
Anin berlalu begitu saja, ia berjalan kesisi ranjang. Matanya melihat pas foto yang Ocha pegang tadi, itu adalah foto mereka bertiga. Mata Anin kembali berembun, dengan cepat Anin mengalihkan pandangan nya berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar.
"Maafin gue Nin..." Ucap Ocha tulus.
Anin menghela nafas nya, ia berbalik melihat kearah Ocha yang masih berdiri ditempatnya.
"Minta maaf buat apa?" Ujar Anin pura-pura tidak mengerti arah pembicaraan Ocha.
Ocha melihat Anin yang tampak biasa-biasa saja, "Kemarin Lo kerumah gue kan, Lo ke kamar gue kan?" Tanya Ocha beruntun.
"Ya. Lalu? O apa Lo juga masuk kemar gue sekarang, karna kemarin gue juga masuk kemar Lo tanpa izin..." Ucap Anin sinis.
"Enggak bukan itu maksud gue Nin, apa Lo-- Lo liat sesuatu dikamar gue?" Ucap Ocha ragu.
"Sesuatu apa?" Balas Anin menaikan sebelah alis nya.
Ocha jadi bingung, apa Anin sungguh tidak tau atau hanya pura-pura?
"I--itu..." Ucap Ocha tergagap.
"Apa? Kenapa, Lo nyembunyiin sesuatu dari gue?" Ucap Anin dengan jarak semakin dekat dengan Ocha.
Ocha membeku, tubuhnya menegang. Menatap Anin intens.
"Ada apa Cha? Ada yang mau Lo omongin sama gue?" Ucap Anin menatap Ocha serius, Anin berharap Ocha akan mengatakan semuanya.
Tatapan mereka beradu, Anin menatap Ocha dengan tatapan yang sulit di artikan sedang Ocha tengah mencari sesuatu dari mata Anin.
"Apa Anin sungguh tidak tau apa-apa? Mungkin saja Anin memang tidak melihat foto Bastian dan Vina, kemarin" Batin Ocha resah.
Lalu ia harus apa sekarang? Apa Ocha katakan saja apa yang sebenarnya terjadi antara Bastian dan Vinara.
Anin menunggu jawaban Ocha, Anin berharap Ocha akan mengatakan segalanya.
"Gue mohon Cha, katakan! Tolong jangan rusak kepercayaan gue terhadap Lo, Cha!" Batin Anin penuh harap.
"Iya Nin, ada yang ingin gue katakan sama Lo. Tapi gue mohon Lo jangan marah sama gue ya?" Ucap Ocha yakin.
Ocha berpikir Anin memang harus mengetahui segalanya, ini adalah hidupnya. Ocha juga tidak maj melihat Anin hancur, mungkin ini saat yang tepat. Ocha tidak ingin semuanya terlambat, hingga membuatnya menyesal di kemudian hari.
"Kalo Lo jujur, gue gak akan pernah marah sama Lo Cha. Jadi, kalo ada yang ingin Lo katakan. Katakan sekarang!" ujar Anin ia ingin Ocha cepat mengatakan segalanya.
Walaupun Anin sudah tau, namun itu baru sebagian Anin ingin tau segalanya dan ia berharap Ocha lah yang mengatakan nya.
"Nin... Sebenarnya..."
"Hy guys...." Pekik Vina yang muncul dari balik pintu kamar Anin.
Anin dan Ocha terkejut mendapati Vina tiba-tiba ada dirumahnya. Anin harus menelan kekecewaan lagi, karna ia tidak bisa mendengar kebenaran dari Ocha. Namun, tatapan nya beralih pada perut rata Ocha.
__ADS_1
Vina masuk dengan senyuman mengembang. Ia mendekati ke arah Ocha, Vina menatap Ocha sebentar kemudian ia memutar bola matanya, kini tatapannya beralih pada Anin yang kini posisinya berada dibelakang Ocha.
"Hy calon pengantin... Wah makin cantik aja nih, baru dari salon ya?" Ujar Vina mendekati Anin.
Anin mendelik menatap Vina, "Ko Lo tau?"
"Rambut Lo wangi shampoo salon" ujar Vina dengan kekehan nya.
Anin tersenyum tipis menanggapi ucapan Vina, "Lo datang ke sini kok gak ngasih tau gue?" Ujar Ocha tiba-tiba, wajah nya tampak kesal.
"Kenapa gue harus ngasih tau Lo? Emang Lo ngasih tau gue, kalo Lo juga mau kesini?" Timpal Vina sinis.
Ocha merapatkan bibirnya, namun tidak dengan matanya. Ocha dan Vina saling menatap, namun kali ini tatapan mereka nampak tak bersahabat.
"Huhf!" Anin menghembuskan nafas kasar, "Kalian berdua lanjutin aja, gue mau ganti baju dulu" Anin mengambil baju dari dalam lemari kemudian masuk ke kamar mandi.
Setelah memastikan Anin masuk ke kamar mandi, Vina berjalan mendekati Ocha ia menatap Ocha tajam.
"Apa yang kalian bicarakan tadi? Lo mau ngasih tau Anin apa, tentang kehamilan gue iya?" Tanya Vina nyolot, dengan nada suara rendah namun tegas.
"Lo apaan sih, nuduh orang sembarangan" balas Ocha tak suka.
"Gue denger Cha. Lo mau ngasih tau Anin sesuatu kan tadi, dan gue yakin. Lo mau bilang tentang kehamilan gue sama Anin kan?"
Vina belum menyadari jika Ocha mengambil fotonya dan Bastian, Vina juga tidak tau jika sebenarnya Ocha sudah mengetahui pengkhianatan nya.
"Ya. Gue mau ngasih tau Anin tentang Lo, gue gak mau bohongin Anin lagi" menatap Vina tajam.
Vina berpikir maksud Ocha adalah tentang kehamilan nya, ia tidak sadar dengan kata yang Ocha ucapkan.
Ocha berusaha menahan amarahnya, Vina benar-benar berbeda dia bukan sahabat yang ia kenal dulu. Ocha menatap Vina jengah,
"Ratu drama!" Batin Ocha.
Vina ingin menghancurkan Anin, dia tau jika Anin menikah dengan Bastian maka hidup Anin akan hancur. Anin akan menderita, dan itulah yang di inginkan Vina.
Obrolan Vina dan Ocha terhenti saat Anin keluar dari kamar mandi. Mereka di minta turun untuk makan, setelah selesai dengan acara makan-makan. Ketiganya memilih duduk di gazebo dekat kolam renang, mereka duduk bersantai di sana.
Jika dilihat mereka bertiga nampak baik-baik saja, namun siapa sangka jika kini mulai ada jarak diantara mereka. Ketiganya bersikap biasa-biasa saja, walaupun sebenarnya terjadi perang dingin di antara ketiganya.
Sungguh, sesungguhnya Anin malas harus terus-terusan bersikap seperti orang bodoh. Namun, ia harus tetap tenang dan berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja didepan Ocha dan Vina.
"Ekhem!" Gumam Anin memecah keheningan.
Vina dan Ocha, melirik Anin bersamaan. Karna posisi Anin duduk di tengah.
"Malam ini cerah ya?" Ucap Anin, pandangan Vina dan Ocha menengadah ke atas.
"Hm..." Gumam keduanya bersamaan.
__ADS_1
"Gue masih gak nyangka, kalo lusa gue bakal jadi istri Bastian" Ujar Anin, tak terlihat eksfresi bahagia di wajahnya.
Ocha melirik Anin dengan penuh penyesalan, sedangkan Vina menatap Anin tak suka. Anin sadar jika kedua sahabatnya tengah menatapnya, namun Anin bersikap seolah ia tidak menyadari itu.
"Kalian pasti tau kan ini adalah impian gue sejak lama menikah dengan Bastian. Kalian tau gak, sebelumnya gue selalu merasa kalau gue adalah wanita yang paling beruntung dan bahagian di dunia ini," Anin menarik nafasnya panjang.
"Tapi... Entah kenapa akhir-akhir ini gue merasa ada sesuatu yang mengganjal disini," Anin memegang dadanya, "Kalian taukan gue gak suka pengkhianat? Tapi, gue merasa ada yang dia rahasiakan dari gue" Sambung Anin.
Ocha menatap Anin sendu, sedang Vina tersenyum tipis nyaris tak terlihat.
"Gue juga gak nyangka, ternyata diantara kita bertiga... Lo yang nikah duluan," Ucap Vina, kembali menatap pantulan bulan dari air kolam.
Anin tersenyum lembut, "Lo bener, dulu gue sempet berpikir Ocha yang bakal nikah duluan..." Menatap Ocha teduh.
"Iya, secara dia kan playgril" timpal Vina, merekapun tertawa bersama.
"Puas Lo berdua ngetawain gue?!" Ocha beranjak, ia berdiri tepat di depan Anin dan Vina yang tengah duduk seraya berkacak pinggang.
"Awas ya... Nih rasain," Ocha menggelitik keduanya.
"Ah Cha ampun..." Pekik Anin dan Vina, Anin menghindar ia sedikit menjauh.
Anin melihat Ocha tengah menggelitiki Vina, mereka tampak bahagia dengan tawa menghiasi keduanya. Namun, berbeda dengan Anin rasanya ia ingin berteriak dan menangis dengan keras.
Ia menyayangi kedua sahabatnya, Anin tidak rela jika ia harus kehilangan teman sekaligus saudarinya. Tapi Anin juga tidak bisa menerima semua pengkhianatan ini, jujur Anin sangat merindukan momen seperti ini.
Dulu saat mereka masih SMA, mereka sering melakukan hal ini. Bahkan mereka mengatakan banyak hal, dan yang paling Anin ingat adalah saat mereka mengatakan. Jika diantara mereka ada yang menikah lebih dulu, maka dua sahabatnya lah yang harus mengantarnya langsung pada laki-laki yang akan menjadi suami mereka.
Tanpa sadar air mata Anin mengalir, "Hiks.." Anin menunduk ia menghapus air matanya cepat, saat Vina dan Ocha melirik ke arahnya.
Ocha dan Vina menghampiri Anin, "Lo kenapa? Ko Lo nangis?" Tanya Ocha khawatir.
"Iya Nin, Lo kenapa?" Ulang Vina.
Anin menatap kedua sahabtnya bergantian, "Cha... Vin, sebelum gue menikah boleh gak gue minta sesuatu dari kalian?" Pinta Anin lirih.
"Tentu..." Balas Ocha menganggukan kepalanya.
"Lo mau minta apa? Bilang sama gue, gue bakal kasih apapun yang Lo mau" Ucap Vina heboh.
Anin menggeleng cepat, "Gue cuma mau minta satu hal sama kalian berdua," kedua nya menatap Anin serius menunggu ucapan Anin selanjutnya.
"Kalian... Gue mau kalian jujur, tolong jangan sembunyikan apapun dari gue. Mungkin kalian berdua tidak mengenal gue, tapi gue sangat mengenal kalian. Gue tau kalian sedang menyembunyikan sesuatu dari gue, iya kan?" Ucap Anin dengan suara bergetar.
Ocha dan Vina saling menatap, Ocha yang memang ingin mengatakan segalanya pada Anin sejak tadi mengaguk pelan, sedang Vina menggeleng kepalanya pelan. Ia meminta agar Ocha tidak mengatakan apapun pada Anin.
...****************...
Kira-kira Ocha bakal ngomong gak nih? Yuk jawab di komen ya🤗
__ADS_1
Jangan lupa Like and Vote nya, O iya tabur mawarnya juga ya... Biar Author semangat nanti ke episode selanjutnya😁