
Di rumah sakit, Anin terlihat tak nyaman dengan kehadiran Bastian. Ia ingin sekali bertanya dan mengatakan apa yang sudah ia lihat, tapi ia tidak berani. Selain karna ada kedua orang tuanya Anin juga tidak punya bukti.
Terlihat, Adrian dan Alin duduk disofa. Sesekali mereka menatap ke arah Bastian dan Anin, bukan mereka tak ingin keluar atau memberi ruang untuk ke dua sejoli itu. Namun, Anin selalu melarang orang tuanya pergi, walau hanya untuk sekedar mencari angin.
Apalagi alasan nya, karna Anin tidak ingin berduaan dengan Bastian. Untuk saat ini Anin belum siap bicara, ia ingin mengistirahatkan hati dan pikiran nya dulu. Tubuhnya masih teras lemah bahkan kepalanya masih terasa pusing saat ini.
"Anin... Aku--" Bastian mencoba membuka suara.
"Kepala ku pusing, aku mau istirahat!" sela Anin cepat.
Anin menggeser tubuh nya perlahan, dengan sigap Bastian membantu Anin ia sedikit memeluk Anin dan menahan tubuh Anin dengan sebelah tangan nya, sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk merapikan bantal Anin.
Anin menatap Bastian yang begitu dekat, bahkan wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja. Ada rasa nyaman saat Bastian memeluk nya, wangi parfum Bastian menyeruak di indra penciuman nya, membuat Anin merasa nyaman bila sedekat ini dengan Bastian.
Namun, detik kemudian Anin mengingat saat Vina menggandeng tangan Bastian dan sedikit memeluknya. Entah kenapa itu membuat mata Anin memanas hingga berembun?
"Kenapa kamu melakukan ini sama aku,Bas? Aku selalu menyukai sikap mu yang seperti ini, tapi sekarang kamu membuat ku ragu. Aku takut Bas, aku takut jika yang aku pikirkan menjadi kenyataan.Aku takut kamu mengkhianati cinta dan kepercayaan ku selama ini, aku gak bisa membayangkan jika semua itu benar. Dan Vina? Sejak kapan kalian sedekat itu, apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dari ku?" Batin Anin.
'Tes..' Air mata Anin luruh bersamaan dengan sakit di kepala ya, "Akh!!" Pekik Anin memegang kepalanya.
"Kenapa, kepala kamu sakit? Lebih baik kamu tidur sekarang, awas pelan-pelan!" Tanya Bastian khawatir, dengan lembut ia membantu Anin membaringkan tubuhnya.
"Apa sakit kepala nya semakin parah?" Tanya Mama Alin cemas.
"Gak papa Mah, Anin cuma butuh istirahat aja.." jawab Anin cepat dengan suara yang sangat pelan.
"Ya sudah kalau gitu kamu tidur ya, biar besok kondisi kamu lebih baik lagi" Ucap Alin penuh perhatian.
Anin hanya diam, ia menutup mata nya perlahan. Bastian tidak pernah memikirkan kenapa sikap Anin begitu dingin padanya, ia memahami keadaan Anin sekarang dan ia juga tidak ingin membuat kondisi Anin semakin buruk.
🌸🌸🌸
"Bas Om titip Anin ya! Ada beberapa hal penting yang harus Om dan Tante urus, soal pernikahan kalian yang tinggal satu minggu lagi. Setelah selesai Om dan Tante akan segera kembali kesini" ujar Adrian.
Pagi ini Adrian dan Alin harus bertemu dengan beberapa pihak yang akan mereka undang. Jadi, mereka ingin memberikan kartu undangan itu secara langsung, karna orang yang akan mereka undang itu termasuk orang-orang penting dan beberapa kolega bisnisnya.
Bahkan Alin juga sudah punya janji dengan pihak WO dan catering. Ia juga harus bertemu dengan beberapa pihak lain nya yang bergabung dalam acara pernikahan putrinya.
"Iya, Om gak usah khawatir. Hari ini Bastian cuti kerja, jadi Bastian akan menjaga Anin dengan baik" ucapnya tersenyum ramah.
__ADS_1
"Tapi, apa Anin gak akan marah kalau kita tinggal Pah?" Tanya Alin cemas.
"Tante tenang aja, nanti biar Bastian coba jelasin ke Anin..." Sahut Bastian.
"Baiklah. Tolong jaga Anin ya! Kalau ada apa-apa telpon kami?" Ucap Alin.
"Siap Tante!"
Setelah Adrian dan Alin pergi, Bastian kembali masuk ke ruangan Anin. Melihat Anin masih berbaring terlelap di ranjang nya, ia melihat jam yang melingkar ditangan nya. Menunjukan pukul 06.00, memang masih sangat pagi.
Bastian berjalan kearah meja, ia melihat dua potong sandwich, dua mangkok salat buah dan bubur. Ini pasti sarapan yang disediakan Mama Alin untuk nya dan Anin. Entah dari mana makanan ini, ia juga tidak tau? Karna saat ia bangun makanan ini sudah ada di meja.
Ia menyantap satu potong sandwich, untuk mengganjal perutnya. Saat Bastian tengah meminum teh nya, ia mendengar lenguhan Anin.
"Eughh!!" Anin memiringkan tubuhnya, namun perlahan matanya terbuka dan tepat melihat ke arah Bastian. Seketika mata Anin terbuka lebar, dengan cepat Anin mengalihkan pandangan nya lurus ke atas langit-langit.
"Kamu udah bangun?" Tanya Bastian mendekati Anin.
"Hm" Anin mencoba untuk bangun.
"Kamu mau kemana?" Tanya Bastian panik.
"Aku mau ke kamar mandi!" Jawab Anin singkat.
"Gak usah!" Anin melihat ke seluruh ruangan nampak sepi.
"Mama sama Papa, kemana?" Tanya Anin.
"Mereka pergi, ada urusan penting yang harus mereka urus..." Jawab Bastian.
"Apa? Kok mereka gak pamit sama aku?" Ucap Anin sedikit kesal.
"Karna kamu nya masih tidur, mereka gak tega kalau harus bangunin kamu" Sahut Bastian dengan nada lembut.
Sebenarnya Anin masih ingin bicara, namun karna desakan di bawah perut nya sudah ingin keluar rasanya Anin sudah tidak tahan lagi.
Anin menurunkan kaki nya perlahan, dengan sigap Bastian menggendong Anin ala bridal style. Percuma berdebat dengan Anin, Anin sangat keras kepala.
"Bas lepas. Kamu apaan sih, turunin aku!" Protes Anin.
__ADS_1
Anin terkejut dengan yang Bastian lakukan padanya namun karna takut jatuh, Anin mengalungkan tangan nya di leher Bastian.
"Aku mau bantuin kamu ke kamar mandi" ucap Bastian santai.
"Tapi, aku bisa jalan sendiri!" Anin menggoyang-goyangkan kakinya.
Namun, Bastian tak menanggapi ocehan Anin. Ia berjalan ke arah kamar mandi, membuka pintu dengan perlahan. Bastian mendudukan Anin di atas closet, ia juga menyiapkan air hangat untuk Anin mandi.
"Bas... Udah gak papa biar aku aja!"
"Kamu lagi sakit..."
"Aku baik-baik aja. Jadi, tolong kamu keluar sekarang!" Ucap Anin, memejamkan mata nya seperti tengah menahan sesuatu.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" Berjongkok dihadapan Anin dengan raut wajah cemas.
"Cepet keluar sekarang!" Tegas Anin dengan wajah menunduk.
"Tapi, kamu kenapa?" Tanya Bastian bingung.
"Aku udah gak tahan pen pipis. Bastian!" Berhubung Anin sudah tidak tahan, akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulutnya.
Bastian menahan tawanya, "Yaudah pipis aja!" Semakin menggoda Anin.
Melihat wajah Anin sekarang semakin terlihat menggemaskan, bahkan pipi Anin sekarang sudah semerah tomat.
"Bastian Adelio!!" Pekik Anin menatap Bastian tajam.
"Aku becanda sayang..." Mengacak rambut Anin, gemas.
"Yaudah aku keluar. Kalau udah selesai panggil aku" ujarnya lagi.
"Iya, udah sana!!" mendorong tubuh Bastian.
Bastian terkekeh pelan. Ia keluar dan menutup rapat pintu kamar mandinya, dengan langkah pelan Anin mengunci pintu kamar mandinya. Kemudian segera menyelesaikan sesuatu yang sejak tadi menyiksanya bahkan ia sampai melupakan rasa malunya.
"Ish.. Memalukan!!" Anin menutup wajah nya yang terasa panas.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Vote dan Komen...
Terimakasih🤗