Bukan Salah Cinta

Bukan Salah Cinta
Ben Damian Ezra


__ADS_3

"Kak Rangga?"


Dalam sepersekian detik jantung Cinta seakan berhenti berdetak, matanya membulat, mulutnya menganga, bahkan tubuhnya kini sulit untuk digerakkan.


"Benarkah itu kak Rangga?"


Pria yang mengenakan mantel panjang warna hitam itu kini melihat ke arah Cinta. Pria itu tersenyum. Senyum yang tetap mempesona seperti yang dikenalnya dulu. Pria itu melambaikan tangan dan mulai berjalan ke arah Cinta.


Cinta semakin tegang, bahkan dia merasa kini tubuhnya gemetar. Dadanya seakan sesak sampai dia merasa kesulitan untuk bernapas. Cinta ingin segera kabur dari tempat itu tetapi, kakinya seakan dipaku.


Bagaimana ini? Apa dia datang untuk mengambil Sunny? Apa yang ... apa yang harus aku lakukan? Cinta semakin panik. Dia menelan ludahnya berkali-kali.


Jarak mereka tinggal beberapa langkah lagi, Cinta memutuskan untuk pasrah dengan apa yang akan Rangga perbuat padanya. Dia sudah menyiapkan diri dan kata-kata yang akan dia ucapkan jika Rangga marah padanya dan menuntut Sunny.


Ya, Cinta sadar dia bersalah karena memisahkan ayah dari anaknya. Rangga berhak marah akan hal itu.


"Kak, aku ...." Ucapan Cinta terhenti karena ternyata pria itu tidak berhenti, dia melewati Cinta begitu saja. Kelopak mata Cinta mengerjap beberapa kali, tak percaya atas apa yang dilihatnya barusan. Pria itu melewatinya tanpa meliriknya sedikit pun.


Ini di luar dugaan Cinta. Sungguh. Tidak seperti yang Cinta bayangkan. Pria itu mengabaikan Cinta. Dia berlalu begitu saja. Bagaimana bisa?


"Tuan Ben?" sapa seorang pria yang berdiri di belakang Cinta.


"Ya betul," jawab pria itu tersenyum manis.


Cinta menautkan kedua alisnya dan memutar tubuhnya ke arah mereka. Dia melihat pria yang memanggil nama Ben itu sedang memegang kertas karton berukuran besar yang bertuliskan,


"Selamat datang Tuan Ben Damian Ezra."


Cinta mematung demi mengamati kedua pria di hadapannya kini.


"Selamat pagi Tuan Ben, selamat datang di Bali," sambut pria yang memegang karton itu.


"Selamat pagi, terima kasih sudah menjemputku." Pria yang bernama Ben itu kembali tersenyum ramah.

__ADS_1


"Sudah tugas saya, Tuan." Pria yang memegang karton itu mengangguk hormat. "Bagaimana Tuan, apa Tuan ingin saya antar sekarang ke hotel?" Pria yang membawa kertas karton mengambil alih koper di tangan pria yang dipanggil Ben.


"Boleh, aku ingin istirahat dulu sebelum pesta nanti malam."


"Baiklah Tuan, mari saya antar." Pria yang membawa kertas karton menuntun Ben keluar dari bandara.



Sementara Cinta masih terpaku ditempatnya, memandang sosok kedua pria tadi terutama pria yang dipanggil Ben.


Ben Damian Ezra? batin Cinta.


Wajah yang sama, mata, hidung, bibir, bahkan senyum yang sama juga. Benar-benar mirip kak Rangga. Bahkan mereka terlalu mirip untuk disebut orang yang berbeda.



"Cinta!" Tepukan di bahu kirinya menyadarkan Cinta dari lamunannya.


"Om Davin!" pekik Cinta saat melihat pria paruh baya yang tanpa dia sadari sudah berdiri di sebelahnya.


"Ah tidak Om, aku hanya ... hanya melihat seseorang," jawab Cinta gelagapan.


"Siapa? Apa seseorang yang kamu kenal?" Davin mengarahkan pandangannya ke arah pandangan Cinta tadi.


"Tidak Om, aku salah lihat tadi. Mereka hanya mirip." Cinta terlihat kecewa.


Kenapa? Kenapa Cinta harus kecewa? Bukankah ini bagus untuknya? Pria itu adalah orang lain, bukan Rangga seperti yang dia duga sebelumnya.


...****************...


"Hah! Ayahmu itu dari dulu memang tidak berubah ya," gumam Davin saat dirinya dan Cinta sudah berada di dalam mobil.


"Tidak berubah gimana maksudnya, Om?" Cinta melirik Davin yang duduk di sebelahnya sekilas, lalu kembali fokus pada jalanan di hadapannya.

__ADS_1


"Ya tidak berubah, masih irit bicara seperti dulu." Davin terkekeh pelan karena ucapannya sendiri.


Cinta tersenyum simpul, "Ya begitulah ayah, Om. Orang mengenal sosoknya, 'kan karena irit bicaranya itu."


"Hm, iya juga. Sifatnya tidak berubah, begitu juga cintanya untuk ibumu. Aku masih ingat bagaimana frustasinya dia saat ditinggal ibumu." Pandangan Davin menerawang.


"Oh ya? Jadi, Om tahu soal itu?" Cinta kembali melirik Davin sekilas sebelum kembali fokus menyetir.


"Tentu saja om tau. Ayahmu dan sekretarisnya itu meneror om tiap menit. Mereka terus menelpon, mengira om yang menyembunyikan ibumu." Davin tertawa pelan mengingat kenangan itu.


"Iyakah?"


"Hm, begitulah kegilaan ayahmu. Dia lebih gila saat ditinggalkan ibumu daripada saat ditinggal Laura." Davin mengatur napas sebentar. "Tapi, sekarang aku bahagia melihat mereka. Mungkin itulah yang disebut jodoh, itulah yang disebut cinta sejati. Semesta akan selalu punya cara untuk menyatukan mereka kembali." Davin tersenyum ke arah Cinta dan mengusap kepala Cinta.


Sementara Cinta tampak tertegun setelah mendengar ucapan terakhir Davin. Jodoh? Cinta sejati? Mungkinkah dia masih punya kesempatan mendapatkan semua itu?


"Nanti malam jangan lupa datang ke pesta. Om dan keluarga om, sangat menunggu kedatanganmu," ucap Davin sebelum turun dari mobil Cinta. Mereka sudah sampai di salah satu hotel milik Davin yang terletak di daerah Kuta. Tidak jauh dari bandara. Davin memang meminta Cinta mengantarnya ke sana karena dia ingin mengecek segala persiapan untuk pestanya malam nanti.


"Tentu saja, Om. Aku pasti akan datang," jawab Cinta tersenyum sumringah. Apa pun yang Davin katakan, tentu dia tidak berani menolak. Davin sudah seperti ayahnya sendiri. Pria itu adalah sahabat ayahnya juga orang yang melindungi dan mengurus segala keperluannya selama lima tahun ini.


"Dandan yang cantik karena kamu akan bertemu jodohmu nanti malam." Davin menyunggingkan sudut bibirnya.


"Hah?" Cinta menatap lekat mata Davin, mencoba menyelami maksud ucapan pria itu tadi.


"Hahaa, kenapa wajahmu jadi pucat begitu? Aku hanya berharap kamu bisa menemukan jodohmu nanti di pestaku. Aku sudah mengundang para pengusaha-pengusaha muda dan sukses. Mereka sangat cocok untuk menjadi ayah buat Sunny."


"Haish, Om ini ada-ada saja," sungut Cinta.


"Hahaaa, sudahlah, om mau masuk dulu. Ingat dandan yang cantik! Kamu adalah putriku sekarang." Davin kembali menekankan ucapannya.


"Baiklah, aku tidak akan mempermalukanmu, Om." Cinta menjawab dengan setengah bergurau.


Ayah untuk Sunny? Haruskah aku mulai memikirkan itu sekarang?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2