
Pintu ruangan Anin terbuka, semua mata tertuju ke arah suara dan menampakkan Bastian berdiri dengan tatapan tertuju pada Anin.
Sarah mendekat, "Kamu dari mana saja Bastian?!" Ucap Sarah sangat pelan, namun terdengar tegas.
"Kita bicara nanti Mih, aku ingin melihat Anin" jawab Bastian, tatapan nya tak teralihkan dari wanita yang tengah terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit.
Sarah mengerti, ia memberi kode pada suaminya untuk menunggu di luar. Tuan Dewillson mengerti ia mendekati putranya, menepuk bahu Bastian tatapan nya datar. Bastian mengerti orang tuanya pasti kecewa padanya, mereka keluar dari ruangan Anin.
Bastian mendekati ranjang tempat Anin berbaring, rasa sedih dan prihatin menyeruak dihatinya. Bagaimana Anin bisa seperti ini? Dan, bodoh nya ia disaat Anin tengah berada dirumah sakit. Ia malah tidak tahu apa-apa!
"Tante tunggu di luar ya, kalau ada apa-apa panggil aja..." Ucap Alin berlalu pergi, memberikan ruang untuk Bastian.
Kini di ruangan itu hanya ada Bastian dan Anin yang masih nyaman dengan tidurnya. Bastian duduk di kursi samping ranjang Anin, ia menggenggam sebelah tangan Anin. Memperhatikan keadaan Anin dengan selang infus ditangan dan NGT yang terpasang di hidung Anin.
Sakit, rasanya melihat Anin berbaring lemah seperti ini. Ada rasa sesal dihati nya, ia juga marah pada dirinya sendiri. Hanya demi menutupi rahasianya, ia melupakan Anin wanita yang ia cintai.
"Apa yang terjadi pada mu sayang?" Ucap Bastian lirih dengan suara bergetar.
"Maafkan aku! Aku tidak bisa menjaga mu, aku tidak pernah ada di saat kamu membutuhkan ku. Ku mohon bangun, Nin. Aku gak bisa melihat mu seperti ini, dan jika bisa tolong maafkan aku!" Bastian mencium punggung tangan Anin, menyimpan tangan pucat itu di pipinya yang basah.
"Aku emang bukan laki-laki yang baik Nin, aku sudah menyakitimu dengan mengkhianati kamu. Dan, aku pengecut aku gak bisa jujur sama kamu, aku udah egois dengan membuat kamu selalu menjadi milik ku. Dan, aku malah menutupi pengkhianatan ini dengan kebohongan. Maafkan aku Nin! Semoga kamu bisa mengerti kenapa aku melakukan ini sama kamu..." Bastian berbicara sendiri seraya mengusap-usap pipi Anin.
Bastian selalu berpikir jika yang ia lakukan sekarang adalah benar, namun ia tidak sadar jika apa yang ia lakukan sekarang akan semakin membuat Anin terluka.
Tanpa Bastian sadari buliran bening meluncur dari ujung mata sebelah kanan Anin yang masih tertutup. Anin memang belum sadar, tapi mungkin telinganya mendengar setiap kata yang di ucapkan Bastian. Walau ketika ia bangun ia tidak akan mengingatnya.
......................
Di tempat lain Derald tengah berbicara empat mata dengan Nichol. Ia mencari tau apakah kejadian kemarin murni kecelakaan atau ada seseorang yang merencanakan.
"Jadi, kemarin itu murni kecelakaan. Para pengganggu itu bukan orang suruhan?" Ucap Derald menegaskan apa yang Nichol katakan.
"Bukan. Mereka bukan suruhan seseorang, mereka emang biang onar yang selalu mengganggu wanita yang melewati wilayah itu" ujar Nichol menjelaskan informasi yang ia dapat.
Derald tampak berpikir, "Jadi, dugaan gue salah kali ini!" Gumam Derald.
Saat kejadian di puncak, Derald meminta Nichol untuk mencari tau siapa penjahat yang hampir melecehkan Anin waktu itu. Nichol memang berhasil menangkap salah satu dari mereka, dan ia mendapat informasi jika mereka melakukan itu karna disuruh seseorang.
Namun, mereka tidak mendapatkan informasi tentang siapa yang menyuruh mereka karna hanya bos penjahat itu yang tau identitas si penyuruh, sedangkan dia berhasil melarikan diri. Derald dan Nichol hanya tau si penyuruh itu adalah seorang wanita.
__ADS_1
Derald hanya curiga kejadian yang menimpa Anin kemarin itu juga direncanakan, namun ternyata ia salah kali ini. Akhirnya, Derald pun menyerahkan kedua pengganggu itu kepada pihak kepolisian sepenuhnya.
Tiba-tiba Derald teringat pada Anin, ia menelpon Mommy nya untuk mencari tau keadaan Anin sekarang.
"Hallo Mom," sapa Derald.
"Ya, Derald..."
"Maaf Mom, Derald ganggu. Derald cuma mau tanya gimana keadaan Anin, apa ada perkembangan?" Tanya Derald ragu-ragu.
Tamara tersenyum, "Ya, kondisi Anin sudah mulai stabil. Suhu tubuhnya sudah mulai ada peningkatan" ujar Tamara.
Hening sesaat, "O iya, Mommy mau minta tolong. Nanti kamu tolong jemput Citra ya! Hari ini Citra ada les jadi pulangnya sore, kamu telpon dia aja ya!" Ucap Tamara.
"Emang Citra gak bawa mobil?" jawab Derald malas.
"Kamu tau kan, kalo ada Daddy mana berani dia bawa mobil sendiri..." Jawab Tamara, Derald menghela nafas kasar.
"Udah dulu ya, Mommy masih banyak kerjaan nih"
"Iya Mom, makasih infonya. Bye..." Derald menutup telfon nya, setelah mendapat jawaban di sebrang sana.
"O iya Pah. Tadi pagi, Papi Mami nya Bastian kesini, mereka jengukin Anin" membuka pembicaraan.
Adrian mengangguk, "Lalu Bastian?"
"Bastian juga kesini, cuma tadi siang Bastian pamit katanya ada masalah di kantor. Tapi dia bilang malam ini Bastian bakal kesini lagi, jagain Anin" Ucap Alin menjelaskan.
Adrian menaggapi dengan santai, ia mendekati Anin mengusap lembut rambut panjang Anin.
"Kapan kamu bangun Dira? Sudah terlalu lama kamu tertidur, Papa merindukan mu nak. Cepat bangun ya sayang... Cup" Adrian mencium kening Anin sayang, menyusut cairan yang keluar dari sudut matanya.
Alin melihat penuh haru, ia juga mencemaskan putrinya. Namun, ia yakin sebentar lagi Anin pasti sadar.
Sore berganti gelap, cahaya matahari sudah berganti menjadi cahaya bulan. Langit juga sudah dipenuhi bintang berkelap-kelip, Tamara masuk ke ruangan Anin kembali memeriksa keadaan Anin, sebelum ia pulang.
"Gimana Ra? Apa ada masalah, kenapa Anin belum sadar juga?" Tanya Alin cemas.
"Kamu tenang aja, aku yakin bentar lagi Anin bakal sadar. Suhu tubuhnya sudah kembali normal, keadaan nya sudah lebih baik sekarang.." Terang Tamara, tersenyum lembut.
__ADS_1
Belum selesai Tamara berbicara dengan Alin dan Adrian. Anin mengerjap- ngerjap matanya, menyesuaikan dengan cahaya lampu diatasnya. Anin melihat Mama Alin walau masih tampak kabur.
"Mama..." Ucap Anin lirih.
Semua mata tertuju pada Anin, yang kini sudah membuka matanya sempurna.
"Sayang, kamu udah sadar nak?" Alin mendekati Anin, mengusap lembut rambut Anin.
Anin menatap ketiga orang didepan nya datar, ia masih belum bisa memahami keadaan nya. Anin menyapu sekitar yang nampak asing baginya, ia yakin jika ini bukan lah kamarnya.
"Ini dimana Mah?" Tanya Anin serak, kening nya berkerut.
"Kamu di rumah sakit sayang..." Jawab Alin lembut.
"Rumah sakit?" Ulang Anin, ia mengingat apa yang sudah terjadi padanya.
Beberapa kejadian saat dirinya di ganggu dua orang pria yang memaksanya, lalu kedatangan Derald dan Nichol yang menolongnya. Anin juga ingat saat ia jatuh dan Derald menggendong nya masuk ke dalam mobil, kemudian sayup Anin mendengar kata rumah sakit dan ia juga ingat jika ia sempat menolak untuk di bawa ke rumah sakit. Namun, setelah itu ia tidak mengingat apapun lagi.
"Syukur lah sekarang kamu sudah sadar. Bagaimana apa ada yang sakit? Apa kepala kamu pusing?" Tanya Tamara.
Pandangan Anin teralih pada wanita berseragam Dokter disamping nya, "Tante Tamara?"
"Iya, sayang ini Tante. Gimana apa ada yang sakit?" Tanya Tamara lagi, Anin menggeleng pelan.
"Kepala kamu pusing gak?" Menatap Anin teduh.
Anin mengangguk kecil, "Sedikit..." Jawab Anin dengan suara hampir hilang.
Tamara tersenyum manis, "Gak papa, itu karna kamu tidur terlalu lama. Nanti Tante resep kan obat buat kamu ya"
"Makasih Tante..." Ucap Anin tersenyum manis.
Melihat Anin sudah sadar dan baik-baik saja, membuat semua orang terlihat bahagia dan merasa tenang sekarang. Tamara pergi dengan perasaan bahagian, senyuman terukir di bibirnya.
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yađ¤ Terimakasih....
Next episode BSCâ¤ď¸
__ADS_1