
Anin kembali ke rumah, namun wajahnya terlihat muram. Ia bahagia bisa pulang ke rumah, tapi Anin masih memikirkan ucapan Derald tadi.
"Apa Derald tau sesuatu?" Batin Anin ia masih bersiri mematung di teras rumah.
"Anin? Sayang..." Menepuk bahu Anin pelan, Anin segera tersadar.
"Ayo kita masuk!" Ucap
Bastian dan diangguki Anin.
Anin berjalan gontai, tangan nya di genggam erat oleh Bastian. Anin melihat seisi rumah nampak sepi, Bi Lani mendekati Anin.
"Selamat datang kembali ke rumah Non... Bibi seneng banget, Non Anin sudah bisa pulang" Ucap nya dengan senyuman merekah.
"Terimakasih Bi..." Balas Anin tersenyum manis.
"Oiya, Mama Papa kemana Bi ko sepi banget?"
"Bapak sudah pergi ke kantor Non, kalo ibu mungkin ada di kamar Non Anin" jawab Bi Lani lembut.
Anin mengangguk, "Kalo gitu Anin ke kamar dulu ya Bi, tolong Bibi buatin minum buat Bastian!"
"Siap Non..."
Bastian mengangguk ke arah Bi Lani, kemudian berlalu mengikuti Anin ke kamar nya.
"Ma!" Panggil Anin setelah membuka pintu kamar.
"Kamu udah sampe? Sini Mama bantu," menghapiri putrinya, menuntun Anin duduk.
"Mama apaan sih, Anin baik-baik aja"
"Iya Mama tau, Mama hanya ingin membantu putri Mama saja. Apa gak boleh?"
Anin tersenyum geli, "Eh, Nak Bastian silahkan duduk" sambung Alin melihat Bastian hanya berdiri di depan pintu.
"Iya Tante..." Bastian berjalan mendekati sofa dan duduk bersebrangan dengan Anin.
"O iya Ma, kotak Anin dari Ocha Mama simpan dimana?"
"Itu ada di meja rias kamu" tunjuk Alin kearah kotak kecil yang ada di meja rias.
Senyuman Anin mengembang, "Makasih ya Mah.." Menyandarkan kepalanya di bahu Alin.
"Yaudah bicara dulu saja. Mama mau bantu Bi Lani siapin makan siang" Ucap Alin beranjak dari duduk nya, dan diangguki Anin.
Anin melihat ke arah Bastian dengan perasaan entah, sedang Bastian melihat-lihat kamar Anin yang masih sama seperti dulu. Selalu bersih dan rapi, bahkan harum ruangan nya sangat menenangkan. Beberapa kali Bastian menghirup aroma yang sangat ia sukai ini, aroma khas Anin yang selalu membuatnya nyaman.
"Bas?"
"Ya!"
"Sebenarnya aku masih kepikiran sama ucapan Derald tadi, apa kalian menyembunyikan sesuatu dari ku?" Ucap Anin serius.
Bastian jadi gelagapan, ia pikir Anin sudah melupakan nya ternyata Anin mengingat perkataan Derald tadi di rumah sakit.
"Sial! Ini semua gara-gara si brengsek itu" umpat Bastian dalam hati.
"Aku mohon jawab Bas! Apa kalian sembunyikan sesuatu dari ku?" Ulang Anin, ia berharap Bastian berkata jujur padanya.
"Gak ada sayang, aku gak nyembunyiin apapun dari kamu. Dia bicara seperti itu hanya untuk memancing emosi ku saja, membuat kamu jadi curiga sama kamu. Di ingin kita berdua berantem!" Tuduh Bastian.
Anin mencerna ucapan Bastian, " Tapi kenapa Derald mau membuat kita berantem? Apa untung nya buat dia?" Ucap Anin tak percaya.
"Karna dia menyukai kamu, dia ingin merebut kamu dari ku" Ujar Bastian penuh penekanan.
Anin terkejut mendengan ucapan Bastian, Derald penah mengatakan jika ia menyukai nya dan Anin ingat itu. Tapi benarkah Derald melakukan hal yang bisa membuat hubungan Anin dan Bastian runyam hanya untuk merebutnya?
Anin menggelengkan kepanya, "Tidak, itu tidak mungkin!" ucap Anin.
"Kenapa gak mungkin?" Bastian menatap Anin tajam.
__ADS_1
"Karna dia pria yang baik, dia selalu menolong ku. Gak mungkin dia mau menghancurkan hubungan ku dengan kamu!" Jelas Anin tak percaya.
Walaupun Anin baru mengenal Derald, tapi ia yakin Derald tidak akan melakukan hal rendah seperti itu untuk mendapatkan apa yang bukan menjadi miliknya. Derald adalah pria terhormat, dia selalu menghormati wanita, Anin juga tidak pernah melihat Derald kurang ajar atau melakukan hal buruk untuk mendekatinya. Walau Anin selalu bersikap jutek dan dingin, tapi Derald selalu bersikap baik padanya.
"Itu semua hanya topeng, kamu hanya melihat sikap dia dari luarnya saja. Kamu gak tau kan dalam nya dia seperti apa?" Sahut Bastian mulai terbawa emosi.
"Emang kamu tau?" Menatap Bastian tajam.
Bastian terhenyak, "Gak, aku gak tau!"
"Lalu kenapa kamu bicara seperti itu tentang nya?" Ucap Anin tak suka dengan cara bicara Bastian yang seolah-olah menyudutkan Derald.
"Kenapa aku merasa kamu belain dia ya?" Menatap Anin dengan sorot mata tak bersahabat.
"Aku bukan belain dia. Tapi aku gak suka aja kamu menilai orang sembarangan, dan secara gak langsung kamu menjelek-jelekkan dia!" Jawab Anin apa adanya.
"Aku gak menjelek-jelekkan dia, aku cuma ngasih tau kamu aja" sela Bastian tak mau kalah.
"Kamu gak perlu ngasih tau aku tentang orang lain, lebih baik kamu kasih tau tentang diri kamu sendiri. Karna aku gak mau nantinya punya suami tukang bohong," Sindir Anin.
"Maksud kamu apa ngonong kaya gitu?" Ujar Bastian tak terima dengan sindiran Anin.
"Udahlah, aku cape mau istirahat mending kamu pulang aja!" Beranjak dari duduknya.
Bastian mengatur emosinya, saat ini ia berhadapan dengan Anin bukan dengan Vina. Ia harus tenang, "Ya udah kalo kamu mau istirahat," Bastian ikut berdiri.
Bastian mengambil paper bag kecil yang ia bawa sejak tadi, "Ini buat kamu" Bastian menyodorkan nya pada Anin.
Anin melirik sekilas, ia pun menerima paper bag itu dari tangan Bastian masih dengan wajah datarnya. Anin melihat isi didalam nya, "Handphone?" Ucap Anin lirih.
"Ya. Aku sengaja beli buat kmu, karna hp kamu rusak saat ke jadian itu" jelas Bastian penuh kelembutan.
Anin menghela nafas nya, "Harusnya kamu gak perlu beliin aku handphone, aku bisa beli sendiri nanti" sahut Anin datar.
"Gak papa, anggap aja itu hadiah atas kesembuhan kamu. Aku mohon terima ya..."
Anin melihat Bastian tersenyum tulus dengan wajah penuh harap, Anin mengangguk tanda ia menerima ponsel itu.
Bastian mengangguk senang, "Sama-sama. Kalo gitu aku pulang ya,"
Sebenarnya ada rasa tak tega di hati Anin, ia masih sangat mencintai Bastian perasannya masih sama walau tak seutuh dulu. Kini banyak sekali sikaf Bastian yang sering membuatnya curiga. Tapi-- akh sudahlah, terserah. Anin benar-benar bingung saat ini.
Setelah kepergian Bastian. Anin membuka ponsel baru itu, mengecek ponselnya ternyata Anin tinggal memakainya saja karna Bastian sudah mengatur dan memasukan sim card yang ada di ponsel Anin yang rusak.
Anin tersenyum tipis, kemudian menyimpan ponsel itu di meja. Anin berjalan ke arah meja rias ia teringat dengan flashdisk yang di berikan Ocha waktu itu dan Anin juga belum melihat nya. Anin jadi penasaran, sebenarnya apa isi di dalam flashdisk itu?
Anin mengambil kotak itu lalu membukanya, kemudian Anin mengambil flashdisk dan membawa serta laptonya. Kini Anin sudah duduk di sofa single, kemudian mulai membuka laptop dan memasang flashdisk itu.
Sebuah vidio rekaman cctv yang memperlihatkan Bastian tengah duduk bersama seorang wanita yang ternyata adalah Vinara sahabatnya.
Mata Anin membulat, " Jadi wanita yang bersama Bastian waktu itu adalah... Vina?"
Lagi-lagi Anin kembali mendapat sesuatu yang sukses membuat pertanyaan di pikiran nya semakin menumpuk, hatinya berkecamuk.
"Mungkin saja mereka gak sengaja ketemu. Ya, itu mungkin!" Gumam Anin.
Anin tidak mau menciptakan kesalah pahaman diantara dirinya dan Vina. Anin berusaha berpikiran positif, tapi ia tidak bisa membohongi perasaannya sendiri.
Anin memijit pelipisnya, ia ingin percaya tapi kenapa hatinya ragu untuk percaya.
"Tapi, jika Bastian bersama Vina. Kenapa Bastian bohong sama gue?" Ucap Anin, tak bisa Anin pungkiri lagi jika dirinya mencurigai Bastian dan Vina.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu begitu cepat, tak terasa pernikahan Anin dan Bastian semakin dekat hari ini adalah 3 hari sebelum pernikahan Anin.
Acara yang akan berlangsung di sebuah gedung mewah itu, di rancang dengan sedemikian rupa. Denga tema modern, maka tak pelak membuat keluarga kedua mempelai sangat sibuk mengurus semuanya.
Siang ini Anin ingin menemui Ocha, karna beberapa hari ini Ocha tidak menemuinya. Terakhir Ocha datang pada saat Anin di rumah sakit, itu pun saat Anin belum sadar. Anin juga ingin menanyakan perihal Vidio itu,
"Non Anin..." Panggil Bi Lani.
__ADS_1
"Iya Bi?" Sahut Anin.
"Non Anin mau kemana?" Tanya Bi Lani.
"Anin mau ke rumah Ocha Bi," jawab Anin.
"Tapi Non, Ibu bilang Non Anin gak boleh keluar!"
"Loh kenapa?" Tanya Anin heran.
"Karna sebentar lagi hari pernikahan Non Anin, kalo kata orang jaman dulu mah pamali Non" jelas Bi Lani.
Anin tersenyum menanggapi ucapan Bi Lani, "Itu cuma mitos Bi. Udah ya Anin pergi dulu"
"Tapi, kalo Ibu marah gimana?" Ucap Bi Lani takut.
"Mama gak akan marah, udah Bibi tenang aja nanti biar Anin yang ngomong" ujar Anin tersenyum manis.
Anin pergi dengan senyum menghiasi wajah cantiknya, ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan standar. Walau hatinya sedang gelisah sekarang, entah kenapa semakin mendekati pernikahan nya Anin malah semakin gundah. Padahal ini adalah hari yang ia tunggu-tunggu selama ini.
Anin ingin bercerita pada sahabatnya, hanya Ocha yang ia percaya, jika pada Vina itu sangat tidak mungkin.
Jujur Anin juga sangat merindukan Ocha, mereka sering berhubungan lewat telpon. Namun, Ocha selalu mengatakan jika dirinya sibuk pada akhirnya mereka hanya berbicara sebentar.
Hingga suatu ketika Anin menanyakan tentang pekerjaan Ocha pada Dilla. Namun, Dilla mengatakan Ocha jarang ke kantor bahkan sekalinya ke kantor pun hanya sampai jam makan siang, setelah itu Ocha tidak kembali lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi sama Lo Cha?" Gumam Anin sendu.
Anin menelfon Windy, "Hallo Tante..." Sapa Anin saat telfon nya diangkat.
"Iya Nin" Ucap Windy.
"Tante lagi di kantor?"
"Ya, Tante dikantor. Kenapa emang?"
"Em,, Anin cuma mau tanya soal Ocha. Apa dia baik-baik aja Tan? Akhir-akhir ini Ocha jarang ke rumah, Anin cuma takut terjadi sesuatu sama Ocha"
Terdengar helaan nafas Windy dari sebrang telfon, "Sebenarnya Tante juga gak tau pasti apa yang terjadi sama Ocha. Dia jadi lebih banyak diam dan mengurung dirinya dikamar, Bi Asih bilang Ocha sering nangis diam-diam. Tante pikir mungkin ada masalah diantara kalian, karna waktu itu Vina sempat dateng ke rumah tapi Ocha menolak bertemu dengan nya" Anin masih menyimak perkataan Windy,
"Coba kamu temuin dia, semoga aja kalau sama kamu Ocha mau ngomong. Karna udah beberapa kali Tante coba tanya, tapi Ocha selalu bilang gak ada apa-apa" sambungnya khawatir.
"Yaudah, kalo gitu Anin sekarang ke rumah Tante ya..."
"Iya, Nin. Tolong ya! Kalau kalian mamang punya masalah selesai kan lah baik-baik" saran Windy.
"Iya Tante. Kalo gitu Anin tutup ya Tan?"
Setelah mendengar jawaban Windy, Anin menutup sambungan telfon nya.
"Ada apa ya? Kenapa sikaf Ocha tiba-tiba berubah seperti itu?" Anin menambah kecepatan mobilnya, membelah jalanan kota.
Anin sampai di rumah Ocha, ia menekan bel rumah. Nampak Bi Asih membuka pintu,
"Non Anin?"
"Siang Bi... Ocha ada?" Tanya Anin dengan senyuman mengembang.
"Non Ocha baru aja keluar Non,"
"Keluar? Kira-kira Bibi tau gak Ocha mau kemana?"
"Soal itu Bibi gak tau Non. Akhir-akhir ini Non Ocha jarang banget bicara, Bibi juga jadinya ragu kalau mau tanya" jelas Bi Asih.
Anin menghela nafas panjang, "Kalo gitu Anin tunggu di kamar Ocha gak papa kan Bi? Kali aja Ocha cuma sebentar."
"Ya gak papa atuh Non, silahkan. Non Anin keatas duluan aja, biar Bibi buatkan minum ya" Ucap Bi Asih.
Anin menganggukan kepalanya, "Makasih Bi!" Ucap Anin tersenyum manis.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa dukungan nya... Like, komen dan kasih mawar🌹 nya. Biar Author tambah semangan nulis nya sampai ending😁