
"Udah ya gue mau ketemuan sama Sarah dulu. Agak jauh juga soalnya ngajak ketemunya." Kata Mediz sambil merapikan undangan diatas meja lalu memasukkannya ke dalam tasnya.
"Mau kita temenin?"
"Ga usah. Loe berdua urusin urusan kalian yg belum kelar aja. Jangan putus nyambung lagi. Gue sayang kalian berdua. Gue ga mau kalian berdua pisah." Mediz menasehati. "Atau ga cariin kerjaan sampingan buat gue. Nganggur beneran habis iki gue" Mediz sambil berdiri ingin beranjak pergi.
"Ya udah hati hati. Kita ga akan pisah kok Diz. Aku akan ngejaga Andin dengan segenap jiwa ku" ucap Andi merangkul pundak Andin posesif.
"Kita juga sayang sama loe Diz" Andin menimpali.
"Ya udah gue pergi ya. Bye" ucap Mediz sambil lalu pergi melambaikan tangan.
Mediz naik mobilnya menyusuri jalan yg ramai karna sekarabg adalah waktu jam makan siang. Pasti banyak kendaraan lalu lalang.
________________________________________
Setelah lumayan lama menempuh jarak jalanan yg ramai akhirnya Mediz sampai disebuah restoran yg cukup mewah.
"Horang kaya mah ngajak ketemuan aja direstoran mewah. Paling ini nanti cuma pesen jus jeruk atau es teh. Ck ck nasib pengamgguran gue" keluh Mediz yg melihat betapa mewahnya restoran tersebut. Lalu melangkah masuk.
Mediz clingak clinguk mencari sosok sarah yg kelihatannya tidak ada.
Beberapa menit mencari akhirnya jenuh juga. Membuat Mediz merogoh tasnya mengambil benda pipih canggih lau menelpon Sarah.
__ADS_1
"Dimana loe? Gue udah sampek nih. Kaya orang ilang gue clingak clinguk nyariin loe ga nemu"
"Sorry sorry Diz gue telat. Tapi tenang aja calon gue udah disitu kok"
"Gue kan ga tau calon loe kaya apa."
"Oh iya lupa gue. Pokoknya dia tinggi tegap. Ganteng. Rambutnya hitam pekat. Agak gondrong dikit."
"Ya elah Sar deskripsinya jangan gitu napa. Ya kali gue clingukin muka tiap cowok disini. Lagi rame nih resto"
"Lha trs gimana dong?"
"Dia lagi pake baju warna apa gitu. Kan lebih gampang. Dilantai satu atau dua?"
"Ya udah gue cari sekarang. Cepetan dateng loe. Ga enak gue kalau ngomongnya sama cowok loe doang"
"Ok Mediza"
Mediz menutup telponnya dan melanjutkan mencari cowok Sarah.
Mediz melihat setiap tempat duduk yg sudah dihuni. Dan akhirnya dia menemukan ciri ciri yg dimaksud Sarah.
Shit! Umpat Mediz saat melihat dosennya dengan ciri ciri yg sama persis yg disebut Sarah tadi sedang duduk dipojok ruangan restoran tersebut yg sedang terlihat menunggu seseorang.
__ADS_1
Jangan bilang kalau tuh dosen cowoknya Sarah. Gila kalau bener dia orangnya. Gumam Mediz yg masih berdiri terpaku menatap kearah pojok resto.
Sampai tepukan dipundaknya membuyarkan konsentrasinya menatap dosen kalemnya tadi.
"ada yg bisa saya bantu mbak?" Tanya pelayan resto tersebut karna melihat Mediz sejak tadi seperti orang bingung.
"Oh ga mba udah ketemu orangnya. Kayaknya" jawab Mediz dengan nada rendah diakhir kalimatnya.
Mediz memberanikan diri menghampiri dosen kalemnya tersebut.
Oh astaga jantung gue napa deg degan gini. Mati gue ya ampun mimpi apa semalam. Kenapa Sarah ga ngomong kalau cowoknya dosen gue. Racau Mediz dalam hati.
Pasalnya Mediz jarang masuk mata kuliah dosennya tersebut. Bayangkan sudah hampir dua bulan dosen itu mengajar dan Mediz baru 2 kali masuk mata kuliahnya.
Mediz sering kena banyak tugas karna bolos mata kuliah tuh dosen.
Dengan berani dan gugup bukan main Mediz menyapa dosennya.
"Pak Zafir?"
Merasa namanya dipanggil Zafir mendongak mengalihkan pandangannya dari hp yg dipegangnya tadi seperi hendak akan menelpon.
"Mediza Mahardika? Kamu ga kuliah?" Tanya Zafir setelah mengenali salah satu mahasiswinya yg kerap absen mata kuliahnya tersebut.
__ADS_1
Dari sekian banyak pertanyaan kenapa nih dosen nanyanya itu. Mau jawab apa coba Mediz.