupi tubuh bagian belakangnya tersingkap.
__ADS_1
Cinta menoleh ke arah Ben yang mengucapkan kalimat itu dengan wajah datar bak patung. Ben menatap ke arah pan*tat Cinta yang terlihat jelas tanpa berkedip sedikit pun.
Wajah Cinta memerah, panas hingga ke telinga. Cinta merutuki sikap cerobohnya. Tanpa sadar tangan satunya yang memegang benda privasinya bergerak cepat, melemparkannya ke arah Ben.
"Kamu lihat apa pria mesum, sialan!" umpat Cinta yang tidak menyadari kalau yang dia lempar tadi adalah celana da*lam berwarna pink dan bergambar kuda poni yang dielu-elukan Ben tadi.
Oh God! Rasanya Cinta ingin mati saja sekarang.
Lubang, mana lubang?! Rasanya Cinta ingin masuk ke dalam jurang yang paling dalam. Wajahnya memerah sempurna, saat celana da*lam miliknya tepat mengenai wajah Ben. Hancur sudah harga dirinya. Dia menatap benda itu jatuh ke lantai dengan gerakan slow motion. Malu, sungguh malu!
Kepala Cinta terasa berdenyut kembali. Wajahnya terasa memanas, dia menggigit bibir bawahnya, menahan tangisan yang sebentar akan keluar. Tangisan malu tentunya.
Tanpa mengatakan apa-apa, dengan memasang wajah cuek, Cinta mendekat ke arah Ben dan secepat kilat menyabet celana da*lam yang hampir dipegang Ben.
Hyaaa! Batin Cinta berteriak.
Cinta memeluk benda itu dengan satu tangan, sedangkan tangan satunya berusaha menutupi bagian pan*tatnya yang tadi terekspos.
"Mana kamar mandinya?" tanya Cinta dengan nada membentak.
Alis Ben terangkat sebelah, melihat sikap aneh Cinta. Dia lalu menunjuk ruangan kecil yang terletak tepat di belakang Cinta.
"Kamar mandinya di belakangmu, Nona. Bukankah tadi kamu sudah melihatku keluar dari sana," ucap Ben yang dirasa sebuah cibiran bagi Cinta.
Oh God! Ada apa dengan Cinta? Kenapa dia tidak bisa berpikir dengan jernih.
Dengan memasang wajah tegas, Cinta berjalan menuju kamar mandi.
"Kamu jangan kemana-mana! Awas kalau kabur!" ancamnya sebelum masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Ben hanya menghela napas panjang. Sementara Cinta sudah melengos masuk ke dalam kamar mandi. Sampai di dalam kamar mandi yang Cinta lakukan adalah berteriak dan memukul kepalanya. Tidak peduli kalau kepalanya bertambah sakit karena ulahnya sendiri.
"Bodoh, bodoh, bodoh!" makinya pada diri-sendiri. Bisa-bisanya dia mabuk dan hilang kendali, sampai-sampai terbangun dalam keadaan polos di ruangan yang sama dengan pria yang bahkan tidak dia kenal.
Huh! Cinta mendengus kesal. Dia menatap pantulan dirinya di depan cermin yang menampilkan full body yang terdapat di dalam kamar mandi itu. Mata sembab, rambut berantakan, dan....
Apa ini?! Batin Cinta.
Matanya membulat, meneliti bekas kissmark yang bertebaran di rahang, leher, dan bahunya. Napasnya memburu, dengan cepat Cinta melepas selimut yang melilit tubuhnya dan melihat bayangan seluruh bagian tubuhnya.
Gila!!! Teriak batinnya lagi.
Tanda kissmark itu juga bertebaran di seluruh bagian tubuhnya, terutama di bagian bekas luka caesar-nya. Cinta memandang bekas lukanya, menyentuh dan meneliti bercak merah yang mengelilingi bekas lukanya itu.
Apa maksudnya dia melakukan ini? Batin Cinta heran.
Tunggu!
Impulsnya sedang bekerja, kembali saling menyambung dan mengantar rangsangan ke otaknya, hingga mengembalikannya pada kesadaran penuh.
Ini artinya... aku dan dia sudah....
"Aaaaaaaa!!!!!" teriak Cinta di dalam kamar mandi.
Sementara Ben yang sedang duduk di pinggir ranjang mengulum senyum. Dia menggelengkan kepalanya pelan.
"Pasti dia baru menyadarinya." Ben tersenyum penuh arti.
...****************...
__ADS_1