Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Bukan wily namanya kalau gagal


__ADS_3

"intan! Masuk keruangan saya!" perintah atasan intan saat lewat diruangan intan bekerja


"baik pak!" intan segera membereskan berkas dan mengambil yang perlu ditanda tangani oleh atasannya


"selamat pagi pak!" intan mengetuk pintu dan masuk keruangan atasannya


"duduk, sebentar lagi klien datang jadi siapkan dokumen perjanjian kerjasama! yang kemarin saya periksa!" titah pak doni atasan intan yang sangat tegas dan galak


bahkan banyak yang tak betah magang diperusahaan intan magang saat ini.


"ini pak dokumennya, saya siapkan minum dulu buat kliennya!" ucap intan


Pak doni pun menganggukan kepalanya tanda setuju


intan menuju dapur kantor meminta ob untuk membuatkan minuman untuk tamu bosnya


sementara itu diruang pak doni


"kamu apa kabar wil? Lama tak berkunjung pasti ada maunya!" ucap pak doni yang ternyata adalah adik dari mama nita


" baik om, kemarin sibuk dikantor, om apa kabar?" tanya wily


"baik juga! Keponakan macam apa nikah ngga undang omnya sendiri!" pak doni ikut duduk di sofa tamu diruang kerjanya


"mendadak om, lagian om juga diluar negeri kan waktu itu!" jawab wily lagi


"kamu pintar berdebat seperti papamu, bagaimana kabar kak nita. Kenapa ngga diajak kesini!" ucap pak doni


"permisi pak! Ini minumnya" ucap intan menaruh minuman tanpa melihat orang yang ada dihadapannya


"sekretarisnya cantik ya om!" ucap wily


Intan seketika mendongakan wajahnya. Betapa terkejutnya siapa yang ia lihat saat ini


"huuss udah punya istri jangan ganggu anak orang, papanya orang penting juga!" bisik pak doni


Intan diam tak bergerak


"sini sayang duduk!" wily menarik tangan intan yang sedang terbengong


"ini istri wily om!" wily menjelaskan pada omnya jika sekretarisnya adalah istri keponakannya


"wil kamu jangan macam-macam deh! Benar intan wily suami kamu?" pak doni tak percaya


"saat ini iya pak, tapi sebentar lagi tidak!" jawab intan jujur tanpa beban


"maksudnya? Om makin ngga ngerti!" pak doni bingung

__ADS_1


"dunia sempit sekali ya, saya pikir kamu masih gadis mau saya kenalkan dengan anak saya!" ucap pak doni sedikit kecewa


"maaf pak, kalau begitu saya permisi dulu!" ucap intan canggung dan masih syok tentu saja


Bagaimana bisa ia selama ini bekerja ditempat om dari suaminya


"tunggu! Om bisa ngga wily pinjem ruangannya sebentar, ini masalah rumah tangga wily om please!" wily memohon pada om nya dan memegang tangan intan agar tak pergi


"oke satu jam, om ada rapat dengan klien setelah om kembali kalian harus sudah selesai! Dasar Bocah datang ke om nya kalau ada perlunya saja!" gerutu pak doni


Sambil membawa berkasnya sendiri karena sekretarisnya ditahan oleh wily


"mas kamu apa-apaan sih? Ini kan kantor kenapa mencampur adukan masalah pribadi!" kesal intan pada wily


Semalam ia marah pada sahabat dan juga orang tuanya karena memberitahukan alamat intan pada wily


Dan sekarang lebih parah lagi. wily datang kekantornya seenaknya saja


"mas cuma mau kamu sayang, mas akan tetap disini jika perlu mas pindah kantor disini juga biar bisa sama kamu lagi!" rayu wily


"ga usah macam-macam deh! Udah ya kita bahas nanti setelah pulang kerja


Ga enak sama yang lain!" ucap intan takut dikira berbuat tak pantas diruangan bosnya


"cuma satu macam sayang, cabut pengajuan perceraian kita. Dan kita mulai semua lagi dari awal


Mas janji kali ini ngga akan lepasin kamu intan! Kasih mas kesempatan


Ia sedikit berakting agar istrinya percaya dan mau kembali padanya


Namun cintanya wily tak perlu diragukan lagi


"bukan mas, ngga ada yang lain lagi cuma mas yang aku cintai saat ini!" intan menelan ludahnya sendiri


Ia keceplosan mengatakan apa yang ingin intan simpan sendiri


"benarkah? Jadi kamu juga mencintai mas?" wily merasa sangat senang dengan pengakuan intan


Yang wily anggap semua ucapan istrinya jujur dari dalam hatinya


"maksudnya!!"


Cup


Cup


Ucapan intan terhenti kala bibirnya dibungkam oleh bibir wily tentu saja

__ADS_1


"maaaasss!!" intan tak terima ia menedang kaki wily dengam sepatu heelnya


"auuuu sayang!! Auuuuu sakit!" wily mengaduh dan mengusap sebelah kakinya dengan sedikit lebay


"mass sakit ya! aduh maaf mas. Kita kedokter ya?" intan mau menyentuh kaki wily


"auuu! Jangan dipegang. Mas yang salah maaf sudah menciummu! Mas pergi sekarang!" ucap wily sambil berjalan sedikit pincang


"mas! Tunggu!!" intan menarik tangan wily


Dan memeluk tubuh tinggi yang pelukabel milik wily


"sudah ngga apa-apa. Mas rasa kamu butuh waktu untuk berfikir lagi.


Mas ngga mau memaksa jika kamu memang sudah tak mau lagi kita bersama. Mas akan pergi jauh darimu dan tak akan mengganggumu lagi" wily sedang mencoba menggoyahkan intan


"aku.....aku


Aku" intan tak bisa melanjutkan ucapannya


"mas akan menunggu sampai kamu siap dan memutuskan jangan terburu-buru!" ucap wily lagi


"mas, aku ngga mau jauh darimu lagi. Jangan tinggalkan aku! Aku menderita setiap detik tanpamu!" intan meneteskan air mata yang ia pendam selama ini


"sayang! Jangan menangis. Maaf mas membuatmu menangis!" ucap wily memeluk erat tubuh intan yang menyembunyikan wajahnya dibalik dada bidang wily


"ngga mas, semua salah paham. Aku bodoh kenapa tidak jujur padamu. Maaf mas aku yang membuat semuanya kacau!" intan terus mengeluarkan isi hatinya


Wily melepaskan pelukannya dan menatap wajah istrinya.


Lalu diusapnya air mata yang masih menetes dipipi intan


Tak mau kalah dengan tangannya. Bibir wily juga ikut menyapa pipi merah intan


Mengecupnya dengan lembut


"ehemmmm! Waktunya habis. Intan hari ini kamu libur saja. Kalian tunggu dirumah setelah makan siang om pulang!" ucap pak doni yang sudah selesai dengan rapatnya


"baik om!" jawab wily senang


"tapi pak! Masih ada rapat!" intan mengusap air matanya dan memprotes ucapan pak doni


"kamu mau membantah bosmu! Sudah sana pulang temui tante kalian dan tunggu sampai om pulang!" tegas pak doni tak mau dibantah


"ayo sayang, kita turuti sebelum berubah pikiran!" ajak wily menarik tangan intan keluar ruangan pak doni


"astaga anak jaman sekarang. Ngga ada malu-malunya!" gerutu pak doni sambil menggeleng-gelengkan kepalanya merasa heran

__ADS_1


Wily yang dikenalnya dulu adalah sosok pendiam dan dingin. Sejak rumah tangga orang tuanya hancur


Wily harus mengambil alih tanggung jawab sebagai kepala keluarga dan tulang punggung


__ADS_2