
✨happy reading✨
"Lho Cinta, kamu kok malah diem di sini, gak masuk?" Suara Gilang dari depan pintu membuat Rangga tidak melanjutkan lagi kalimatnya. Dia berusaha bangkit lagi dan bersamaan dengan Agnes langsung melihat ke arah pintu dimana Cinta sudah berdiri di sana. Rangga bisa melihat raut kemarahan di wajah gadis itu. Cinta pasti salah paham lagi padanya.
"Cinta," panggil Rangga yang seketika mendapat serangan panik dan berusaha turun dari bed.
"Ah, tidak usah Kak, sepertinya kak Rangga tidak membutuhkanku di sini. Lebih baik aku pulang aja." Tanpa mendengar jawaban dari Gilang, Cinta bergegas pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh ke arah Rangga lagi.
Gilang menepuk jidatnya karena baru menyadari kebodohannya. Rangga sedang berduaan dengan Agnes. Harusnya tadi dia menyuruh Cinta menunggunya sampai selesai menelepon Cika dan mereka masuk bersama bukannya membiarkan Cinta masuk sendirian.
"Cinta," teriak Rangga di sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Namun, percuma karena Cinta tampaknya tidak peduli. Gadis itu terus melanjutkan langkahnya meninggalkan ruangan Rangga dengan setengah berlari.
Rangga dengan tertatih berusaha berjalan mendekati pintu dengan memegangi kepalanya yang terasa berat, sedangkan Agnes berjalan di sebelahnya untuk memegangi infusnya.
"Eh, loe mau kemana?" Gilang mencoba menahan Rangga yang ingin mengejar Cinta.
"Mau ngejar istri gue, loe pikir apa lagi?!" salaknya karena tidak terima Gilang menghalanginya.
"Iya, gue tau tapi, loe lagi sekarat sekarang lebih baik loe balik tiduran di sana daripada tar loe tambah parah." Gilang menunjuk bed melalui sorot matanya.
"Gak Lang, gue harus kejar Cinta. Dia pasti salah paham," jawab Rangga ngotot.
__ADS_1
"Cinta biar gue yang urus. Loe tenang aja pokoknya." Gilang menatap Agnes, "Nes, kamu urus dia dulu ya. Aku mau ngejar Cinta." Gilang mengintruksi Agnes yang dijawab anggukan oleh Agnes.
"Gak Lang, gue sehat, biar gue yang ngejar Cinta." Rangga sudah kembali ingin menerobos Gilang tetapi, lagi-lagi Gilang menghentikannya.
"Gue mau ngejar istri gue, loe kenapa halangin gue?" Rangga bertambah emosi.
"Udah deh, gak usah bandel bisa gak sih." Gilang gak kalah emosi. "Loe lagi tifus, kudu istirahat. Cinta biar gue yang urus," tegas Gilang.
"Nes, tolong urus dia du ...."
"Gak Lang, sebaiknya loe antar Agnes pulang aja. Gue entar yang telpon Cinta. Ini urusan rumah tangga gue, biar gue yang selesaikan sendiri."
...****************...
Cinta menangis sejadinya saat dirinya sudah berada di luar area rumah sakit. Dari tadi dia berusaha menahannya dan sekarang dia sudah tidak sanggup lagi.
Cinta menyesal sudah jauh-jauh datang ke rumah sakit, tempat Rangga dirawat. Dia menyesal sudah mengkhawatirkan Rangga, karena ternyata pria itu terlihat baik-baik saja dan sempurnanya lagi Cinta melihat dengan mata kepala sendiri Rangga tengah tertawa senang dengan wanita lain. Wanita yang paling tidak Cinta sukai yang entah karena apa.
Semua yang dilihat Cinta barusan tidak sama seperti dalam bayangannya. Tadinya dia berpikir Rangga sedang terbaring lemah di atas bed pasien dan tengah tersiksa karena sakitnya. Untuk itu dia bela-belain tidak tidur malam dan menempuh perjalanan jauh demi bisa bertemu dan merawat Rangga. Suaminya.
__ADS_1
Bodoh! maki Cinta dalam hatinya. Harusnya dia menyadari ini sejak awal. Harusnya dia sadar kalau sudah pasti ada Agnes yang akan mengurus Rangga, karena itu pula pria itu tidak mengabarinya prihal dia dirawat.
"Cinta tunggu!" panggil Gilang saat Cinta sudah akan masuk ke dalam mobil. Gilang berlari lebih cepat dan menghampiri Cinta.
"Ya, ada apa, Kak?" Cinta berdiri di depan pintu mobil yang sudah sempat dibukanya demi menunggu ucapan Gilang.
"Ini soal di ruangan tadi, kamu ...."
"Sudah Kak, aku gak mau bahas itu lagi. Aku sudah capek dengan sandiwara mereka."
"Tidak Cinta, yang terjadi tadi hanya salah paham. Kamu hanya salah paham pada mereka. Adipati sangat mencintaimu. Percayalah, Cinta!"
"Love is bulsh"t! Buat apa cinta kalau tidak dilandasi kejujuran."
"Tapi Cinta ...."
"Sudah Kak, kalau Kakak mau membahas prihal lain aku dengerin tapi, kalau Kakak mau membahas yang tadi, aku lebih baik pulang. Ini udah hampir subuh dan aku sudah sangat terlambat untuk istirahat. Sampai jumpa besok, Kak." Cinta sudah ingin masuk ke dalam mobil tetapi, ucapan Gilang menghentikannya lagi.
"Cin, apa kamu setega itu sama Adipati? Ini hanya salah paham. Apa kamu sudah melupakan gimana perjuangan kalian dulu untuk sampai di titik ini?" Gilang bicara dengan raut wajah memelas, berharap bisa meluluhkan hati Cinta.
"Harusnya yang Kakak ajak bicara seperti itu kak Rangga, bukan aku. Jika dia masih ingat dengan perjuangan cinta kami harusnya dia tidak melakukan ini," ujar Cinta dengan nada yang menggebu-gebu.
Gilang hanya terdiam mendengar ucapan Cinta. Dia merasa sudah kehabisan kata-kata.
__ADS_1
"Maaf Kak tapi, tekadku sudah bulat. Apalagi dengan melihat kejadian tadi aku jadi semakin yakin dengan keputusanku."
...****************...